Kisah Pegiat Arak Di Solor : Tiga Bulan Hadapi Masa Suram

Yohanes Igo Manuk,pegiat ark di Desa Titehena,Solor Barat,Flores Timur-NTT, Foto : BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork.com- Walau  harus bergulat dengan aktivitas yang mengancam keselamatannya ,namun Yohanes Igo Manuk (65), warga Desa Titehena, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur  ini tetap menekuni  pekerjaannya  sebagai pengiris tuak dan selanjutnya mengakrabi perapian penyulingan arak.

“Arak memang sangat menyatu dengan kehidupan kita orang Lamaholot.Namun tidak semua warga Lamaholot mengetahui betapa susahnya kami berproses hingga menghasilkan arak itu. Arak dihasilkan dari air pohon Lontar yang disebut Tuak itu. Untuk mendapatkan  tuak, maka kita harus mengiris komponen yang mengandung  tuak itu. Komponen tersebut berada di arel pucuk pohon tersebut.Olehnya,pekerjan mengiris tuak itu, bak kita bepergian : Pergi dan Pulang (PP) ! Memanjat, mengiris, mengambil air tuak, memindahkannya ke wadah (drijen) kemudian turun. Demikianlah pekerjaan itu rutin dilakukan sesuai jumlah pohon tuak yang diiris.” ungkap suami dari Susana S.Jawan, mengawali kisah rutinitasnya tersebut.

Lanjutnya, untuk mendapatkan satu botol arak dengan kualitas bagus,minimal membutuhkan 4 hingga 5 drijen berukuran 5 liter  tuak. Tuak tersebut kemudian disuling melalui tungku perapian.Tungku penyulingan tersebut pun dibuat secara khusus,dan butuh kecermatan tatkala air tuak itu dimasak.Material penting di urusan tungku penyulingan ini adalah pondok penyulingan, periuk tanah,bambu jenis wulo,kayu bakar dan tentunya botol penampung hasil uapan tuak yang dimasak itu.Hasil uapannya tersebut, itulah yang dinamakan arak.

“Setiap hari di pagi dan sore,saya bergelut dengan 10 pohon tuak di sekitar kebun saya ini.Kebun ini pun jauh dari perkampungan kami.Jam 06.00  wita,saya sudah mulai iris.Artinya saya harus sudah tinggalkan rumah dan kampung sebelum jam itu.Ketika drijen sudah penuh maka saya membawanya ke pondok,dan lanjut lagi dengan pohon lainnya.Naik-turun 10 pohon lontar dengan ketinggian yang bervariasi.Belum lagi harus mengumpulkan kayu bakar,dan membawanya ke pondok,dan mengurus kebun serta ternak.” ujarnya seraya memperlihatkan beberapa bekas luka akibat terperosok dari pohon lontar itu.

Mengapa menekuni pekerjaan tersebut ?

Bukan salah bunda mengandung,demikianlah ayah ke-4 anak itu merenda hidupnya dari air pohon lontar itu.Tak meratapinya, apalagi mempersoalkan kalau dirinya terlahir dari keluarga tak mampu.Prinsipnya, di tanah kelahirnnya itu ada sumber kehidupan.Apapun kondisi kampungnya itu,dia sangat yakin ada sumber yang bisa menghasilkan uang,tidak mesti merantau !

Alhasil,sepulangnya dari tanah rantau, Igo Manuk lalu menekuni profesi sebagai petani yang merangkap sebagai pengiris tuak sekaligus penyuling arak itu. Lahan garapannya di lokasi Kepu’uk Wolor itulah sumber kehidupannya.Walau harus bersusah payah,Igo Manuk bersama istrinya Susana Jawan menata  rumah tangga mereka dari air pohon lontar,termasuk membiayai pendidikan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi.

Igo Maanuk

“Mau kerja apa lagi ?Pendidikan saja terbatas, tidak tamat SD.Maka selain berkebun, saya lalu menggeluti dunia ini,untuk mencukupi kebutuhn harian dan membiayai pendidikan anak-anak dan cucu-cucu saya.Tidak gampang memang,namun mau tak mau harus menjalaninya.Lihatlah pondok saya ini, sudah reyot,banyak periuk tanah yang sudah retak dan pecah ! Disaat mau ganti,anak,dan cucu butuh uang sekolah ! Maka terpaksa alihkan semuanya itu ke urusan pendidikn anak dan cucu.” tutur Igo Manuk sembari mengkalkulasikan total kebutuhan pendidikan anak dan cucunya dari Perguruan Tinggi hingga SD di setiap bulannya.

Walau arak dilihatnya sebagai sumber berkat bagi diri dan keluarganya,namun bukannya tak ada masa suram bagi Igo Manuk.Terhitung dari Januari hingga Maret di setiap tahunnya ,Igo dan pegiat penyulingan arak lainnya harus menikmati masa sulit itu.

Sudah menjadi tradisi mereka, dimusim tanam ,tak boleh ada aktivitas masak arak ! Aktivitas itu baru kembali dijalankan setelah masa panen.Dan ketika memulainya pun mereka harus berhadapan kenyataan masih berkurangnya air tuak.

“Memang itu tradisi yang telah diwariskan leluhur kami ! Dan di tiga bulan itu adalah masa sulit buat kami ,yang tentunya berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pendidikan anak dan cucu kami.Mau tak mau,saya harus memfokuskan pada urusan pendidikan anak-anak dan cucu kami.Maka pondok ini pun tak bisa saya perbaiki. Demikian pun periuk tanah ini belum bisa terbelanjakan.”ungkapnya dengan suara yang semakin mengecil.

Dirinya pun berharap agar Shopia yang telah diluncurkan Gubernur NTT,Viktor Bungtilu Laiskodat itu dapat berimbas langsung pada mereka pegiat arak lokal.Demikian pun ia berharap agar Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Desa Titehena agar melihat apa yang mereka geluti itu sebagai sebuah produksi home industri .

“Walaupun saya tidak tamat SD,namun saya selalu mengikuti perkembangan informsi tentang Shopia yang bahan dasarnya dari arak itu.Semoga dengan produksi Shopia itu, arak kami semakin laris .Saya pun berharap agar kelompok kami (pegiat arak) ini bisa mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten melalui Dinas teknis terkait sama seperti perhatian yang selalu diberikan kepada kelompok usaha Tenun Ikat dan para UKM lainnya. Saya pun berharap agar Pemerintah Desa Titehena pun bisa  melirik  dan membackup usaha kami ini agar bisa menggenjot Penerimaan atau Pendapatan Desa.” pintanya. *(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment