Kumpulan pedagang buah di kawasan Tobo Lara-Hokeng, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur. Foto: BNN/Emnir.

Wulanggitang/BaliNewsNetwork“Mari ibu…, jeruk, salak, apel..! Mari pa…, mangga sepuluh ribu ! Mari no…, rambutan, jeruk, apel, Oa… mari…,jeruk, apel,rambutan…,”demikianlah suara yang serentak terluncur dari kumpulan ibu penjual buah di sudut perkebunan kopi Hokeng, Kecamatan Wulanggitang dikala ada kendaraan yang menepi dan parkir di arena dagangan mereka tersebut.

Tobo Lara atau duduk di jalan, begitulah nama kawasan itu, tempat ke-19 perempuan asal Wolorona, Klatanlo dan juga Padang Pasir, menjajakan aneka jenis buah khas daerah tersebut.

“Dari pagi  usai mengurus anak ke sekolah hingga pukul 17.30 Wita kami berada disini, mengadu nasib lewat buah-buahan ini. Semuanya tergantung nasib atau rejeki. Bila ramai maka keuntungannya pun lumayan. Namun bila sepih maka sepih pula penghasilan disaat itu. Semuanya tergantung pada rejeki masing-masing kami serta cuaca,” tutur Adelheid Letek Kwuan, Maria Oda Hayon dan Resiana Nunang yang sontak menghentikan perbincangan karena beberapa kendaraan roda dua dan roda empat menepi di areal tobo lara itu.

Konsentrasi mereka pun langsung tertuju pada calon si pembeli.Menyapa dengan santun sambil mengajak mereka yang merapat itu untuk membeli buah dagangan mereka. Menanti keputusan calon pembeli, mereka pun terus menerus memangil “Pa, ibu, no, oa, mari… Apel, jeruk, rambutan, mangga sepuluh ribu,dll. Kadang pula, di antara mereka saling merayu tatkala calon pembeli memutuskan membelinya pada seorang di antara mereka. Rambutan milik Adelheid Letek Kwuan pun turut terbeli, walau pembeli memutuskan membelinya pada Maria Oda Hayon.

Berjualan dengan spirit saling menolong dalam semangat persaudaraan, membuat sepenggal sudut di jalur trans nasional Larantuka-Maumere yang tak jauh dari Seminari San Dominggo Hokeng dan Sesabanu serta Biara SSpS Hokeng itu, tak kenal sepih dari kegembiaraan. Dari Tobo Lara-Hokengke-19 ibu-ibu itu mengolah kehidupan keluarganya dalam spirit kebersamaan penuh cinta. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment