Raibnya Uang Desa Sinar Hadigala, Dari Bank Ke Rumah Kades Hingga Aksi Buka-Bukaan Mantan Bendahara

Rafael Hali Luron, Mantan Bendahara Desa Sinar Hadigala.Foto : BNN/ Emnir

Tanjung Bunga/BaliNewsNetwork.com- Rafael Hali Luron, Bendahara Desa di Desa Sinar Hadigala, Kecamatan Tanjung Bunga,Kabupaten Flores Timur-NTT,tak pernah membayangkan bakal menelan pil pahit usai bersama Kepala Desa,Siprianus Keladu Kelen melakukan penarikan Dana Desa Tahap II dan III Tahun Anggaran 2017 silam. Jabatannya pun tercabut. tak lama berselang dari penarikan dana itu.

Sudah jatuh,tertimpah tangga pula,demikianlah mantan bendahara itu kemudian diharuskan untuk bertanggungjawab atas kehilangan uang desa sebesar Rp 25.085.700. Padahal, Rafael Hali Luron sama sekali tidak mengetahui dari mana  riwayat munculnya angka tersebut.

Yang dia ketahui adalah lecutan tudingan tanpa sebab yang dilontarkan Kades Sipri Keladu Kelen terhadapnya,bahwa dirinya telah menyebabkan minus anggaran disaat mereka mendistribusikan anggaran  (sebagaimana SPP ) yang bersumber dari Dana Desa tahap II dan III serta sisa ADD tahap I,II dan ADD tahap III dan IV Tahun Anggaran 2017 yang barusan ditarik oleh Rafael dan Kades Sipri Keladu Kelen itu.

Rafael justru baru mengetahui hal itu sewaktu dirinya mendatangi kantor desa untuk menyerahkan (mengembalikan)  Buku Bank dan Laptop yang dikuasainya selama  masih menjabat.

Maksud hati mengembalikan Buku Bank dan Laptop, Rafael dikedatangannya  itu, justru mendapat sodoran  lembaran Pernyataan Kesanggupan Mengembalikan uang yang kemudian santer tersiarkan telah hilang itu. Nominalnya pun tersebut jelas di situ,Rp  25.085.700 !

Kaget terhadap pengkondisian tersebut,pertanyaan Rafael tentang seluk beluk pernyataan itu, pun tidak mendapat penjelasan apapun dari perangkat desa yang hadir.

Dirinya hanya mendengar kalimat yang terucap oleh Pendamping Dana Desa Kecamatan Tanjung Bunga sebelum meninggalkan Kantor Desa,”Pak Sekdes, saya sudah tahu persoalan ini,harap segera selesaikan secara internal !”

Apakah pengkodisian  Pernyataan Kesanggupan Membayar atau  Mengembalikan itu , berhubungan erat dengan kisah pembagian anggaran di rumah Kades Sipri Keladu Kelen, pasca penarikan 324 juta lebih  Dana Desa dan ADD tahap III dan IV serta sisa ADD tahap I dan II itu?

Mendasari pada catatan-catatan peninggalan BPD sebelumnya,  barisan Petrus Sadi Sogen (Ketua BPD baru) ,lantas memburu  misteri raibnya dana sebagaimana yang tercatat pada dokumen BPD itu. Alhasil,misteri yang tersimpan manis sejak Tahun 2017 itu pun dibuka mereka dalam forum rapat desa bertajuk rapat klarifikasi  di 25 Agustus 2021.

Kepada  wartawan, Kamis (30/9), Ketua BPD, Petrus Sadi Sogen, dan beberapa warga yang hadir dalam pertemuan klarifikasi tersebut mengisahkan, di ruang rapat tersebut, Rafael Hali Luron (mantan Bendahara) membentangkan secara detail dari kisah perjalanan pencairan hingga pembagian untuk setiap pos di rumah Kades, hingga berbuntut pada pernyataan kekurangan uang yang terlontar oleh Kades mereka.

Lantas bagaimana kisah itu?

Rafael Hali Luron, mantan bendahara yang dikonfirmasi secara terpisah, pun mengakui kalau dirinya telah membentangkan semua kisah itu secara detail dalam rapat klarifikasi yang diselenggarakan pihak BPD di tanggal 25 Agustus 2021.

“Maaf, Pak,saya sudah lupa hari dan tanggalnya. Maklum peristiwa itu terjadi di Tahun 2017. Waktu itu, saya bersama Pak Kades melakukan penarikan Dana Desa tahap II dan III,bersamaan dengan sisa ADD tahap I dan II serta ADD Tahap III dan IV.Totalnya sekitar 324 juta lebih. Angka pastinya saya sudah tidak ingat lagi. Setelah penarikan dari bank, kami lalu pulang ke desa kami. Sekitar pukul 14.00 wita, kami tiba di rumah Pak Kades. Hadir pula beberapa perangkat desa di situ.Saya duduk  sebentar,lalu bersama seorang teman  perangkat desa,kami ke rumah saya untuk mengambil buku kas sebagaimana yang diarahkan  Pak Kades bahwa buku kas tersebut terlebih dahulu diperiksa untuk selanjutnya di malam nanti,kami langsung atur pembagian  dana itu ke pos-pos-nya,di rumah Pak Kades. Tas uang itu, saya tidak bawa ke rumah, saya letakan di rumah Pak Kades.”tutur Rafael mengawali kisah sekembalinya mereka di penarikan dana desa tersebut.

Sambil menikmati kopi dan sarapan di rumah Rafael, istri Rafael langsung menanyakan keberadaan tas yang biasa digunakannya disetiap urusan penarikan uang itu.Rafael pun menjawab kalau tas tersebut ada di rumah Kades.

Tak sedikitpun pikiran buruk yang terlintas dibenaknya, lantaran di sana  ada Kades bersama  perangkat desanya lainnya. Namun istri Rafael terus mengocehnya : Ai kamu boleh bilang begitu, namun dikemudian hari bila ada apa-apa, kamu akan disalahkan !

“Istri saya lantas mengarahkan kami  agar makan cepat-cepat, dan segera kembali ke rumah Pak Kades.Setelah itu,kami pun kembali ke rumah Pak Kades,dengan membawa serta buku kas.Setibanya di sana, kami duduk sedikit. Tak lama kemudian, Pak Kades memandu saya untuk membagikan uang yang tadi kami cairkan itu, tanpa melakukan pemeriksaan buku kas.Di pertengahan proses pembagian itu, Kades bertanya kepada saya, apakah uang di tas itu masih ada atau  tidak ? Saya pun menjawab tinggal sedikit.Mendengar jawaban saya itu, dia langsung menuding saya, kalau uang tersebut minus sekitar  seratus juta lebih.Saya kaget, dan munculah perdebatan di antara kami.Saya bilang, jujur, saya tidak ambil uang itu ! Kalau Pak Kades meragukan kejujuran saya, ayo,mari kita sama-sama cari orang pintar.Kita jalan sama-sama ke orang pintar,dan minta dia lihat,siapakah yang telah mengambil uang itu !” tandas Rafael.

Lanjutnya, disaat perdebatan itu, tiba-tiba,Kasie Pembangunan melempar segepok uang ke Rafael sambil berujar,ini , main gila saja.Rafael terkaget menyaksikan hal itu.

“Saya kaget,darimana dia dapatkan uang itu kalau bukan dari dalam tas saya ? Melihat hal itu,saya pun bilang,kalau begini,tidak bisa ! Kades malah bilang , abang,engkau jangan kuatir.Di kemudian hari,engkau  tidak akan min (minus).Saya bahkan minta agar jangan lanjutkan pembagian,namun lagi-lagi kades menenangkan saya dengan kalimat tadi.Dan kalimat kades itu yang saya pegang,apa maksudnya bilang begitu?” sergah Rafael.

Dari mana riwayatnya sampai diketahui nominal yang hilang itu Rp 25.085.700 ?

Rafae Hali Luron serta merta menegaskan temuan tersebut diinformasikan kepadanya setelah dirinya berhentikan dari jabatan Bendahara Desa. Lebih kagetnya lagi,kalau dirinya diminta untuk menggantikan  nominal yang hilang itu.

“Selama saya menjabat sebagai Bendahara,buku kas mereka yang bikin.Bukan dari saya ! Mereka yang buat semuanya itu.Anehnya,ketika kades suruh saya ambil buku kas yang katanya biar diperiksa dulu, ternyata buku kas tersebut tidak pernah diperiksa.Kades malah langsung memandu saya untuk membagikan ke pos-pos sebagaimana yang diarahkan Kades.”ujarnya  menahan geram sembari  menegaskan tidak pernah ada serah terima jabatan darinya ke bendahara baru .

Walau membenarkan kisah penarikan dan pembagian tersebut di rumahnya,namun Kades Sipri Keladu Kelen tatkala dikonfirmasi wartawan secara tegas membantah kalau kehilangan tersebut terjadi dirumahnya.

Kehilangan itu justru diketahuinya dari Surat Pernyataan Kesanggupan Mengembalikan yang tertandatangi oleh mantan bendaharanya itu.

“Saya mengetahuinya dari Surat Pernyataan yang dia sendiri tandatangan itu.Saya malah kaget,setelah itu tersiar kabar,kalau uang tersebut hilang di rumah saya.Saya yang ambilkah? Atau istri saya yang ambil kah? Sehingga ketika pihak BPD berkoordinasi terkait rencana gelar rapat klarifikasi yang salah satu pointnya tentang persoalan ini,saya sangat mendukung,lantaran uang yang hilang itu  adalah uang desa,uang masyarakat Sinar Hadigala.Dan dalam rapat klarifikasi itu,saya yang minta agar dilakukan sumpah adat.Bahkan saya minta,istri saya pun turut serta dalam sumpah adat itu.Walau nyawa taruhannya,kami siap untuk mengikuti ritual sumpah adat itu.Dan  kami telah laksanakan sumpah adat itu,walau istri saya tidak diperkenankan oleh Ketua BPD.Katanya istri tidak ada hubungannya dengan urusan Pemerintahan Desa. Dan kami telah menjalani sebagian limit waktu dari sanksi  sumpah adat itu. Waktu pembuktiannya 3 bulan !” ujar Kades Sipri Keladu Kelen tegasnya.

Pihak BPD Sinar Hadigala sebagaimana rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat klarifikasi  tersebut,pun akan melaporkan hal kehilangan tersebut ke pihak Penegak Hukum.* (Emnir). .

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment