Fisik Bangunan Paud Di Desa Lamaole,  Dipersoalkan Warga

Bangunan Paud di Desa Lamaole,Solor Barat,Kabupaten Flores Timur yang dibangun dengan Dana Desa Tahun 2019. Foto : BNN /Emnir

Solor/BaliNewsNetwork.com- Laporan Bidang Pembangungan yang disampaikan Kepala Seksi Pembangunan,Adi Hendra Martinus Loniak dalam forum penyampaian Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintah Desa (LKPPD) Desa Lamaole, Kecamatan Solor Barat,Flores Timur-NTT,  Tahun 2019, Rabu (19/5), langsung ‘tersengat’  peserta rapat.

Simson Toron ,langsung ‘menyeruduk’ mempersoalkan realisasi  fisik bangunan Paud yang dihasilkan dari pos biaya Dana Desa Tahun 2019  sebesar Rp 106.502.991 itu.Tak masuk akal,begitulah Simson tatkala mendengar uraian laporan yang terpaparkan itu dengan kenyataan fisik bangunan yang dihasilkan.

“Mencermati besaran anggaran pembangunan gedung Paud sebagaimana yang barusan terlaporkan ini,dan menyadingkan dengan kenyataan fisik bangunan yang dihasilkan ini,bagi saya belum masuk ! Oleh karena itu saya minta penjelasan !” sergahnya usai Ketua BPD ,Lukas Benyamin Leyn memberikan kesempatan kepadanya.

Dengan tetap fokus pada torehan angka dan peruntukkannya yang tertulis pada lampiran kwitansi untuk item pekerjaan pembangunan gedung Paud tersebut, Irsel Toron pun mencecarkan aneka pertanyaan informatif,termasuk kebingungannya pada uraian material di urusan pembangunan gedung Paud namun tertuliskan dalam kurung (Gua Maria) dan sistem pengerjaan kegiatan tersebut.

Terhadap  luncuran ‘sengatan’ duo bersaudara itu, Adi Hendra Martinus Loaniak menjelaskan ,terkait kenyataan fisik sebagaimana yang terlihat,adalah sesuai  perencanaan berdasarkan APBDes Tahun 2019.

“Memang berdasarkan APBDes kita di Tahun 2019,kita merencanakan pembangunan gedung Paud dan Taman seperti itu,hanya ada bodi,dan atap,dan akan dilanjutkan pada Tahun 2020.Namun karena di Tahun 2020 itu kita dilanda pandemi Covid maka akan dikerjakan di Tahun 2021 ini.Jadi kita kerja berdasarkan desain  Gambar dan RAB,dan seperti itulah hasilnya,karena memang direncanakan hanya seperti itu.”jelas Hendra.

Sedangkan terkait sistem pekerjaannya,Hendra sembari meriwayatkan proses sosialisasi di awal pekerjaan tersebut mengaku sempat mengalami kebingungan lantaran tak ada tukang yang berminat memborong pekerjaan tersebut.

Dia mengakui kalau ada tukang yang datang menawarkan dengan upah harian,namun dengan nilai diatas perhitungan RAB.Dirinya terpaksa membuat pendekatan ,untuk melancarkan pekerjaan tersebut.

“Soal ada kwitansi yang tertulis HOK Kepala Tukang atas nama Hendra itu, benar itu nama saya.Kenapa demikian,karena para tukang tidak memiliki peralatan yang lengkap maka diawalnya mereka mendatangi  saya dan meminjam peralatan itu dengan menawarkan  HOK Kepala Tukang itu diberikan kepada saya sebagai jasa sewa peralatan.Maka tertulislah demikian,benar itu nama saya.” tegasnya sembari menegaskan bahwa semua yang tertera dalam kwitansi sebagaimana yang terlampirkan dalam bundelan Laporan Bidang Pembangunan Tahun 2019 itu benar-benar rill.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment