Kondisi SMPN II Solor Barat dalam pekerjaan rehab yang didanai DAK Fisik Bidang pendidikan TA 2019. Foto : BNN/doc.yanipah/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork.com-Pelaksanaan pekerjaan rehab dua ruang kelas pada SMPN II Solor Barat di Desa Kalike Aimatan, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, NTT yang didanai DAK Fisik Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2019 senilai Rp 250.000.000 dinilai warga setempat menyimpang dari petunjuk teknis pelaksanaan (Juknis).

Kisah pembentukan panitia pembangunan sekolah (P2S) yang kemudian terjadi perubahan dalam perjalanannya, pelaksanaan penawaran paket rehabilitasi tersebut, pelaksanaan pekerjaan tanpa melihat gambar dan RAB hingga mendapat rekomendasi pembongkaran atap yang sudah dilapisi cat, merupakan sederetan bentuk penyimpangan dari Juknis paket swakelolah tersebut.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Kalike Aimatan Krispinus Kebesa Herin, kepada BaliNewsNetworkcom, Selasa 1 Oktober 2019 melalui sambungan selulernya mengungkapkan, pengangkangan terhadap petunjuk teknis operasional pekerjaan rehab tersebut dimulai dari pembentukan P2S. Komposisi P2S sebagaimana syarat Juknis sama sekali tidak diindahkan. Pembentukannya pun terkesan asal ada.

Hal serupa pun terjadi pada tahapan penawaran pekerjaan. Proses tersebut dilaksanakan serba tertutup. Selain tanpa melibatkan P2S, kepada para tukang, penanggungjawab kegiatan tersebut hanya membeberkan besaran dana, tanpa memaparkan item-item pekerjaan rehab tersebut. Alhasil ketika melaksanakan pekerjaan ,tukang yang menang tersebut kaget dengan kondisi pekerjaan dan meminta penambahan anggaran baginya. Apalagi pekerjaan rehab tersebut mengikuti apa yang diperintahkan penanggungjawab. Para tukang tidak diberi gambar dan RAB.

“Ketika ada monitoring dari Tim Kabupaten, dan menemukan kondisi penyimpangan juknis serta menyaksikan kondisi riil item kegiatan perbaikan tersebut lalu merekomendasikan penanggungjawab untuk mengembalikan formasi P2S sebagaimana pedoman teknis dan memerintahkan membongkar atap (seng) yang telah terlapisi cat itu. Kami kaget, kenapa yang sudah tercat itu harus dibongkar ? Artinya ada sesuatu yang menyalahi atau keluar dari Gambar dan RAB. Sistem swakelolah, tidak menghilangkan aspek transparansi itu sendiri. Kalau sungguh-sungguh berjalan sesuai juknis,gambar dan RAB, maka aman dan lancar-lancar saja, tidak mesti dibongkar !” ungkap krispinus Kebesa Herin yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite SMPN II Solor Barat itu.

Ade Maryani Afen Pah, ST

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) DAK Fisik Bidang Pendidikan TA 2019, Ade Maryani Afen Pah, ST yang dikonfirmasi secara terpisah membenarkan kondisi tersebut. Dirinya pasca mendapat laporan terkait kondisi tersebut langsung turun lapangan. Realitas struktur P2S yang tidak sesuai juknis, direkomendasikannya untuk direvisi. Dirinya pun memerintahkan untuk membongkar atap (seng) yang langsung dilaburi cat tanpa menggantikannya dengan seng yang baru.

“Memang benar ada sedikit persoalan yang terjadi di sana. Namun semuanya telah diselesaikan. Saya sendiri ketika menerima laporan dari tim monitoring dinas, langsung turun ke sana. Persoalan di sana sebenarnya adalah persoalan internal, yang tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan rehab itu. Telah ada perubahan komposisi P2S sebagaimana persyaratan dalam juknis. Saya memerintahkan bongkar atap (seng) karena memang ada item pembongkarannya sebagaimana yang tertuang dalam RAB. Apalagi seng yang dibongkar adalah seng lama yang langsung dicat. Kenapa tidak ganti dengan seng yang baru, sedangkan ada item pembelanjaan itu? Semuanya telah berjalan normal, dan tinggal menanti laporan realisasi fisiknya  agar dilakukan pencairan tahap kedua,” jelas Ade Maryani Afen Pah yang diamini Kadis PKO Flotim Bernad Beda Keda.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment