Terdakwa Kasus Dugaan Penyimpangan Pemberian KUR di Salah Satu Bank BUMN Diadili

DENPASAR – Balinewsnetwork.com-Kasus dugaan penyimpangan pemberian kredit usaha rakyat (KUR) yang dilakukan oknum pegawai salah satu bank BUMN bernama Ida Bagus Gede Subamia (34) mulai disidangkan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Arya Lanang Raharja yang menangani perkara ini menyatakan akibat perbuatan terdakwa, pihak bank mengalami kerugian sebesar Rp 890 juta lebih. Dalam dakwaan diterangkan, kasus yang menyeret terdakwa bermula ketika pihak bank menerima pengajuan KUR dari para debitur.

Customer service yang menerima berkas

kemudian meneruskan kepada masing-masing mantri atau bagian kredit yang sebelumnya telah berkomunikasi dengan para calon debitur.

Atas berkas permohonan yang diterima oleh Mantri dari customer service, mantri kemudian melakukan verifikasi data (BI Cheking) untuk mengetahui apakah si pemohon KUR memiliki pinjaman modal kerja/investasi lainnya baik di bank tersebut maupun di bank lainnya.

“Dan bilamana hal itu ada, maka permohonan KUR tidak disetujui dan disarankan untuk mengambil KUPEDES atau melakukan take over atas pinjaman modal kerja/investasi tersebut. Namun apabila yang ditemukan adalah pinjaman konsumtif, maka permohonan KUR dimungkinkan untuk dapat disetujui,” terang jaksa dalam sidang, Selasa (22/6/2021).

Jika tidak ada masalah terhadap verifikasi data, maka mantri akan melakukan survey lapangan serta mendokumentasikan jenis usaha si pemohon dengan cara melakukan foto bersama antara si pemohon dengan Mantri. Namun sebagai mantri, terdakwa tidak melakukan tanggungjawab utama sebagai mantri/pemrakarsa di bank tempatnya bekerja.

Ini dikarenakan dalam proses penyaluran KUR terdakwa melakukan prakarsa kredit dengan cara manipulatif yakni meminjam nama-nama debitur untuk dipakai oleh terdakwa sendiri dalam melakukan permohonan pinjaman KUR maupun KUPEDES (topengan kredit), serta mengambil sebagian atau seluruhnya dari dana KUR yang dimohonkan oleh para debitur atau tempilan kredit.

Perbuatan terdakwa dengan meminjam 

nama-nama debitur untuk dipakai oleh terdakwa pertama kali diketahui oleh I Nyoman Suardika selaku Kepala Bank Unit Kuta sekitar tahun 2016 karena terdapat nasabah yang menunggak pembayaran kredit.

Nyoman kemudian mengkonfirmasi kepada nasabah yang bersangkutan dan para nasabah tersebut mengaku bahwa setahu dia setoran yang seharusnya dia bayar adalah seseuai dengan yang dia bayarkan pada saat itu.

Dengan adanya itu, selaku Kepala Unit Kuta ia lalu melaporkan hal itu kepada saksi I Komang Sudarsa yang saat itu menjabat sebagai AMBM (Asisten Manajer Bisnis Mikro) Kantor Cabang Kuta periode tahun 2017 sampai dengan tahun 2018.

Setelah dilakukan audit, terungkap bahwa Ida Bagus Gede Subamia telah memanipulasi permohonan pinjaman atas 23 debitur KUR dan KUPEDES dengan cara Topengan Kredit dan Tempilan Kredit, dan menggunakan angsuran pembayaran KUR dan KUPEDES serta telah menggelapkan agunan atas pinjaman KUR ataupun KUPEDES.

“Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 8 Jo. Pasal 

18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dan diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak 

Pidana Korupsi Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP,” kata jaksa.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment