Sebagian Dana Desa Sinar Hadigala Raib, Pemdes Jalani Sumpah Adat

Kepala Desa Sinar Hadigala,Siprianus Keladu Kelen didampingi Ketua BPD, Petrus Sadi Sogen saat memberikan penjelasan kepada wartawan di ruang pertemuan Kantor Desa Sinar Hadigala,Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur,-NTT, Kamis (30/9).Foto : BNN/ Emnir.

Tanjung Bunga/BaliNewsNetwork.com- Misteri raibnya sebagian dana desa di Desa Sinar Hadigala, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur-NTT pasca pencairan Dana Desa tahap II dan III di Tahun 2017 silam, berbuntut pada sumpah adat ! Sumpah adat tersebut diikuti oleh Kades Siprianus Keladu Kelen, mantan Bendahara, Rafael Hali Luron, Sekertaris Desa, Kaur Pembangunan, dan mantan Kaur Pembangunan.

Ruang pembuktian secara adat sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat itu pun telah dilaksanakan oleh tetua adat Sinar Hadigala di halaman Kantor Desa pada tanggal 1 September 2021.

Dikonfirmasi wartawan di aula Kantor Desa Sinar Hadigala, Kamis (30/9), terkait kisah raibnya dana desa senilai Rp 25.085.700 tak lama berselang pasca penarikan dana  dari bank, baik Kepala Desa  Siprianus Keladu Kelen dan Ketua BPD, Petrus Sadi  Sogen membenarkan telah terjadi ritual sumpah adat tersebut.

“Hingga terjadinya sumpah adat itu, berawal dari rapat klarifikasi yang digelar oleh BPD Sinar Hadigala di tanggal 25 Agustus 2021 lalu.BPD ini adalah BPD baru. Nah, salah satu point yang tergendakan  dalam rapat klarifikasi itu adalah soal kehilangan uang senilai  25 juta lebih itu. Dan di ruangan ini, dengan dihadiri oleh orang tua adat lewotanah , tokoh masyarakat, dan semua pemangku kepentingan, begitu banyak peserta yang hadir bahkan sampai diluar ruangan ini, Ketua BPD sebagai pimpinan rapat, berdasarkan masukan dan tanggapan forum, lalu memutuskan untuk menggelar sumpah adat, yang intinya untuk membuktikan siapa yang telah menghilangkan atau ambil  uang senilai 25 juta lebih itu. Jadwal pelaksanaan sumpah adat itu lalu ditentukan, dan telah terlaksana pula oleh orang tua adat kami, bertempat di halaman luar kantor ini dengan disaksikan begitu banyak warga, termasuk pihak Kepolisian dan Babinsa.Sanksi limitnya adalah 3 bulan. Nyawa taruhannya. Dan keseluruhan proses sumpah adat itu  berjalan aman dan damai.”tutur Kades Siprianus Keladu Kelen.

Senada Kades Sinar Hadigala, Petrus Sadi Sogen (Ketua BPD) meriwayatkan, dalam forum klarifikasi yang digelar pihaknya itu, terkisahkan pula kronologis  penarikan dana desa tahap II dan Tahap III Tahun Anggaran 2017 hingga terkagetnya mantan bendahara, Rafael Hali Luron, akan kekurangan uang  disaat pembagian dana tersebut  ke pos-pos berdasarkan SPP yang sudah terverifikasi oleh Sekertaris Desa.

Kondisi itu terjadi di rumah Kepala Desa,pada malam hari, setelah mantan bendahara desa tersebut bersama Kades, melakukan penarikan dana  di bank pada pagi-siang di kala itu.

“Dalam rapat klarifikasi itu,mantan bendahara mengisahkan secara detail kronologisnya dari penarikan uang hingga tiba di rumah kades yang kemudian berlanjut pada malam hari  mereka berkumpul lagi di rumah kades untuk membagikan dana tersebut ke pos-pos  sebagaimana SPP yang telah terverifikasikan itu.Termasuk pula,kisah ada perangkat desa yang melempar segepok uang tatkala dirinya sedang bingung diperhadapkan dengan kenyataan terjadi kekurangan uang  sebagaimana yang disampaikan kades kepadanya. Nah, mungkin Kades merasa tidak enak, lantas mengusulkan untuk diadakan sumpah adat.Dirinya bahkan menawarkan istrinya pun turut serta dalam sumpah adat itu, namun saya menolaknya, karena ini urusan pemerintah desa, tak ada kaitannya dengan istri Pak Kades. Dan berdasarkan masukan dan tanggapan forum, saya selaku pimpinan sidang klarifikasi itu, lalu memutuskan untuk melanjutkan  pembuktian itu melalui sumpah adat, dan juga merekomendasikan ihkwal kehilangan uang itu ke Aparat Penegak Hukum. Sumpah adat telah kami lakukan pada 1 September 2021 lalu.”ujar Petrus Sadi Sogen.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment