Situaasi Pertemuan Gugus Tugas Kecamatan Adonara Dengan Warga Di Dusun 3 (Binongko) Desa Sagu, Minggu (31/5). Foto: BNN/doc.ako/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Pasca terumumkan hasil pemeriksaan spesimen swab milik AL (55) asal Kabupaten Flores Timur terkonfirmasi Positip Covid-19 oleh Tim Gugus Tugas Propinsi NTT yang kemudian dilanjutkan oleh Satuan Gugus Tugas Kabupaten Flores Timur di Jumat, 29 Mei 2020 silam, sontak bermunculan pula pernyataan-pernyataan miring bernada meragukan hasil pemeriksaan tersebut.

Beberapa warga net bahkan menulis pada akun facebooknya tentang keraguan mereka terhadap hasil yang terumumkan itu. Tak sekedar menyangsikan, penetapan status AL asal Dusun Binongko,Desa Sagu, Kecamatan Adonara sebagai Pasien 02 Flotim itu pun dituding sebagai bagian dari rekayasa pihak Pemerintah untuk menghabiskan anggaran penanganan Covid!

Tak hanya terhambur pada laman facebook, pernyataan-pernyataan tersebut juga  terungkapkan tatkala Tim Gugus Tugas Kecamatan Adonara melakukan pertemuan pendekatan pesuasif-humanis edukatif dengan warga di dusun Binongko, Desa Sagu, Minggu (31/5).

Walau berakhir dengan kesepakatan warga  untuk menjalani pemeriksaan Rapid di keesokan harinya, Senin (1/6), namun dalam pertemuan tersebut, barisan Camat Ariston Kolot Ola dibombardir oleh protes warga sembari meminta bukti hasil pemeriksaan Laboratorium Bio-Molekuler RSUD W, Z Yohanes tersebut. Biar jelas dan lebih detail, Camat Ariston pun berjanji akan ‘menghadirkan’ Gugus Tugas Kabupaten Flotim ke wilayah itu.

Sembari mengundang oknum-oknum yang meragukan hasil lab itu untuk hadir dalam pertemuan Gugus Tugas Kabupaten nantinya, Camat Adonara tersebut pun terus menancapkan keharusan pelaksanaan Test Rapid bagi mereka yang pernah berkontak erat dengan Pasien 02 itu.Ditunjangi dengan dengan kesediaan Pemdes Sagu menyiapkan sarana antar jemput, tersepakatilah mereka untuk menjalani pemeriksaan Rapid tersebut.

Manisnya kesepakatan di hari terakhir  bulan Mei 2020, tak semanis kenyataan di hari pertama Juni 2020. Tim Kesehatan Gugus Tugas Kabupaten Flotim dan Gugus Tugas Kecamatan Adonara yang telah siaga di Puskesmas Sagu, Senin (1/6) pukul 09.00 Wita, pun terperangah tatkala Kades Sagu mengabarkan bahwa mereka sudah tidak mau datang Lagi! Camat Ariston Kolot Ola pun langsung membangun koordinasi internal Satuan Gugus Tugas Kecamatan Adonara, menyikapi berpalingnya kesepakatan itu.

“Tim Gugus Tugas Kecamatan Adonara lalu menyarankan agar persoalan ini diambil alih oleh Gugus Tugas Kabupaten Flotim.Dan saya pun langsung menyampaikan kenyataan itu kepada Ketua Pelaksana Satuan Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flotim seraya meminta pihak Kabupaten untuk turun melakukan pendekatan edukatif terhadap warga,” ujar Camat Ariston ketika dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com.

Perubahan besar terjadi di Rabu, 3 Juni 2020. Dalam pertemuan bersama Tim Gugus Tugas Kabupaten Flotim tersebut, tidak lagi terdengar luapan permintaan bukti hasil Lab maupun gelindingan pernyataan-pernyataan yang  meragukan tentang hasil Lab, sebagaimana yang gencar diteriaki sebelumnya. Siraman edukasi yang  dialirkan Asisten I Setda Flotim (Koordinator Humas Gugus Tugas Flotim), Abdul Razak Cakra, Kadis Kesehatan (jubir Gugus Tugas), dokter Ogie Silimalar dan anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Flotim, Muhidin itu pun tersambut dengan gerogotan soal kesimpangsiuran  pendataan contact tracking.

Protes pun terjadi lagi dengan substansi baru, yakni menolak data contact tracking hasil kerja gabungan Tim Gugus Tugas Kabupaten dan Gugus Tugas Kecamatan Adonara di Sabtu (30/5) itu. Dari ke-22 nama yang terlingkari dalam maping contact tracking tersebut, 21 diantaranya menolak menjalani Test Rapid lantaran merasa tidak pernah berkontak erat dengan Pasien 02.

dr.Ogie Silimalar

“Hanya Imam Mesjid di wilayah itu yang kemudian rela menjalani pemeriksaan Rapid. Ke-21 warga lainnya menolak ! Kita sudah jelaskan pola tracking kontak erat itu, bermula dari A, kita mendapatkan informasi bahwa Pasien 02 pernah duduk berbincang-bincang dengan si B dan seterusnya. Kami juga mendapatkan informasi tentang kebiasaan di masjid bahwa setelah aktivitas ibadat, beberapa di antara mereka masih duduk bersama P-02 ini, mereka berdiskusi dan melanjutkan doa secara pribadi. Dari beberapa sumber informasi tersebut,Tim lalu mengidentifikasi nama-nama warga tersebut dan mendapatkan ke-22 nama itu. Namun mereka menolak dan bersikukuh menegaskan kalau mereka tidak pernah berkontak erat dengan Pasien 02 tersebut. Hanya Imam Masjid yang mau melaksanakan pemeriksaan Rapid. Turut bersama Imam Masjid tersebut, Kades Sagu dan Camat Adonara. Ketiga mereka Non Reaktif atas pemeriksaan Rapid itu,” tutur Jubir Gugus Tugas Kabupaten Flotim,dokter Ogie Silimalar mengisahkan penolakan warga Dusun Binongko, di Desa Sagu tersebut.

Siapakah AL, Pasien 02?

AL (55) adalah seorang Pembantu Imam Masjid di kampungnya. Selain menjalankan tugas keagamaannya, AL kesehariannya adalah seorang nelayan. Dengan sebuah perahu motor miliknya, AL menunaikan aktivitas rutinnya seorang diri di setiap harinya.Hasil tangkapannya itu kemudian dijual oleh istrinya. Aktivitasnya tersebut pun dijalankannya, sekembalinya dia mengikuti kegiatan Keagamaan di Gowa pada pertengahan Maret 2020 silam.

Dalam proses screening tatkala tiba di Pelabuhan Larantuka (24 Maret 2020) dengan menggunakan Kapal Lambelu, AL bersama ketiga rekannya terdata berasal dari Makasar. Pencekingan thermal gun,AL bersuhu normal. Semuanya baik adanya. Walau sehat adanya, namun Tim Gugus Tugas Kabupaten disaat itu, tetap  mengarahkan mereka untuk melaksanakan karantina mandiri-14 hari.

Demikianlah AL menjalani kehidupan normalnya pasca menyelesaikan tahapan karantina mandiri itu. Baik menunaikan rutinitasnya sebagai seorang nelayan, AL pun aktif melaksanakan peribadatan di Mesjid.

Pasca merebaknya jumlah penderita covid-19 di berbagai daerah di Indonesia yang berasal dari klaster Gowa, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flores Timur pun melakukan penelusuran. Dan dari hasil penelusuran tersebut. Tim pun berhasil mengidentifikasi AL bersama ketiga rekannya itu. Keempat warga  Desa Sagu tersebut pun mengakui mengikuti kegiatan Jemaah Tabligh di Gowa!

Setelah menemukan ke-4 pelaku perjalanan klaster Gowa itu,Tim Gugus Tugas Kabupaten pun melaksanakan pemeriksaan Rapid pertama di 5 Mei 2020. Keempat mereka Non Reaktif! Sepuluh hari kemudian, keempat mereka kembali menjalani pemeriksaan Rapid kedua.Dan di pemeriksaaan kedua itu, hanya AL diketahui Reaktif!

Karena berasal dari klaster yang terpapar, dan untuk menenangkan warga lainnya, AL pun kemudian dipindahkan dari tempat huniannya ke ruangan isolasi RSUD dr.Hendikus Fernandez Larantuka, pada Minggu (17/5) pagi. Pada Jumad (22/5) sampel swab AL pun dikirim bersama 6 sampel lainnya ke Kupang untuk menjalani pemeriksaan pada Lab Bio-Molekuler RSUD Prof.W.Z Yohanes. Seminggu kemudian,di Jumad (29/5),  pihak Gugus Tugas Propinsi NTT mengumumkan AL, terkonfirmasi Positip Covid-19.

Pihak Gugus Tugas Kabupaten Flotim pun melanjutkan mengumumkan 4 hasil yang dikeluarkan pihak Laboratorium Bio-Molekuler RSUD Prof W.Z Yohanes Kupang di hari itu. Tiga diantaranya Negatif Swab, dan satu (1) terkonfirmasi Positif Covid-19. Dan dari ke-4 warga Desa Sagu klaster Gowa itu, hanya AL yang terkonfirmasi Positif Covid-19.

Hingga kini,Satuan Gugus Tugas Kabupaten Flotim,masih menunggu hasil pemeriksaan  spesimen swab kedua milik AL, dan spesimen ke-4 milik RB, pasien 01 yang dikirim pada Jumat, (5/6).

Menelisik Arus Protes di Dusun Binongko

Walau mengaku tidak puas dengan hasil contact tracking tersebut, namun beberapa warga di dusun 3 Desa Sagu tersebut membenarkan kalau ada pihak diluar dusun mereka yang selalu aktif meneriaki protes-protes tersebut. Bahkan tersebutkan, ada elite di desa tersebut yang mengarahkan beberapa warga  untuk pergi melaut saja ketimbang mengikuti pemeriksaan Rapid.

Persoalan lain yang memicu rasa tidak simpatik warga di wilayah Binongko atas pendekatan komunikatif-edukatif Tim Gugus Tugas Kecamatan bersama Pihak pemerintah Desa di Minggu (31/5) adalah ketidak adilan kuota penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

“Kalau tentang virus ini, pihak Pemdes Sagu datang dan aktif sosialisasi tentang virus. Namun kalau BLT, tidak! Sungguh tidak adil! Di dusun 3, hanya ada 10 penerima, sedangkan di dusun 1 dan lainnya sekitar 50 penerima.Nah, kadang kami berpikir,ada apa dengan kami di Binongko (dusun 3) ini  sehingga untuk urusan lain semisal BLT Dana Desa, serba tertutup, namun soal Covid ini mereka getol datang sosialisasi?,” ujar beberapa warga dusun Binongko menyesalkan kondisi ketidak adilan yang mereka hadapi.

Sejalan dengan litani keanehan tersebut, beberapa sumber tersebut pun merasa aneh dengan gelindingan protes yang tersuarakan oleh warga Sagu di luar dari Dusun Binongko itu. Lebih anehnya lagi,beberapa warga Binongko pun diarahkan untuk melaut saja, ketimbang mengikuti pemeriksaan Rapid di Senin (1/6) itu.

Namun terkait dengan contact tracking , lagi-lagi  mereka pun menyesalkan hasil kerja Tim Gugus Kecamatan Adonara dan Gugus Tugas Kabupaten Flotim tersebut.

“Wajar kalau warga menolak, karena setelah  nama-nama itu terbaca, mereka merasa tidak pernah melakukan kontak erat dengn Pasien 02 itu. Kami sangat kenal Pasien 02 itu. Dia setelah menyelesaikan masa karantina mandirinya, dia melaut. Pergi pagi, malam baru pulang. Entah seperti apa di masjid karena dia adalah Imam Pembantu Masjid kami. Kalau obyektif, hanya ada dua, yakni istrinya dan Imam Masjid. Imam Masjid telah di periksa, tinggal istrinya ! Nah, istrinya sedang dalam keadaan tidak stabil! Jadi, bukan persoalan warga di dusun ini menolak untuk Test Rapid, namun karena akumulasi dari beberapa hal itu seperti tertutupnya informasi soal BLT Dana Desa serta tidak adil di pembagiannya, ada arus protes dari warga di luar dusun kami, ada tokoh dalam desa kami yang berpura-pura manis mengarahkan warga untuk periksa,namun dibelakang sana mengarahkan warga pergi melaut serta ketidabenaran pendataan warga yang katanya berkontak erat dengan pasien 02 tersebut!,” urainya sembari mengharapkan Gugus Tugas Kabupaten dan Pemkab Flotim untuk jeli melihat, menguraikan dan menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi di Desanya itu.

Akses Bagi Warga Sagu Di Tutup

Buntut dari sikap tidak mengindahkan protap penanganan covid-19 tersebut, akses keluar bagi warga Desa Sagu pun ditutup. Camat Klubagolit bahkan langsung mengeluarkan surat himbauannya kepada seluruh Pemerintah Desa di wilayah Kecamatan Klubagolit untuk menutup sementara wilayah Kecamatannya bagi warga Sagu.

Sikap tersebut dilakukannya demi melindungi warganya dari peluang penularan covid tersebut.Kondisi itu akan normal kembali setelah warga Binongko yang telah terdata sebagaimana hasil tracking, menjalani Test Rapid dan diketahui hasilnya.

Bupati  Flores Timur, Anton Hadjon,dan Wakil Bupati Agus Payong Boli, bersama Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flores Timur berkali-kali telah meminta warga Desa Sagu untuk secara jujur melaporkan kepada Tim Gugus Tugas apabila pernah melakukan kontak erat dengan Pasien 02 .Hal itu penting agar dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan Rapid untuk memastikan apakah dirinya pun terpapar virus ini atau tidak! melalui pemeriksaan Rapid.

“Pemerintah berkewajiban melindungi warganya. Agar jangan lagi ada penularan, maka kita putuskan memang. Ya,caranya dengan tracking dan pemeriksaan baik Rapid maupun dilanjutkan dengan Swab bila di hasil Rapid itu Reaktif. Namun langkah bijaknnya adalah bagi  warga yang  pernah berkontak erat, laporkan secara jujur,baik kepada Gugus Tugas Tingkat Desa,Tingkat Kecamatan maupun Gugus Tugas Kabupaten. Mari kita bersama putuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten kita ini,” pinta Bupati Anton Hadjon dan Wakilnya Agus Boli. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment