Warga Dulijaya Kecewa Terhadap Pemcam Titehena, Ini Penyebabnya !

Kantor Desa Dulijaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur-NTT. Foto : BNN/ Emnir.

Titehena/BaliNewsNetwork.com- Beberapa warga Desa Dulijaya, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur-NTT, mengaku sangat kecewa dengan cara penyelesaian masalah oleh pihak Pemerintah Kecamatan Titehena pada persoalan dugaan asusila yang dilakukan Kepala Desa mereka, Maximus Pati Hayong terhadap salah seorang warga desanya,Marsela Nuli Payong.

Kepada BaliNewsNetwork.com, Jumad (4/6) Petrus Dua Hayong menuturkan, walau persoalan tersebut akhirnya terselesaikan yang diikuti dengan  pelaksanaan sanksi adat sebagaimana keputusan Lembaga Pemangku Adat Desa Dulijaya, namun mereka menilai ada kejanggalan  yang tersaksikan pada proses penyelesaian yang difasilitasi pihak Pemerintah Kecamatan Titehena.

“Kasus ini pun di-BAP oleh Pemcam Titehena pada tanggal 22 Desember 2020. Baik pelaku maupun korban diambil keterangan. Namun mereka mengabaikan pihak yang namanya saksi itu. Padahalnya, para saksi sangat siap memberikan keterangan.Sialnya lagi, semua keterangan korban, tidak disertakan dalam BAP tersebut.” tutur Petrus Dua Hayong, yang diamini Stefanus Suban Koten, Lambertus Nuho Tobin, Petrus Lawe Koten, dan Ambrosius S. Kumanireng

Lanjut Petrus Hayong, BAP yang  tidak melampirkan keterangan korban kemudian digunakan sebagai dasar penyelesaian persoalan itu oleh Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, atas undangan Camat Titehena, Asterius Soge,S.Kep,Ns pada pertemuan tanggal 29 Januari 2021 bertempat di Kantor Desa Dulijaya.

“Pada pertemuan yang difasilitasi oleh Pak Wabup itu, kami semua dilarang bicara.Hanya beliau sendiri.Kami sungguh terpasung, dan diintimidasi. Kami sama sekali tidak diperkenankan untuk berbicara. Baik, tokoh adat, tokoh masyarakat, maupun korban dan keluarga korban, dilarang olehnya untuk berbicara,sehingga menghasilkan beberapa keputusan yang memang sungguh mempreteli ruang –ruang keadilan. Makanya, Berita Acara Penyelesaian masalah tersebut,tidak ditandatangi oleh korban dan salah satu saksi,yakni Ketua BPD ! ” kisah Petrus Hayong melitanikan kejanggalan-kejanggalan tersebut.

Lantas seperti apa keputusan dalam forum penyelesaian dugaan perbuatan asusila Kades Maximus Pati Hayong di Senin,11 Januari 2021 itu ?

Ada 4 point keputusan yang dihasilkan dalam forum penyelesaian yang oleh Petrus Hayong sebagai forum penuh intimidasi tersebut,antara lain :

  1. Saudara Maximus Pati Hayong selaku Kepala Desa Dulijaya, dilarang bertamu di rumah saudari Marsela Nuli Payong kecuali urusan umum.
  2. Diberi teguran keras oleh Wakil Bupati, jika mengulangi perbuatan ini ke depan dan terbukti secara hukum maka dapat diberhentikan dengan tidak hormat.
  3. Memulihkan nama baik saudari Marsela Nuli Payong dan saudara Maximus Pati Hayong, dan jika ke depan ada pihak-pihak  lain yang dengan sengaja membahas masalah ini  untuk kepentingan tertentu, maka pihak-pihak tersebut dapat diproses hukum.
  4. Masalah ini terselesaikan dalam forum ini yang dipimpin oleh Wakil Bupati Flores Timur dan tidak akan dibawa ke urusan-urusan lain.

Kecewa terhadap ‘pengkondisian’ pertemuan hingga menghasilkan keputusan tersebut, pihak perempuan, Marsela Nuli Payong (korban) bersama saksi Kosmas Lado Payong yang adalah Ketua BPD Dulijaya, lantas tidak menandatangani Berita Acara Penyelesaian itu.

Berita Acara tersebut hanya ditandatangani oleh pihak laki-laki, Maximus Pati Hayong,dan saksi  Lasarus Sani Kelen,dan Yosep Beda Doren (Kasi Trantib)  mengetahui camat Asterius Soge, S.Kep. Ns, dan Wabup,Agustinus Payong Boli,S.H,M.H.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment