Sebagian penghuni (Klaster Lambelu) Rumah Karantina Emaus Weri-Larantuka (Flores Timur)-NTT, ketika melakukan aksi protes di Jumat (8/5). Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Usai mendapatkan laporan hasil pemeriksaan sampel SWAB mereka Negatif, kedelapan (8) penghuni rumah karantina  Emaus-Weri, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur-NTT, memutuskan untuk meninggalkan rumah karantina  tersebut pada besok, Kamis (14/5).

Sebelum meninggalkan hunian khusus tersebut,kedelapan  dari 17 pelaku perjalanan klaster Lambelu-Maumere itu akan menjalani pengambilan sampel SWAB kedua hari ini, Rabu (13/5).

“Setelah menyampaikan hasil pemeriksaan sampel SWAB  mereka dari pihak Laboratorium Eijkman Jakarta  dengan hasil Negatif itu serta atas pertimbangan lamanya waktu mereka menjalani masa karantina (melebihi waktu normal karantina), maka kami menawarkan  dua opsi  kepada mereka yakni tetap bertahan di rumah karantina Emaus hingga hasil pemeriksaan SWAB tahap kedua ini keluar, atau meninggalkan lokasi Emaus, kembali ke kampung halamannya masing-masing namun wajib  menjalani tahapan isolasi mandiri selama 14 hari. Dan ternyata mereka memilih opsi kedua itu!,” ujar Ketua Pelaksana Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flores Timur, Paulus Igo Geroda kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (12/5) pukul 18.00 Wita.

Terhadap keputusan mereka itu, Pemkab Flotim melalui Tim Satuan Gugus Tugas Kabupaten Flotim telah membangun koordinasi  dengan pihak Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa asal ke-8  pelaku perjalanan yang non reaktif SWAB tersebut serta meminta mereka untuk melakukan penjemputan dan selanjutnya bersama Tim Satuan Gugus Tugas Kecamatan dan Desa melakukan pemantauan selama  ke-8 warga tersebut melaksanakan tahapan isolasi mandiri.

Sedangkan kedelapan eks penumpang Kapal Lambelu  lainnya tetap terus melanjutkan masa karantina pada lokasi karantina Emaus hingga datangnya hasil pemeriksaan SWAB pertama mereka, demikian Paulus Igo dalam penjelasan tambahannya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, setelah tiba di Pelabuhan Laut Lorens Say Maumere Kabupaten Sikka pada 7 April 2020 silam, ke-17 pelaku perjalanan asal Flores Timur ini langsung dijemput oleh Tim Satuan Gugus Tugas Kabupaten Flotim. Perjalanan malam itu ke Larantuka pun kandas,l antaran sopir bus yang telah disiapkan Pemkab Flotim itu kembali membelokkan kendaraannya dan menurunkan mereka di lokasi karantina Maumere (SCC).

Kabar tentang kedatangan mereka yang bakal menempati lokasi karantina pada SMK ANCOP Likutuden, Kecamatan Demong Pagong tersebut pun mendapat reaksi penolakan warga di seputaran lokasi karantina yang telah disterilkan itu. Hal yang sama pun terjadi tatkala Bupati Anton Hadjon bersama barisan Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaen Flores Timur menyiapkan tempat karantina pengganti di SKB Dinas PKO Flotim, keesokan harinya, 8 April 2020, pukul 10.00.

Arus protes warga Kelurahan Sarotari Timur terus mengalir semenjak persiapan tempat hunian sementara bagi ke-17 eks penumpang Lambelu tersebut. Sembari menenangkan warga dengan aliran penjelasan-penjelasan logis, Bupati Anton Hadjon, Wabup Agus Boli, Kadis Kesehatan ,dokter Ogie, Kapolres Flotim AKBP Deny Abrahams serta Dandim 1624, Letkol  inf Komang Agus dengan setia memastikan kesiapan lokasi karantina tersebut!

Tak pernah beranjak dari areal SKB semenjak pukul 09.00 Wita, Bupati Anton Hadjon tatkala bus pembawa ke-17 eks Lambelu tersebut masuk kawasan SKB pada pukul 21.49 wita, terus melambaikan tangannya hingga terpal pembatas itu ditutup. Dirinya baru meninggalkan lokasi karantina khusus itu tatkala tim medis menyelesaikan pekerjaan mereka di malam itu!

Aktivitas ke-17 pelaku perjalanan di lokasi karantina khusus tersebut pun berjalan  dengan tetap mengikuti protap penanganan Covid-19. Dua kali mereka menjalani pemeriksaan Rapid. Di pemeriksaan pertama, Rapid Test  memperlihatkan tanda non reaktif untuk ke-17 mereka. Namun di pemeriksaan kedua, alat tersebut memperlihatkan tanda reatkif pada RB (33), istri Rslan.

Bersamaan dengan habisnya ‘masa kontrak’ penggunaan SKB sebagai tempat karantina, ke-17 pelaku perjalan tersebut lalu dipindahkan ke hunian baru di Emaus-Weri.  RB yang reaktif Rapid itu pun menempati sebuah kamar khusus bersama suaminya, Rslan.

Seiring dengan aktivitas pemutusan mata rantai Covid-19 di daerah tersebut, Bupati Anton Hadjon lantas membangun koordinasi dengan Bupati Sikka untuk mendapatkan peralatan VTM  plus tenaga ahli untuk keperluan pengambilan sampel SWAB bagi ke-17 penghuni rumah karantina Emaus itu. Tidak saja mendapatkan 9 VTM, tim dokter yang direkomendasikan Bupati Sikka tersebut bahkan juga melatih tim medis yang telah disiapkan Pemkab Flotim untuk menangani Covid-19, tentang hal-hal teknis pengambilan sampel SWAB hingga penyimpanannya.

Memaksimalkan 9 VTM tersebut, sampel SWAB pun di prioritaskan bagi ke-9 dari 17  mereka yang secara klinis memperlihatkan gejala, termasuk RB yang telah reaktif berdasarkan hasil Test Rapid kedua itu.  Semula ke-9 sampel SWAB  tersebut hendak di kirim ke Surabaya, namun akibat kehabisan reagen pada laboratorium Surabaya, ke-9 sampel SWAB asal Kabupaten Flores Timur itu lalu diberangkatkan ke Jakarta (27 April 2020) dengan tujuan Laboratorium Eijkman Jakarta via penerbangan Garuda Airlines (Kupang)

Pada Rabu, 6 Mei 2020, pihak Eijkman Jakarta menyampaikan satu hasil pemeriksaan sampel SWAB asal Flotim kepada Satuan Gugus Tugas Propinsi NTT. Dan sebagaimana yang terumumkan oleh pihak Satuan Gugus Tugas Propinsi NTT di hari Rabu (6/5)  siang itu, pemilik sampel itu Terkonfirmasi Positip!

Dengan tenang, Satuan Gugus Tugas Kabupaten atas keluarnya hasil tersebut, langsung melakukan evakuasi RB dari kamar huniannya pada malam itu juga  ke ruangan isolasi RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka. Pelaksanaan evakuasi sembari melentingnya informasi RB terkonfirmasi positip itu sungguh mengagetkan penghuni karantina lainnya. Aksi pemberontakan pun spontan mengalir. Bahkan mereka berniat meninggalkan lokasi karantina tersebut di Jumat (8/5).

Bertubi-tubi penjelasan Bupati Anton Hadjon bersama Wakil Bupati Agus Boli dan Dandim 1624, Letkol inf Komang Agus, tentang kenapa mereka masih berada di lokasi tersebut, ditangkis mereka dengan balasan mempersalahkan  ketertutupan informasi dan penanganan terhadap mereka, ketika sudah mengetahui RB reaktif Rapid kedua tersebut.

Kecemasan mereka dalam penantian hasil pemeriksaan ke-8 sampel sisanya pun sirna dan berubah gembira ketika Ketua Pelaksana Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid Kabupaten Flores Timur, Paulus Igo Geroda melakukan pertemuan bersama mereka dan menyampaikan hasil tersebut. Negatif! Mereka pun dengan riang mengikuti pengambilan SWAB kedua, dan memilih untuk melanjutkan tahapan isolasi mandiri di kampung halaman mereka dengan patuh! (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment