Kondisi tanaman jagung  di beberapa lahan di Flores Timur yang terserang ulat Grayak . Foto: BNN/distanhan.doc/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Serangan  ulat Grayak pada tanaman jagung di Kabupaten Flores Timur kian meluas. Berdasarkan data sementara yang terhimpun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur,per 31 Januari 2020, luas serangan ulat Grayak tersebut telah mencapai 4.388 ha dari sebelumnya pada posisi 21 Januari 2020  menyerang  4,031 ha. Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon terhadap kenyataan ledakkan serangan  Spodoptera frugiperda  tersebut, lantas menetapkan kondisi itu sebagai Keadaan  Luar Biasa (KLB).

Pengumuman atau penetapan status   Flores Timur KLB  Ulat Grayak oleh Bupati Flotim tersebut ,dibenarkan  oleh Plt.Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten  Flores Timur, Ir.Antonius Wukak Sogen ketika dikonfirmasi wartawan di gedung DPRD Flotim, Jumad (31/1).

“Berdasarkan himpunan data lapangan  sementara oleh tim kami, serangan OPT jenis ulat Grayak ini kian meluas. dan Pak Bupati sudah menetapkannya sebagai KLB ,serta merestui anggaran khusus penanganan kurang lebih  136 juta Rupiah untuk pengadaan Peptisida dan peralatan aplikasi, termasuk antisipasi jangan sampai serangan itu merambat untuk tanaman lainnya. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi  melalui Dinas Pertanian Propinsi dan Kementerian Pertanian melalui Direktur Perlindungan Tanaman . Hari Senin ini (3 pebruari 2020)  pasokan Peptisida dan peralatan bantuan dari Propinsi dan Pusat tiba disini  untuk membackup pasokan kita yang kian menipis ini. Tim Kementerian Pertanian cq Dirjen Perlindungan Tanaman pun akan datang melihat langsung kondisi ini pada Senin ini ! “ungkap Wukak Sogen.

Pemantauan dan pengendalian

Terkait upaya pengendalian terhadap serangan ulat Grayak itu, Anton Wukak menjelaskan, timnya kini sedang berada dilapangan mendampingi  para petani melakukan pengendalian terhadap serangan  hama tersebut . Dari 4.388 ha yang terserang, tim pengendali teknis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah mengendalikan 520 ha ( data per 42 Januari 2020 ) dengan total Peptisida jenis Insetisida 529 liter.

“Untuk pengendalian  terhadap serangan ini, selain secara teknis , di beberapa  desa pada beberapa kecematan menggunakan pendekatan   kearifan lokal  Ibudaya ). Kita hargai itu. Silakan ! Ada juga yang melaksanakan  secara swadaya,terutama bagi petani-petani yang mampu. Ya kita harus menggunakan sistem keroyok . Mudah-mudahan dengan bantuan pihak Pusat dan Propinsi serta anggaran khusus KLB ini, kita mampu menyelesaikan persoalan ini! Tinggal saja petani kita memperhatikan kebunnya. Kebun harus bersih dari rumput, serta terus memperhatikan tanamannya bagi yang menanam jagung dan padi, apakah ada rambatan serangan dari jagung ke padi ? Intinya kita harus keroyok hama ini ! tandas Wukak Sogen. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment