Mantan ketua Kadin Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra.Foto:BNN/dok

Denpasar/BaliNewsNetwork-Upaya hukum banding yang ditempuh mantan ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Bali, Anak Agung Alit Ngurah Wiraputra atas vonis 2 tahun penjara dalam kasus penipuan, tidak membuahkan hasil.

Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar pimpinan I Made Sujana malah menaikan hukuman dari 2 tahun penjara menjadi 3 tahun. Putusan ini sebagaimana termuat dalam website resmi Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Dalam amar putusannya, majelis hakim banding menyatakan, terdakwa Anak Agung Alit Ngurah Wiraputra terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu degan pidana penjara selama 3 tahun,” demikian isi amar putusan.

Terkait putusan banding ini dibenarkan oleh Teddy Raharjo selaku kuasa hukum terdakwa.”Benar, putusan banding dibacakan pada tanggal 1 November 2019 dan menjatuhkan hukuman 3 tahun terhadap klien kami,” kata Teddy yang dihubungi, Senin (25/11/2019).

Menyikapi putusan ini, Teddy mengatakan pihaknya akan mengajukan upaya hukum kasasi. Alasannya, putusan hakim ini tidak mencerminkan rasa keadilan bagi terdakwa.

Menut Teddy, putusan hakim tidak mencerminkan rasa keadilan karena ada pihak lain yang jelas-jelas menerima aliran dana kenapa tidak dijadikan tersangka.

“Dengan demikian kami menilai putusan ini tidak mencerminkan rasa keadilan, karena itu kami mengajukan upaya hukum kasasi dan memori kasasi secepatnya kami kirim ke Pengadilan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Anak Agung Alit Ngurah Wiraputra yang dijadikan terdakwa dalam kasus penipuan pengurusan izin pelebaran kawasan pelabuhan Benoa, Kamis (15/8/2019) divonis 2 tahun penjara.

Majelis hakim PN Denpasar pimpinan Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi dalam amar putusannya menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP.

Vonis ini lebih ringan 1 tahun 6 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU)  I Gede Raka Arimbawa yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 3 tahun Dan 6 bulan.

Seperti diberitakan pula, kasus yang menyeret Alit Wiraputra ini berawal saat korban Sutrisno Lukito Disastro bersama terdakwa sepakat bekerja sama untuk membentuk sebuah perseroan terbatas (PT) dengan nama PT Bangun Segitiga Mas.

Perusahaan tersebut nantinya akan digunakan untuk pengembangan dan pembangunan kawasan pelabuhan Benoa, Denpasar. Guna mengurus proses perizinan dan sebagainya, korban bersedia menyediakan dana sebesar Rp 16 miliar yang dicairkan secara bertahap.

Terdakwa yang diketahui dekat dengan pejabat pemerintahan, anggota dewan, LSM, serta tokoh-tokoh masyarakat ini berjanji akan menyelesaikan segala perizinan hingga tuntas.

Terdakwa kemudian menghubungi tiga orang saksi Candra Wijata, Made Jayantara dan Putu Pasek Sandoz Prawirotaltam untuk mengurus perizinan seperti izin prinsip, Amdal, membuat gambar lokasi yang akan dibangun, hingga mengurus surat rekomendasi dari Gubernur Bali.

Kepada ketiga saksi, terdakwa juga menyerahkan uang yakni masing-masing kepada saksi Candra Wijaya sebesar Rp 4,6 miliar, kepada saksi Sandoz diserahkan uang Rp 7,5 ditambah 80.000 USD atau sekitar Rp 800 juta, dan kepada Made Jayantara sebesar Rp 1,1 miliar. Sisanya yang Rp 2,5 miliar dipegang oleh terdakwa.

Karena segala perizinan tidak keluar sedangkan uang sudah banyak dikeluarkan, korban kemudian minta kepada tersangka untuk mengembalikan uangnya. Namun terdakwa seperti enggan bertanggungjawab dan selalu menghindar. Puncaknya, awal Januari 2018, korban melapor ke Polda Bali.(pro)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment