Mantan Kepala BPN Badung, Tri Nugraha saat bersaksi di muka sidang.Foto:BNN/pro

Denpasar/BaliNewsNetework-Sidang dugaan penipuan kasus jual beli tanah senilai hampir Rp149 miliar yang melibatkan mantan wakil gubernur (Wagub) Bali Ketut Sudikerta kembali bergulir.

Kali ini mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten Badung Tri Nugraha akhirnya memenuhi panggilan sebagai saksi di Pengadilan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Artha  mencecar dari awal sidang soal uang Rp10 miliar yang diterima oleh Tri Nugroho dari Sudikerta.

Jaksa meminta Tri menjelaskan uang Rp10 miliar tersebut. Dalam penjelasannya Tri menyebut jika uang itu adalah hutang dari Sudikerta. “Uang sudah saya kembalikan, ada kuitansinya juga,” kata Tri di ruang sidang pada Kamis (14/11/2019).

Mendengar jawaban itu jaksa menyinggung soal hasil pemeriksaan di Polda Bali jika disebut jika uang Rp 10 miliar itu adalah uang fee penjualan tanah oleh Sudikerta kepada pihak Maspion Grup.

Mendapat pertanyaan itu, Tri kembali menegaskan jika dalam percakapan telepon adalah fee tapi saat bertemu adalah pinjaman. “Jadi itu pinjaman karena kan gak ada prestasi dari saya, saya hanya tanda tangan saja,” paparnya.

Jaksa juga menanyakan soal apa ada pertemuan dengan Sudikerta? Tri menjawab kalau sempat diajak ke Surabaya bertemu pihak Maspion sebagai calon pembeli.

Kontak yang lain adalah ketika tanah sudah laku, Sudikerta telepon mengabarkan tanah sudah laku. “Lalu saya bilang saya pinjam dong pak,” terangnya.

Saat ditanya soal adanya dua sertifikat, Tri menjawab tidak tahu. Namun dia menegaskan bahwa, serifikat yang asli adalah sertifikat yang ditandatanganinya. 

Kemudian saat ditanya bagaimana proses penerbitan sertifikat, Tri mengaku tidak tahu. Sebab, saat dia menjabat sebagai ketua BPN Badung, dia hanya tinggal menandatangani sertifikat yang sudah jadi. 

“Soal proses saya tindak tahu, mungkin bisa tanyakan sama pak Andre (mantan ketua BPN Badung). Saya hanya tandatangani saja.” tegas Tri Nugraha.

Ketua majelis hakim Esthar Oktavi sempat menanyakan soal penggunaan uang Rp 10 miliar yang dipinjam saksi dari terdakwa Sudikerta. Saksi menjawab uang itu digunakan untuk membeli perkebunan di Sumatera dan di Lombok, NTB. 

“Kok enak sekali ya, pinjam uang Rp 10 miliar tanpa jaminan, saya aja pinjam di bank harus nyicil tiap bulan Rp 5 juta, ini selama 5 tahun kok nggak pakai bunga lagi,” timpal hakim Esthar. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment