McDonald sebagai salah satu perusahaan makanan cepat saji besar beberapa waktu yang mengalami serangan siber. Menurut The Wall Street Journal, penyusup yang masuk ke sistem mereka berhasil mencuri informasi pelanggan dan karyawan dari bisnisnya di negara AS, Korea Selatan, dan Taiwan. Tidak ada data pelanggan yang dicuri di AS, tetapi para peretas berhasil lolos dengan informasi kontak para karyawan dan pemegang waralaba McDonald di AS, termasuk kapasitas tempat duduk dan ukuran area bermain pada outlet McDonald yang ada di AS.

Namun, di Korea Selatan dan Taiwan, para peretas mendapatkan informasi pelanggan, termasuk email, nomor telepon, dan alamat. Nama dan detail kontak karyawan di Taiwan juga dicuri. Pihak McDonald meyakinkan The Journal, bahwa tidak ada informasi tentang metode pembayaran pelanggan yang terpengaruh dalam kebocoran data ini.

Perusahaan menemukan insiden tersebut setelah menyewa konsultan eksternal untuk menyelidiki aktivitas tidak sah pada sistem keamanan internal. McDonald memutuskan akses tidak sah seminggu setelah diidentifikasi pada tiga lokasi, dan memuji investasi yang mereka lakukan pada peningkatan dalam keamanan siber dalam beberapa tahun terakhir karena melakukan respon dengan cepat. Perlu dicatat bahwa para penyelidik juga menandai Afrika Selatan dan Rusia, dan McDonald’s mengatakan akan memberi tahu divisi tersebut tentang kemungkinan akses tidak sah ke sistem mereka.

“Ke depannya McDonald’s akan memanfaatkan temuan dari penyelidikan serta masukan dari orang yang berkecimpung di keamanan komputer ini untuk mengidentifikasi cara untuk lebih meningkatkan langkah-langkah keamanan yang ada,” kata McDonald dalam sebuah pernyataan.

Sementara para pelaku kabur dengan beberapa informasi sensitif, namun untungnya ransomware tidak terlibat dalam insiden ini, tidak seperti dalam serangan yang melanda JBS, Colonial Pipeline dan banyak perusahaan lainnya. JBS, salah satu pemasok daging terbesar di AS, membayar uang tebusan setara dengan $11 juta. Sementara itu, Colonial Pipeline membayar penyerangnya 75 Bitcoin (senilai sekitar $4,3 juta pada saat itu) setelah peretasan menyebabkan kekurangan bahan bakar di East Coast. Konon, DOJ dapat memulihkan 63,7 Bitcoin dari uang tebusan yang dibayarkan dengan mendapatkan kunci pribadi ke dompet peretas.***

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment