Unwar Terapkan Metode yang Menyenangkan, untuk Meningkatkan Skill Berbahasa Inggris

Tim PKM Universitas Warmadewa bersama Siswa-siswi dan Bendesa Mas, Ubud, Gianyar.

DENPASAR/BaliNewsNetwork.com-
Belajar bahasa inggris tidak selamanya ribet atau membosankan. Memilih metode yang tepat pembelajaran akan menjadi mengasikkan, sehingga mudah untuk menyerap ilmu pengetahuan dalam kondisi pembelajaran yang menyenangkan.

Seperti halnya yang diterapkan
tim yang tersusun dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan mengadakan program pelatihan bahasa Inggris berbasis instagram dengan metode blended learning (pembelajaran campuran).

Diketuai oleh Made Sani Damayanthi Muliawan, S.S., M.Hum, program PKM ini menyasar siswa-siswi SMP yang berada di kawasan Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar dengan tujuan untuk meningkatkan skill anak SMP yang berada di kawasan pariwisata, khususnya Desa Mas terhadap bahasa Inggris. Sani memaparkan bahwa dalam situasi pandemi ini, pembelajaran bahasa Inggris yang mereka dapatkan kurang maksimal.

“Oleh karena itu perlu diberikan pembelajaran dengan metode yang fun sehingga dapat memotivasi mereka untuk belajar,” jelasnya belum lama ini.

Damayanthi memandang, bahwa bahasa Inggris telah menjadi bahasa global, penghubung, bahasa dari ilmu modern dan informasi. Singkatnya, bahasa Inggris menjadi ‘paspor’ bagi setiap orang dalam dunia global yang penuh kompetisi. Di Bali Sendiri, bahasa Inggris merupakan salah satu skill yang harus dikuasai mengingat Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing. “No English, No Money” begitu kira-kira slogan yang diucapkan oleh salah satu pemandu wisata yang berada di Ubud, Gianyar.

Seperti diketahui, Ubud merupakan salah satu daerah di Bali yang kaya akan kebudayaan lokal dan pemandangan hijau persawahan yang disajikan oleh alamnya. Salah satu desa yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing adalah Desa Mas. Baru-baru saja, Desa ini mengikuti ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Dalam rangka mempersiapkan destinasi wisata, masyarakat di Desa Mas Ubud, dipandang perlu untuk melaksanakan pengembangan dan pembinaan SDM dengan pendampingan untuk pelaku wisata dan masyarakat setempat, sehingga akan meningkatkan kualitas pelaku atau penyedia jasa wisata itu sendiri.

Salah satu aspek yang penting dalam hal pengembangan tersebut adalah aspek komunikasi dalam bahasa asing yang nantinya akan mempermudah mereka ketika bertransaksi atau bertukar informasi, salah satunya adalah bahasa Inggris.

Damayanthi menyayangkan para siswa pada tingkat SMP seharusnya sudah dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris walaupun dengan susunan kalimat yang kurang grammatical, namun setidaknya pesan yang mereka sampaikan dapat dimengerti dengan baik.

Lebih lanjut, Damayanthi mengatakan selama masa pandemi, sebagian siswa memanfaatkan instagram hanya sebagai sarana hiburan semata, padahal jika dimanfaatkan dengan baik, instagram dapat digunakan untuk menambah wawasan mereka, terutama dalam peningkatan bahasa Inggris.

“Program ini berjalan selama kurang lebih dua bulan dengan metode blendid learning, yakni metode campuran tatap muka dan daring,” imbuhnya.

Kegiatan tatap muka perlu dilaksanakan dalam kegiatan games seperti role play, mimic games, dan permainan lainnya. Dengan pemberian games, para siswa dapat termotivasi sehingga mereka lebih bersemangat untuk belajar. Kegiatan tatap muka dilaksanakan di Kantor LPD Desa Mas Ubud, Gianyar dengan menerapkan prokes Covid-19.

Setelah kegiatan tatap muka berakhir, mereka diberikan tugas oleh Tim PKM. Tugas yang diberikan adalah membuat konten gambar atau video terkait dengan materi yang mereka telah dapatkan selama kegiatan berlangsung.

Konten tersebut diunggah melalui instagram dan akan di-repost kembali oleh tim PKM. Selain itu, mereka juga diwajibkan untuk memberikan pertanyaan dan komentar pada konten-konten yang berada di @inggris.pedia. Adapun jumlah peserta yang tergabung dalam kegiatan ini sejumlah 43 siswa.

Bendesa Desa Adat Mas, Ir. I Wayan Gede Arsania menyambut baik kegiatan ini. Di akhir kegiatan dirinya berpesan kepada siswa agar materi-materi yang sudah diberikan tidak dilupakan, namun diterapkan. “Belajar bahasa tanpa praktik adalah sia-sia”, jelasnya.

Arsania berharap, kegiatan ini akan terus berlanjut, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang positif, apalagi Desa Adat Mas, Ubud merupakan salah satu kunjungan destinasi pariwisata. Dengan demikian pembelajaran komunikasi bahasa Inggris adalah hal yang penting tidak hanya bagi para siswa SMP, namun seluruh masyarakat Desa Adat Mas, Ubud pada umumnya. bq

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment