Ruangan Isolasi Covid pada RSUD dokter Hendrikus Fernandez Larantuka,Flores Timur.Foto : BNN/Emnir/Doc.

Larantuka/BaliNewsNetwork.com-Setelah mengikuti luncuran sederatan kenyataan akan buruknya pelayanan  medis di ruangan Isolasi Covid RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka,Kabupaten Flores Timur  oleh  keluarga pasien almarhuma Sebastiana Sedo (65) asal Desa Kawela,Kecamatan Wotan Ulumado dalam rapat bersama pihak Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Rabu(24/3) betempat di aula Setda Flotim, ,pihak RSUD Larantuka pun langsung memberikan penjelasan klarifikatif mereka

Baik pihak Manajemen maupun petugas medis pada ruangan Iso Covid  sungguh tak menyangka, profesionalitas kerja mereka  yang telah mereka bahktikan pada perawatan pasien tersebut justru, berakhir  dengan pelampiasan keluh kesah yang terbeberkan ke di medsos hingga berbuntut pada pertemuan itu.

Kepala Bagian Pelayanan Medik pada RSUD Hendrikus Fernandez, Larantuka, dokter Faizal, bahkan terkaget tatkala mendengar pembeberan yang terlontarkan oleh Maksi Tukan, Ina Kedang dan Petrus Nama Kedang dalam pertemuan yang dipimpin oleh Sekertaris Daerah Kabupaten Flores Timur,Paulus Igo Geroda tersebut.

“Harusnya, keluhan itu disampaikan langsung di Rumah Sakit sehingga bisa langsung dilakukan pembenahan. Setelah saya dengar ini, kami pun kaget, koq seperti  itu situasinya.Namun,masukan ini baik untuk  kami.”ujar dokter Faisal.

Microfon pun beralih ke tangan Kepala Ruangan Isolasi Covid, Any Balela.Dengan lantang, Any Balela dengan gaya khasnya memaparkan sekelumit penanganan medis terhadap pasien rujukan dari PKM Baniona dengan diagnosa Diabetes Melitus (DM)-luka bioretik pada kaki kanan, tatkala  pasien itu masuk dalam ruangan perawatannya.

Dirinya pun menyerahkan mic kepada suster Ester, salah satu nakes pada ruangan Iso Covid yang sedang berdinas pada saat itu.

“Pasien masuk tanggal 3 Maret 2021 dengan diagnosa diabetes melitus, luka bioretik pada kaki kanan. Dirujuk dari Puskesmas Baniona,dengan status  reaktif antigen.Pasien datang dengan Compos Mentis-CM (kesadaran normal ). gula darahnya 591. Setelah tiba di ruangan,  diperiksa oleh dokter Arif dan dokter menjelaskannya. .Waktu itu saya  bersama dua rekan saya. Usai mendapat penjelasan dokter, saya panggil ibu Ina dan melakukan KIE. Saya lakukan kajian ke ibu Ina. Saya tanyakan kronologi  penyakit mama,dan dia sampaikan,mama sakit di rumah sudah mau satu bulan, dan ada tampak luka di kaki sebelah kanan. Keluarga mencurigai ada asam urat. Mereka lalu mengompresnya dengan sereh merah tambah garam. Saya kaget dan bilang, kenapa lakukan  tindakan itu ? Itu sama saja dengan merusakkan kaki mama. Memang malam itu kami tidak lakukan perawatan luka, karena luka itu sudah dirawat di Puskemas Baniona .”urai Ester mengisahkan kronologi awal penanganan medis di ruangan Iso Covid.

Lanjutnya, pada keesokan harinya, sebagaimana yang dibeberkan  Ina Kedang, pengambilan gula darah tersebut,tidak dilakukan pada  pukul 10.00 wita, lantaran dirinya berdinas pagi dan baru masuk di pukul 10.00 wita.

“Ketika saya masuk, saya ambil gula darahnya dan menyuruh keluarga antar ke Laboratorium. Saat itu mamanya makan setengah mati .Bersamaan saat itu, dokter lakukan swab pertama. Saya lalu memeriksa lukanya, saya kaget lihat lukanya. Lukanya begitu jelek Pak ! Jelek sekali, dan saya minta keluarga untuk foto  luka itu, agar  saya kirimkan ke dokter Bedah,biar  dokter Bedah bisa lihat. Untuk urusan klinisnya, bukan foto itu untuk saya ! Lukanya jelek sekali ! Memang sudah  bengkak dari sana. Sangat jelek, Saya biasa rawat luka, jadi saya tau  luka diabetesnya seperti apa. Saya jelaskan ke keluarga saat sedang merawat, sambil berkomuikasi dengan ibu Ina dan adiknya laki-laki, Saya bilang, aduh kasihan sekali luka mama ini, luka ini telah merambat  sampe di paha. Di ujung jarinya pun sudah jelek sekali.kehitaman ! Sudah tidak berasa sekali lukanya. Saya tekan-tekan juga tidak rasa. Dan kata ibu Ina, tidak berasa itu setelah hari kebarapa ka, itu tidak berasa ! Tapi memang, di hari kedua itu (4 Maret 2021)  itu di jam 11 siang  ketika saya meraawt luka itu, memang sudah tidak berasa. Hal itu pun sudah saya sampaikan ke ibu Ina dan adiknya ! Sempat saya minta  untuk fotoi,namun foto itu tidak sempat saya ambil, karena waktu itu sudah jam 3 lewat  mau jam 4. Kami berganti jam dinas, jadi saya tidak sempat ambil foto itu.”urainya sembari menyerahkan penjelasan lanjutannya  kepada rekannya yang berdinas malam saat itu.

Petugas tersebut pun secara detail memaparkan riwayat penanganan medis di hari kedua (dinas malam) tatkala mereka melanjutkan pelayanan medis dari nakes yang berdinas sebelumnya.

Dia menjelaskan, karena pasien atas nama Sebastiana Sedo itu memiliki kadar gula darahnya 500-an, maka pihaknya lalu berkoordinasi dengan dokter IGD. Dokter IGD menginstrusikan pemberian insulin ,untuk menurunkan gula darah.

“Kami tidak sembarang mengerjakan ! Di rumah sakit,kami tidak kerja sembarang. Seperti yang dikatakan tadi, disaat kami bekerja,banyak tangan-tangan jahil yang selalu menyalahkan kami. Kami sakit hati,sakit…sakit  sekali.Banyak hinaan dan cercaan yang ditujukan buat kami perawat.Kami lakukan yang benar  sekalipun , tetap saja kami disalahkan. Namun kami tetap merawat, karena kami perawat ! “ungkapnya terbata-bata menahan tangisnya mengenang luapan hinaan dan cercaan yang teralamatkan buat mereka di medsos,dan sebagaimana yang terungkapkan dalam pertemuan itu.

Terkait persoalan kelambatan pemasangan infus, sembari meminta maaf pada keluarga pasien, petugas tersebut lebih lenjut mengutarakan,  pihaknya tidak saja menangani pasien itu seorang, namun  juga pasien lainnya.Namun bukan berarti ada pengabaian terhadap pasien tersebut.

“Dirumah sakit ini, kami merawat banyak pasien. Di ruangan ini saja ada beberapa pasien, bukan saja pasien ini. Ada  pasien lain juga membutuhkan kami. Kadang, kondisinya  lebih parah lagi dari pasien ini. Kami harus layani.Bila sudah selesai, kami akan kembali lagi. Kami tetap melayani. Bertugas di ruangan Iso Covid, berbeda dengan ruangan lain, Kami gunakan APD lengkap,yang belum tantu orang lain bisa  seperti kami. Satu dua jam kami sangat  cape sekali dengan APD itu. Yang saya sesalkan, seperti yang ibu Ina sampaikan tadi ! Saya sakit hati sekali ! “ ungkapnya seraya menahan  pedih hati yang bergejolak

Microfon pun berpindah lagi ke Kepala Rungan Iso Covid. Any  Balela pun melanjutkan pemaparannya terkait penanganan medis dan kondisi pasien.

Menurut Any Balela, di tanggal 6 Maret 2021, dokter DPJ Penyakit Dalam dan dokter Umum , berdasakan hasil pemeriksaan, menyatakan kondisi pasiennya memburuk .

“Atas pertimbangan dokter Penyakit Dalam, saat itu, kami lakukan swab  evaluasi,walaupun sebelumnya dokter pernah jelaskan kepada keluarga bahwa swab ulangan akan terjadi  7 hari kemudian setelah hasil swab pertama Negatif di tanggal 4 Maret  2021 itu. Dan di tanggal 6  Maret 2021 itu, sekitar pukul 10.30 wita, terjadi  pengambilan swab kedua atas pasien itu. Melihat kondisi pasien yang sudah memburuk, secara urutan dokter sampaikan KIE kepada keluarga, buktinya ada rekaman yang di tandatangani keluarga. Nah,setelah pelaksanaan swab itu, kami sampaikan kepada petugas swab , bahwa swab ini adalah cito, butuh hasil segera ! Dan hasilnya keluar sekitar pukul 14.30 wita. Hasilnya memang belum terprint. Sambil menunggu print, petugas lab,mengabarkan kami melalui aipon ruangan , bahwa pasien kamar 6 tersebut  terkonfirmasi positif covid. Dan petugas yang berdinas saat itu lalu menghubungi dokter IGD  untuk datang ke ruangan.” tutur Any Balela seraya menyerahkan microfon ke suster Riski

Suster Riski pun langsung meriwayatkan. Bahwa pada pukul 14.30 wita, ketika dirinya sedang menerima overan  dari rekannya yang dinas pagi, petugas swab aipon ke ruangan mereka dan mengatakan hasil swab evaluasi kedua untuk pasien Sebastiana Sedo terkonfirmasi Positip Covid.

Karena cito (sifatnya segera) , maka hasilnya disampaikan terlebih dahulu  melalui aipon ke ruangan, sembari menanti  print . Dan  pada saat selesai overan dinas, anak  laki-laki dari pasien datang ke ruangan,dan menyampaikan kalau infus pada pasien telah habis.

“Rekan saya suster Yeti sampaikan kepada anggota keluarga tersebut untuk berikan kesempatan kepada kami petugas, mengenakan APD. Setelah kami pakai APD,  kami pun menuju ruangan pasien. Suster Yeti duluan masuk. Keadaan mama Sebastiana Sedo sudah dalam keadaan koma, seperti  keterangan yang dioverkan  rekan kami yang berdinas pagi. Saat itu mama, spO2-nya turun sekitar 71 persen. Melihat kondisi tersebut, suster Yeti naikkan kecepatan Oksigen dari 6 liter per menit ke 10 liter per menit. Setelah naikan itu, jedah waktu sekitar 5-10 menit, spO2-nya naik sekitar 91 persen. Dan saat itu suster Yeti sampaikan, keadaan mama sudah memburuk.” tutur suster Riski sembari menyerahkan penjelasan lanjutannya kepada suster Yeti.

Suster Yeti pun membenarkan tindakannya menaikan spO2 tersebut, hingga mengalami kenaikan dari 71 persen ke 91 persen dan menyampaikan keadaan pasien yang kian memburuk itu kepada keluarga.

“Disaat itu, ibu Ina sampaikan kenapa luka mama belum dirawat ? Saya balik bertanya, belum dirawat ka ibu ? O iya mari saya rawat ! Karena lihat mama sudah koma, saya raba nadinya, dan memang  sangat halus ! Saya langsung sampakan kepada teman bidan untuk segera menghubungi dokter jaga IGD,untuk menyampaikan keadaan mama yang telah turun kesadaran itu. Tak lama kemudian dokter jaga di IGD pun datang ke ruangan, dan mengenakan APD dan setelahnya masuk ruangan dan memeriksa pasien,mama Sebastiana Sedo. Waktu itu sekitar pukul 15.30 wita. Setelah memeriksa keadaan pasien, dokter sampaikan kalau mama Sebastiana Sedo sudah tidak ada. Dokter pun lalu menyampaikan hasil swab kedua tersebut kepada keluarga pasien, namun keluarga tidak mau melaksanakan sesuai prokes. Kami tanya ke keluarga, mama ini kami mandikan atau keluarga sendiri yang mandikan ? Kenapa kami tanyakan soal ini ? Karena mereka sudah menolak melaksanakannya sesuai protokol kesehatan. Akhirnya ibu Ina bilang ,ya saya mandikan saja ! Sambil memandikan mama ,kami urus lukanya mama, sembari menunggu keluarga mendatangkan peti jenasah. Kami mengenakan APD dari pukul 15.00 wita hingga pukul 19.30 wita. Peti belum datang juga.Kami cape, kami haus ! Kami  tanya ibu Ina,peti masih lama ka ? ibu Ina bilang sabar sedikit lagi. Dan ketika peti datang, kami bilang ,ibu Ina, bisakah mama langsung dimasukan kedalam peti supaya kami bisa tuntaskan pekerjaan kami, agar  kami bisa keluar dari ruangan itu, menulis laporan, bisa minum air, bisa mandi. Dan keluarga pun mengiyakannya. Langsung disaat itu, Bapa dan beberapa anggota keluarga meminta maaf  kepada saya dan beberapa teman : ” Ibu kami minta maaf,dan terima kasih banyak .”  Jadi waktu itu kami sangat terharu menyaksikan itu semua. Tapi ternyata di kemudian hari ibu Ina posoting di medsos yang membuat kami  terperangah ! “ Ah,jadi waktu itu, maaf dan terima yang terucapkan  itu sandiwara kah ibu Ina ? Kami merasa sangat sakit hati ibu Ina !”ucap suster Yeti kesal.

Tentang kondisi terakhir di ruangan perawatan pasien Sebastiana Sedo itu pun dibenarkan dokter jaga IGD, dokter Ika. Dirinya pasca menerima informasi tentang kondisi pasien tersebut pun langsung bergegas menuju ruangan Iso Covid, mengenakan APD  dan langsung masuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien.

Selain petugas, ada beberapa anggota keluarga pasien di dalam ruangan pasien itu. Dokter Ika lantas melakukan pemeriksaan. Dan ternyata pasien tersebut sudah tidak bernyawa lagi.

“Bersamaan itu pula, saya sampaikan hasil swab kedua itu kepada ibu Ina dan anggota keluarganya yang laki-laki,  bahwa hasil swab mama  terkonfirmasi Positif. Tapi kayaknya keluarga keberatan sekali. Mereka bilang, kenapa dari pengambilan awal hingga  pengambilan yang kedua ini hasilnya cepat sekali dok ? Saya tidak terima dok, saya tetap berpegang teguh pada swab pertama yang negatif. Begitu kata mereka. Saya KIE lagi,  untuk pemulasaran jenasah sesui prokes, tetapi keluarga tetap  tidak mau.Karena mereka mau memberikan penghormatan terakhir untuk mama. Demikian keterangan dari saya.” kata dokter Ika.

Penjelasan lanjutan seputar rekam medik dan kisah penanganan medis terhadap pasien Sebastiana Sedo di ruangan  Iso covid tersebut serta standarisasi perawatan pasien yang reaktif rapid baik antibodi/antigen maupun  positip swab pun ditambahkan secara detail oleh dokter Ahli Penyakit Dalam, dokter Natalia dan Kabid Perawatan pada RSUD Hendrikus Fernadez, ,dokter Fahri .

Sedangkan  Petrus Nama Kedang maupun Maksi Tukan dan Ina Kedang usai mendengar penjelasan  pihak RSUD tersebut pun masih menggerogoti  pihak Pemkab Flotim yang diwakili Sekda Paulus Igo Geroda, dan pihak RSUD Larantuka akan kenyataan yang mereka alami itu.

Walau demikian pihak keluarga sebagaimana yang diugkapkan Maksi Tukan,sungguh memberikan apresiasi  kepada  Sekertaris Daerah Kabupaten Flores Timur yang telah memediasi mereka dalam pertemuan itu.

Tak lupa mereka menitip pesan akan realitas yang teralami mereka, soal oksigen habis, infus terlepas,dan lain-lainnya, kiranya menjadi perhatian serius, dan berharap bahwa itu hal itu berakhir pada keluarga mereka.

Sekda Paulus Igo Geroda dalam kata tutupnya pun menilai pertemuan ini merupakan pertemuan yang sungguh berarti,baik bagi Pemerintah maupun keluarga  yang merasa pelayanan belum maksimal.

“Ruang ini menjadi ruang yang baik untuk kita saling mendengar satu sama lain. Dan ruang inilah menjadi harapan kita bersama. Pemerintah tentu tidak menutup diri untuk menerima masukan-masukan dari  masyarakat, dalam kaitannya dengan pelayanan. Karena memang tugas pemerintah memberikan pelayanan. Tentu pelayanan itu dalam batas-batas tanggungjawab yang diberikan. Saya percaya, teman-teman petugas kesehatan memiliki profesionalisme  untuk melakukannya.Mereka memiliki kode etik, mereka melakukan sumpah profesi,tetapi sebagai manusia,bila dalam pelayanan ada hal-hal yang lemah, berikan masukan-masukan yang baik dan santun, agar mereka dapat melaksanakan pekerjaanya dengan baik. Itu menjadi harapan kita bersama.Masukan-masukan  tadi akan menjadi perhatian Pemerintah kedepan.Dan kepada teman-teman nakes di RSUD dan Puskesmas,tetaplah bertugas dengan baik, marilah kita mengabdi dengan hati, karena masyarakat kita adalah masyarakat yang mendapat pelayanan dari kita.”pinta Sekda Igo Geroda menentramkan .*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment