Herry Trisna Yuda alias Gus Dek (kanan) saat memberikan kesaksian bersama saksi di BPN Badung. Foto: BNN/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan dan tindak pidana pencucian uang yang menjerat eks Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta digelar Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (31/10/2019).

Dalam sidang kali ini, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali dibawah komando Eddy Artha Wijaya menghadirkan Ida Bagus Herry Trisna Yuda (49) alias Gus Dek, adik ipar Ketut Sudikerta.

Jika sebelumnya AusikeSud dibuat tak berkutik oleh mantan Direktur PT. Pacatu Bangun Gemilang (PBG) Gunwan PdiaPriam, kali ini AusukerSu malah “ditelanjangi” oleh adik iparnya itu.

Gus Dek yang dicecar Majelis Hakim terkait uang Rp 85 miliar menerangkan, pada tanggal 28 Mei 2014 ia disuruh membuka rekening bank BCA oleh Ketut Sudikerta. Setelah itu Sudikerta memberikan cek Rp 85 miliar dan menyuruh Gus Dek memasukkan ke rekening miliknya.

“Awalnya saya bertanya, kenapa uang sebesar ini dimasukkan ke rekening saya, bukan ke rekening perusahaan. Tapi Pak Sudikerta bilang “sudah diam saja”,” ucap Gus Dek menirukan Sudikerta.

Karena masih takut, ia kemudian mencoba bertanya kepada kakaknya, Ida Ayu Ketut Sri Sumiantini, istri Sudikerta terkait uang tersebut. “Tapi pada waktu itu kakak saya menjawab, “sudah bantu saja”,” jelasnya kepada Majelis Hakim.

Ketika ditanya apakah saksi mengetahui uang Rp 85 miliar berasal darimana, Gus Dek mengaku tidak mengetahui. Namun terkait kemana saja uang Rp 85 miliar mengalir, Gus De mengetakan mengetahuinya.

Dia pun mulai mencairkan dana yang di simpan di Bank BCA yang semuanya atas perintah Sudiketa. Transferan pertama ditujukan kepada Ketut Sudikerta dengan jumlah Rp 30. Miliar.

Rinciannya, uang sebanyak Rp 14 miliar diperintahkan Sudikerta untuk di transfer ke rekening Triska Damayanti, Uang sebanyak Rp 2 miliar ditransfer ke rekening Ir Made Gede Putrawan,
Sementara uang Rp 3 miliar yang dicairkan dalam kas yang dibawa Gus De, mengalir ke Made Artha Negara sebanyak Rp 1 miliar.

“Sisanya untuk keperluan Pak Sudikerta dan Rp 50 miliar uang tersbut di depositokan,” jelas Gus Dek. Bulan Juni 2014, lanjut Gus Dek, pencairan deposito pertama sebesar Rp 10 miliar.

Rianciannya, sebesar Rp 3 miliar transfer ke Ketut Sudikerta dan Rp 4 miliar di transfer ke rekening BCA atas nama I Wayan Santoso, Rp 2 miliar ke ajudan Sudikerta bernama Sanjaya dan Rp 300 juta ke terdakwa Wayan Wakil untuk keperluan mengurus sertifikat Balangan.

Sisa uang dari pencairan deposito pertama tersebut di bawa Sudikerta sendiri. “Tugas saya hanya mentransfer saja dan semuanya atas perintah Sudikerta. Dengan orang-orang itu saya tidak kenal termasuk juga dengan Pak Wayan Wakil,” sebut Gus Dek.

Diceritakan pula, pada tanggal 18 Juli 2014 kembali terjadi perncairan deposito II dengan jumlah sebesar Rp 10 miliar. Kata Gus Dek, pencairan tersebut juga atas Sudiketa sendiri, dan dia tidak tau kegunaan uang tersebut.

Rinciannya, deposito atas nama anak Sudikerta, transfer ke rekeining sudikerta sebesar Rp 500 juta, transfer ke rekening Ni Ketut Sri Sumiatini sebanyak Rp 2,5 miliar. Dan uang tunai diserahkah ke terdakwa sudikerta sebanyak Rp 1.4 miliar.

Disebuthya, semua pencairan depsotio II ini atas perintah Sudikerta. Uang tersebut juga dicairakan ke Wayan Wakil untuk membayar tanah sejumlah Rp 200 juta.

Dimuka sidang, Gus Dek juga mengungkap selama dirinya menjalani pemeriksaan di Polda Bali. Katanya saat diperiksa, Sudikerta terus melakukan intimidasi serta tekanan terhadapnya.

Melalui chatting WhatsApp, Sudikerta, mengatakan agar apa pun yang ditanyakan pengacara Togar Situmorang kala itu agar dijawab tidak tau.

“Saya diarahkan seperti itu, setiap pertanyaan yang diajukan penyidik dan pengacara togar agar dibilang tidak tahu,” ucap Gus Dek, seraya menunjukkan print out hasil percakapan Sudikerta melalui WhatsApp. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment