Atraksi Sanggar Lodan Doro dalam ritual Mengarak Tikus keluar kampung, dalam Festival Nusa Tadon, Sabtu (14/9). Foto: BNN/Emnir.

Adonara/BaliNewsNetwork-Di acara pembukaan Festival Nusa Tadon yang diselenggarakan di desa Kiwang Ona, Kecamatan Adonara Timur, Sabtu 14 September 2019, Sanggar Lodan Doro (Kiwang Ona) menampilkan ritual adat odo dopen ipe kuma raya wewa wau atau ritual membebaskan ladang dari serangan hama tikus.

Kehadiran hama tikus yang menyerang tanaman di ladang warga, bagi warga desa Kiwang Ona merupakan tula yang tersebabkan karena telah terjadi ketidakharmonisan antara manusia dan alam.Mereka sungguh memegang teguh falsafah kehidupan bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan karena di antara keduanya terdapat sebuah kekuatan yang  tak tampak oleh indra dan tak dapat dicerna secara akal sehat maupun secara ekologi. Kekuatan tersebut disebut kekuatan kosmik.

Karena sebagai tula,tikus harus diarak keluar kampung kembali ke tempat asalnya melalui ritual adat yang dilaksanakan oleh tuan tanah. Tikus sebagai perusak dinamai mereka dengan sebutan tuan ipe kuma, raya wewa wau atau tuan bergigi pengerat, raja bermulut pemamah.Dan laut bagi mereka (Lamaholot) adalah tempat tinggal tikus maka tikus-tikus tersebut harus dikembalikan ke laut dalam ritual adat odo dopen ipe kuma, raya wewa wau.

 Tak mau rakyatnya menderita, tuan tanah lalu menangkap tikus  di ladang  dan mengaraknya ke tengah kampung dan memanggil ribu ratu (penduduk) untuk datang  bergembira ria semalam suntuk. Mereka menikmati kegembiraan atas tertangkapnya  hama pengerat tersebut dengan bersorak-sorai dalam  gerak tarian dan lagu serta alunan musik tradisional.

Menariknya, tertangkapnya tuan ipe kuma, raya wewa wau itu tidak diikuti dengan pembinasaannya. Bahkan hewan perusak tanaman rakyat itu mendapat penghormatan. Ketika fajar menyingsing, tuan tanah bersama penduduk Kiwang Ona lalu menghantar si raja Tikus tersebut  ke laut, menaikannya ke perahu  dengan   bekal terbaik dari panenan mereka. Aktivitas mengarak atau menghantar tikus dilakukan dengan penuh sukacita.

“Wahai tuan besar , raja agung, ku hantar engkau pergi ke tengah laut bersama ombak dan hempasan gelombang, ku hantar engkau wahai raja agung, bersama desiran angin agar engkau pergi dan  tak akan kembali ! Biarlah panen kami berkelimpahan untuk kehidupan kami, biarlah hasil kami berkelebihan untuk kesejahteraan hidup kami.” pesan tuan tanah disaat melepas pergikan tuan ipe kuma,raya wewa wau tersebut. (Emnir/adv)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment