Saksi korban Kurnia Soetanto bersama saksi Mahendra Anton Inggriyono melihat bukti surat saat sidang di PN Denpasar. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Kasus dugaan penipuan/penggelapan jual beli tanah dengan terdakwa Gunawan Priambodo, Selasa (27/8/2019) kembali dilanjutkan. Sidang yang dipimpin hakim I Dewa Budi Watsara itu masuk pada agenda pemeriksaan saksi.

Ada dua orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Oka Surya Atmaja. Dua saksi itu adalah, Kurnia Soetanto selaku saksi korban dan Mahendra Anton Ingriyono.

Di muka sidang, saksi Kurnia menuturkan, awalnya membeli tanah di Bali untuk menetap dan menikmati masa tuanya. Tapi bukan menikmati, Kurnia malah merasa dibohongi oleh terdakwa.

Di muka sidang, Kurnia membenarkan telah membeli tanah seluas 1462 M2 yang berlokasi di Pecatu kepada terdakwa melalui saksi Anton.

Korban mengaku tertarik membeli tanah itu karena terdakwa mengatakan di lokasi itu nantinya akan dibagun fasilitas yang salah satunya adalah lapangan golf.

“Saya bertemu dengan Anton dan ditawari tanah di Bali. Saya tertarik karena saya ingin menikmati masa tua saya di Bali,” ungkap Kurnia.

“Apakah saksi pernah ditunjukkan sertifikat asli tanah itu,” tanya hakim yang dijawab saksi “tidak pernah”. “Terus kok percaya kalau tanah itu punya terdakwa,” tanya hakim lagi.

Saksi menjawab percaya bahwa tanah itu milik terdakwa setelah mendapat jaminan dari notaris Ketut Nelli Asih.

“Saya sempat mendatangi notaris Neli Asih, saat itu notaris mengatakan tanah itu milik terdakwa dan sertifikat sedang dalam proses balik nama” jawab koban.

Kesaksian korban ini diperkuat oleh saksi Anton. Saksi Anton menjelaskan, sebelum terdakwa meminta bantuanya untuk memasarkan tanah tersebut, saksi Anton juga sempat menemui notaris Nelli Asih karena menurut terdakwa sertifikat ada pada Nelli Asih.

Karena ada jaminan dari notaris, saksi korban akhirnya sepakat membeli tanah di blok 7 seluas 1462 M2 yang ditawarkan oleh saksi Anton dengan harga Rp. 6 miliar yang dibayar dengan cara mencicil.

Setelah korban mencicil kurang lebih Rp. 2,5 miliar, saksi Anton memberitahu kepada korban bahwa ada yang tidak beres dengan proyek milik PT. Bangsing Permai Properti. Ketidakberesan itu terlihat dengan tidak adanya aktifitas pembangunan di lahan yang, katanya, milik terdakwa.

Atas hal itu, korban lalu mencari tahu apa penyebab proyek itu mecet. “Belakangan saya tahu proyek itu macet karena tanah yang saya beli mesuk jalur hijau sehingga tidak boleh dibangun,” terang saksi.

Korban juga mengatakan, terdakwa sempat menawarkan mengambalikan uangnya. Namun hingga kasusnya sampai ke pengadilan, terdawa tidak mengembalikan uang milik saksi korban. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment