Vaksin Astra Zeneca Nyaris Makan Korban, Dokter Ayu Ratnawati tak Merespon Keluhan Pasien

Consita Maria Ina Goran bersama pamannya Rahman Sabon Nama di halaman RSUP Sanglah sebelum pulang ke rumah, Minggu (09/04/2021)

Denpasar/Bali News Network – Keengganan masyarakat mengikuti vaksinasi guna melindungi diri dari ancaman Covid 19 ternyata ada benarnya. Masalahnya beberapa jenis vaksin yang dipakai di Indonesia tidak semua cocok dengan respon tubuh seseorang, bahkan bisa berakibat vatal. Itulah yang dialami oleh Consita Maria Ina Goran (27) yang beralamat di Jl. Pandu No. 61 Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Gadis asal Desa Karing Lamalouk, Adonara Timur, Flores Timur itu nyaris kehilangan nyawahnya setelah menerima vaksin Astra Zeneca. Hal itulah yang membuat pamannya, Rahman Sabon Nama, berang dan angkat bicara.

“Kasus Consita ini perlu diangkat supaya menjadi pembelajaran bagi para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, dokter penanggung jawab dan pihak rumah sakit. Sebab, terlihat tidak ada koneksitas antara pasien akibat efek vaksin dengan ketiga pemangku kepentingan tersebut. Akibatnya, pasien seperti berjuang sendiri untuk menyelamatkan nyawahnya,” kata Rahman Sabon Nama dalam press release kepada media di Denpasar, Minggu (09/05/2021) sore.

Sesuai kartu vaksinasi Covid-19 yang dia peroleh, Consita Maria Ina Goran mengikuti vaksinanasi di Desa Dalung yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, Sabtu (08/05/2021) pukul 09:47 dengan nama vaksinnya Astra Zeneca. Sesuai jadwal, vaksin kedua akan diberikan pada 3 Juli 2021. “Apabila terdapat gejala pasca dilakukan vaksinansi dapat mengubungi dr. Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati, nomor telepon 081337209161”. Itu catatan di bagian bawah kartu vaksinansi tersebut.

“Tetapi apa yang terjadi? Keponakan saya, nyaris kehilangan nyawahnya setelah menerima vaksin Astra Zeneca tersebut. Dokter yang namanya tercantum dalam kartu vaksin tak punya tanggungjawab moral sama sekali. Dokter itu tak merespon pesan WA tentang keluhan pasien sampai detik ini,” ujar Rahman.

Rahman menjelaskan, usai divaksin, Consita Maria kembali ke kostnya untuk istriahat, sekitar pukul 15:00 baru dia terbangun. Ibu guru di DBB School ini kaget, tubuhnya panas tinggi dan terasa capek sekali. “Kok tubuh saya panas sekali, pegal-pegal, rasa cemas, ketakutan, mual dan muntah-muntah. Pikiran saya, ini pasti efek vaksin tadi. Saya mau kontak dokter tapi tidak bisa. Sebelum dijemput Lega dan Ika, 3 kali saya muntah di kost,” kata Consita, seperti dikisahkan Rahman.

Saat itu dia hanya bisa pasrah dan menangis di kamarnya. Masalahnya paket WA dan pulsa telepon habis hari itu. Untung ada facebook. Melalui inbox, Consita menginformasikan kondisi kesehatannya kepada seorang keluarga, Eba Lega dan minta segera datang menjemput. Tak lama kemudian Lega dan istrinya, Ika, datang menjemput Consita, dibawa ke kost mereka.

“Semalam kondisinya makin memburuk. Sekitar jam 11 malam Lega beberapa kali kirim pesan WA kepada dokter dalam surat vaksin itu tapi tak ada respon. Akhirnya Minggu pagi sekitar jam 05:00 Consita dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah, barulah saya dikkabarkan bahwa Consita masuk rumah sakit, kondisinya kritsi, karena efek vaksin,” ucap Rahman.

Setelah mendapat perawatan intensif, sekitar pukul 10:30 Wita Consita Maria Ina Goran diizinkan pulang. Anehnya, biaya rumah sakit senilai Rp 305.200 itu malah dibebankan kepada Consita. Meski sudah diberi tahu pasien ini korban vaksin, sambil memperlihatkan kartu vaksin tadi, pihak rumah sakit tetap menganggapnya sebagai pasien umum.

Menurut Rahman, perlakuan pihak rumah sakit ini tidak benar. Walupun nilainya kecil, tapi harus diusut. Sebab, vaksinansi ini program nasional dan menggunakan anggaran negara. “Jadi kalau ada efek setelah seseorang menerima vaksin, itu menjadi tangungjawab negara, bukan tanggung jawab pasien secara pribadi, ini harus diusut supaya tidak menjadi kebiasaan,” tegas Rahman Sabon Nama. (*)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment