Soal IRT yang Diduga ‘Dicovidkan’, Kadis Kesehatan Bilang Harusnya Enggak Usah Ribut

Siti Herlina saat ditemui dikediamanny.(BNN/pro)

DENPASAR -Balinewsnetwork.com – Persoalan yang menimpa Ibu Rumah Tangga (IRT) di Denpasar, Siti Herlina yang merasa ‘dicovidkan’ oleh Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19 melalui pesan WhatsApp dari Kementerian Kesehetan (Kemenkes) hingga berita ini ditulis belum juga ada kejelasan. 

Pasalnya, bagaimana mungkin Kemenkes, melalui pesan WhatsApp itu bisa mengetahui data kesehatan dari Siti Herlina. Celakanya lagi, data yang dimiliki Kemenkes sebagaimana dalam pesan WhatsApp itu ternyata tidak sesuai dengan hasil test rapid atigen Siti Herlina. 

Seperti diketahui, hasil rapid test antigen dari Siti Herlina pada tanggal 31 Juli 2021 lalu dinyatakan negatif, sementara pesan WhatsApp dari Kemenkes pada tanggal 3 Agustus 2021 menyatakan Siti Helina positif Covid-19.  Akibat menerima pesan tersebut, wanita 40 taun ini pun langsung kaget dan merasa tidak percaya. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, dari mana Kemenkes mendapat data sehingga bisa mengirim pesan WhatsApp yang dianggap isinya tidak benar ini?

Kasus itu kemudian bergulir. Awak media mencoba mengonfirmasi Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bali, Ketut Suarjaya, terkait dugaan ‘pengcovidan’ ibu rumah tangga tersebut. Namun tak disangka, Suarjaya malah menyarankan seharusnya kasus tersebut tidak usah dibuat ribut.

“Mestinya enggak usah ribut, tapi konfirmasi dengan swab PCR. Lebih berbahaya kalau positif dibilang negatif,” tulis Suarjaya melalui pesan singkat saat dikonfirmasi awak media, Jumat (6/8/2021).

Suarjaya menjelaskan, seharusnya saat dinyatakan positif hari itu (yaitu data Kemenkes), Siti Herlina langsung melakukan swab PCR. Ia pun berjanji bakal membantu Siti Herlina untuk melakukan tes swab PCR. “Pasti kami bantu. Semoga hasilnya negatiif,’ tulis Suarjaya. 

Pernyataan Suarjaya ini, menurut beberapa wartawan agak tidak masuk akal, lantaran Siti Herlina sendiri telah dinyatakan positif oleh Kemenkes. ‘Kok agak aneh pak, masa setelah dinyatakan positif baru PCR? Bukankah PCR dulu baru dinyatakan positif atau negatif?’ tanya Wartawan. 

Menjawab pertanyaan tersebut, Kadis Suarjaya mengatakan untuk membuktikan harus dengan Swab PCR. Padahal nyatanya, Siti Herlina sudah dinyatakan positif sesuai data Kemenkes RI yang diterima Siti Herlina pada 3 Agustus. 

‘Ya karena sebelumnya hasil negatif terus ada informasi positif, untuk membuktikan ya hanya dengan swab PCR. Swab PCR adalah golden standar,’tulis Suarjaya lagi.

Diketahui sebelumnya, salah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) di Denpasar, Bali, Siti Herlina merasa ‘dijebak’ oleh Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Sebab, secara tiba-tiba, perempuan berusia 40 tahun tersebut menerima pesan singkat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Rabu (4/8/2021), yang menyatakan dirinya positif Covid-19.

Padahal, dibeberkan suami Siti Herlina, hasil tracing tes antigennya negatif Covid-19. Pesan singkat yang menyatakan Siti Herlina positif Covid-19 itu membuat kepanikan pihak keluarga. Pihak keluarga mempertanyakan asal-usul Kemenkes bisa menyatakan Siti Herlina positif Covid-19.

“Ini bagimana kok bias dinyatakan positif Covid-19, padahal hasil antigen istri saya negatif. Dalam ketentuan yang disampaikan di lingkungan Banjar saya, hanya orang yang dites antigen positiflah yang dilanjutkan swab PCR untuk menentukan positif atau negatif,” ujar suami Siti Herlina, Kamis (5/8/2021).

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga meragukan validitas data jumlah pasien Covid-19 yang setiap hari dirilis Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kodya Denpasar. Pihak keluarga pun memprotes kejadian tersebut karena tidak ada bukti yang menyatakan Siti Herlina positif Covid-19.(pro)

Editor : Raman Sabon Nama 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment