Membangun Kesadaran Komunal di Tengah Kedaruratan Covid-19

AA Ngurah Eddy Supriyadinata Gorda

RASANYA masih segar di ingatan pada bulan Mei lalu India mencatat jumlah korban harian tertinggi di dunia sejak pandemi dimulai tahun lalu. Secara keseluruhan, hampir 190.000 orang telah meninggal karena COVID di negara tersebut, sementara lebih dari 16,6 juta telah terinfeksi.

Wabah baru di India begitu parah sehingga rumah sakit kehabisan oksigen dan tempat tidur, dan banyak orang yang sakit ditolak. Sungguh menyedihkan kini kondisi serupa dialami oleh Indonesia. Setiap hari media massa dan media sosial diwarnai dengan kabar masyarakat yang terpapar Covid-19.

Kabar tersebut kian memilukan ketika banyak diantara mereka yang merupakan kerabat sendiri sudah tidak tertolong lagi karena tidak bisa segera mendapatkan pertolongan. Pemerintah mengantisipasi lonjakan kasus baru harian Covid-19 dengan kembali menarik rem darurat untuk yang kesekian kalinya melalui PPKM darurat Jawa-Bali yang berlaku mulai tanggal 2 Juli lalu sampai 20 Juli 2021.

Kapasitas layanan medis dan pasokan oksigen serta obat semakin ditingkatkan. Program vaksinasi terus dimasifkan, bahkan hingga menyasar anak-anak untuk menekan risiko kematian. Aparat negara diterjunkan sebagai pengawas untuk menjaga efektivitas pelaksanaan PPKM.

Apakah semua ini sudah cukup ? menurut pandangan penulis belum. Lonjakan ini perlu ditekan bersama. Sulit rasanya membayangkan kurva kasus Covid-19 akan melandai tanpa campur tangan masyarakat. Masyarakat memiliki andil besar untuk mengatasi darurat Covid-19, dengan saling mengingatkan dan menjaga pelaksanaan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. ”No one is save until everyone is” demikian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan warga bumi di era pandemi.

Sederhana saja, dimulai dari diri sendiri. Kedisiplinan dan konsistensi sangat diperlukan. Tidak boleh sedikit pun lengah. Kedisiplinan dari tiap individu terhadap protokol kesehatan perlu dilandasi tanggung jawab dan kepedulian bersama.

Kedisiplinan dan kesadaran tersebut akan berkembang menjadi kekuatan komunal yang dapat mempersempit ruang penyebaran Covid-19. Meski demikian, tantangannya adalah semua protokol itu harus dilakukan dalam jangka waktu lama.

Tidak mudah memang untuk menjalankan semua hal tersebut. Apalagi, kemauan dan kemampuan setiap orang beradaptasi berbeda-beda. Keterdesakan ekonomi, fasilitas yang minim, kian mempersulit lagi. Perlu saling menyadarkan, perlu juga saling membantu.

Setiap lapisan masyarakat harus bergotong royong menguatkan dan mengingatkan siapa pun untuk lebih ketat lagi menerapkan protokol kesehatan, mulai dari keluarga terdekat, kerabat, warga sekitar, hingga yang lebih luas. Menjaga pola hidup sehat menjadi poin penting lainnya yang perlu digalakkan untuk memperkuat ketahanan imun.

Di sisi lain pemerintah perlu menganalisis kembali mengapa masih banyak warga masyarakat yang abai terhadap protokol dan seolah tidak peduli wabah Covid-19. Tidakkah barangkali merupakan reaksi masyarakat terhadap kebijakan yang selama ini diambil oleh pemerintah selama ini. Berkaca pada Teori Motivasi

Abraham Maslow, pada dasarnya perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh motivasi pemenuhan kebutuhan. Jika kebutuhan dasar terpenuhi maka seseorang dengan sendirinya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan berikutnya. Bisa jadi motivasi tuntutan hidup untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan minum yang kadang memaksa orang untuk melanggar aturan.

Dispasritas golongan atas dan bawah di Indonesia sangat tinggi. Tentu cara memandang kebutuhan akan kesehatan akan berbeda. Bila pemerintah mampu memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar, terutama pada golongan bawah, rasanya pasti ada motivasi untuk tetap di rumah dan taat terhadap regulasi pemerintah. Pendekatan komunikasi pemerintah juga barangkali perlu diubah.

Pemerintah harus membangun kepercayaan masyarakat dengan menyampaikan informasi yang valid, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, termasuk mengendalikan hoaks yang berkembang liar di media sosial. Terlepas dari itu semua kita tetap perlu mengapresiasi segala daya dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah hingga saat ini.

Kita harus kembali pada kesadaran bahwa kesehatan komunal disiplin komunal dan keperdulian komunal menjadi kunci untuk bersama-sama keluar dari situasi darurat ini. Tanpa peran semua pihak, sulit memperkirakan kapan Indonesia keluar dari jeratan Covid-19. Sekarang semua pilihan ada di tangan kita bersama.bq

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment