Alim Markus, bos PT. Maspion Grup saat bersaksi di PN Denpasar.Foto:BNN/pro

Denpasar/BaliNewsNetwork-Bos PT. Maspion Grup,  Alim Markus Kamis (10/10/2019)  hadir sebagai saksi dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan dan tindak pidana pencucian uang yang menyeret mantan wakil Gubernur (Wagub) Bali Ketut Sudikerta, Wayan Wakil dan Anak Agung Ngurah Agung sebagai terdakwa.

Alim Markus hadir dalam sidang sebagai saksi korban. Dalam sidang pimpinan Hakim Esthar Okatavi itu, saksi Alim Markus mengatakan awalnya mengenal Sudikerta di tahun 2013 karena dikenalkan oleh Hendri Kaunang yang saat itu menjabat sebagai presiden direktur PT Maspion Grup.

Perkenalkan Alim Markus dengan Sudikerta berkaitan dengan keinginan Sudikerta menjual tanah sekaligus mengajak kerjasama.”Kebetulan saat itu saya juga ingin membangun hotel di Bali,” terang saksi Alim Markus.

Dikatakan pula, kepada saksi, Sudikerta mengaku memiliki dua bidang tanah seluas 41 hektare yang berlokasi di Balangan. “Pada saat itu Sudikerta mengatakan bahwa tanah itu adalah miliknya,” ungkap Alim Markus.

Selanjutnya, terang Alim Markus dilanjutkan pertemuan di Maspion Bank di Surabaya. Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Sudikerta itu menurut Alim Markus adalah membahas soal kongsi kerjasama.

“Kongsi kerjasama seperti apa yang saksi maksud,” tanya salah satu kuasa hukum Sudikerta yang dijawab bahwa, tanah dijadikan modal dan dijadikan agunan ke bank.

Dikatakan pula, setelah semua proses pembayaran selesai, terjadilah kesepakatan antara PT. Marindo Investama milik Alim Markus dan PT. Petatu Bangun Gemilang milik terdakwa Sudirkta.

Dalam kesepakatan itu dibentuklah PT. Marindo Gemilang dengan komposisi kepemilikan saham 55 persen milik Marindo Investasi dan 45 persen milik PT. Pecatu Bangunan Gemilang.

Sementara terkait harga tanah yang tawarkan Sudikerta kepada saksi, dijawab bahwa harga tanah disepakati Rp. 149 miliar yang dibayar dengan dua tahap.

Saat ditanya apakah saksi pernah melihat sertifikat tanah yang ditawarkan? saksi mengatakan terkait masalah itu diserahkan kepada timnya.

Jaksa lalu bertanya, apakah setalah saksi membayar Rp. 149 miliar kemudian hotel bisa dibangun? yang dijawab saksi tidak bisa dibangun. “Kenapa tidak bisa dibangun,” tanya jaksa yang kembali saksi bahwa tidak bisa dibangun karena dia mendapatkan informasi dari polisi bila tanah tersebut memiliki dua sertifikat.

Jaksa kembali menanyakan, apa yang saksi lakukan setelah mengetahui bahwa diatas tanah tersebut tidak bisa dibangun hotel karena ada dua sertifikat? saksi menjawab meminta kembali yang yang sudah dibayarkan.

“Katanya mau dikembalikan, tapi ternyata itu hanya janji janji saja,” jawab saksi. Salah satu kuasa hukum Sudikerta lalu menanyakan kepada saksi, apakah saat menjaminkan SHGB (sertifikat hak guna bangunan) ke bank ada yang merasa keberatan?

Pertanyaan itu dijawab oleh saksi dengan mengatakan, buktinya pihaknya tidak bisa membangun diatas tanah yang sudah dibayar itu. “Kami tidak membangun, kami pasang plang dicabut oleh terdakwa Wayan Wakil,” jawab saksi.

Soal rencana pengembalian uang, juga diungkap oleh saksi Sugiharto. Diketahui, saksi Sugiarto adalah “anak buah” Alim Markus.”Ada upaya untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi kami malah di ping pong tidak jelas dan hasilnya nol,” ungkapnya.

Saksi Sugiharto juga sempat menyebut nama mantan ketua Badan Pertanahan Nasional (BNP) Badung Tri Nugraha. Dikatakannya dia melihat Tri Nugraha di kantor Maspion. “Tapi keperluan apa pak Tri disana saya tidak tahu,” pungkasnya.(pro)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment