JPU dan Terdakwa Batal Banding, Kasus Bule Perancis Cabuli Bocah Inkracht

Ilustrasi.

DENPASAR | Balinewsnetwork.com – Bule Perancis bernama Emannuel Alain Pascal Maillet yang menjadi dalam kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur akhirnya bisa bernafas lega.

Pasalnya, usai divonis 8 tahun penjara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelum menuntut agar terdakwa divonis 12 tahun penjara tidak mengajukan upaya hukuman banding.

Padahal saat sidang dengan agenda putusan, Selasa (6/4/2021) lalu JPU I Bagus Putra Gede Agung masih mengambil sikap pikir-pikir.

Kasi Intel Kejari Denpasar Kadek Hari Supriyadi saat dikonfirmasi, Minggu (9/5/2021) kemarin membenarkan bila JPU tidak mengajukan upaya hukum banding, begitu pula dengan terdakwa.

“Setelah diberi waktu pikir-pikir, jaksa akhirnya mengambil sikap tidak mengajukan banding, begitu pula dengan terdakwa yang juga tidak banding atas putusan hakim, ” ungkap Kadek Hari.

Ditanya alasan JPU tidak mengajukan banding, Kadek Hari menjawab karena sebagain besar alasan yang diutarakan jaksa dalam surat tuntutan dijadikan pertimbangan oleh majelis hakim dalam menjatuhkan putusan.

Dengan tidak adanya lagi upaya hukum banding yang ditempuh kedua belah pihak, maka kasus dengan nomor perkara 1115/Pid.Sus/2020/PN Dps dinyatakan berkekuatan hukum tetap alias Inkracht.

Seperti diketahui, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pimpinan Heriyanti saat sidang dengan agenda putusan menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan anak.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (1) Jo Pasal 76E UU RI nomor 17 tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak.

Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, majelis akhirnya menjatuhkan vonis 8 tahun penjara, denda sebesar Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Vonis ini lebih ringan 4 tahun dari tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut agar terdakwa dipenjara 12 tahun.

Diketahui, perbuatan terdakwa terbilang keji lantaran mencabuli korban yang merupakan anak sahabatnya sendiri sebanyak 10 kali. Hal itu dilakukan oleh terdakwa sejak 2017 silam.

Perbuatan terdakwa dilakukan di rumahnya di kawasan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Korban yang saat itu menginap di rumahnya dibawa masuk ke kamarnya.

Untuk melancarkan aksi bejatnya, terdakwa menjanjikan hadiah kepada korban. Selain itu, terdakwa juga mengancam tidak akan mengizinkan korban bertemu dan bermain dengan anak terdakwa.

Terungkapnya perbuatan terdakwa bermula ketika korban bermain di sebuah wahana permainan air di kawasan Benoa pada 26 September 2020.

Di sana terdakwa mengajak korban ke toilet sembari berkata akan memberi hadiah kepada korban. Korban lalu ikut dan peristiwa pencabulan kembali dilakukan terdakwa.

Di sisi lain, orang tua korban yang merasa curiga lalu mengikuti ke toilet. Orang tua korban terkejut saat mendapati terdakwa melakukan pencabulan kepada anaknya dan kemudian melaporkan kasus ini ke kantor polisi. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment