Bupati Anton Hadjon berbincang dengan Kadis Pertanian Ir. Anton Wukak Sogen (kkri) dan pejabat lain sebelum saat tatap muka dengan masyarakara Tite Hena. Foto: BNN/IST.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Bupati Flires Timur Antonius H. Gege Hadjon, ST menugaskan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Flores Timur Ir. Anton Wukak Sogen  segera berkoordinasi dengan Bappeda Flores Timur untuk membentuk Tim Percepatan Pertanian di Flores Timur. Penegasan Bupati Anton Hadjon itu disampaikan saat tatap muka dengan para petani se-wilayah Kecamatan Tite Hena di Desa Bokang belum lama ini.

Menurutnya, dari Tite Hena bupati mendapat inspirasi untuk segera membentuk tim percepatan pembangunan pertanian di Flores Timur. Dengan dibentuknya tim tersebut, kata Bupati Anton Hadjon, pemerintah harus mampu memfasilitasi para petani supaya lahan yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal dan juga produktifitas dari apa yang ditanam para petani menjadi maksimal.

“Saya sampaikan kepada Kadis Pertanian segera koordinasi dengan Bappeda Flores Timur dan bentuk Tim Percepatan Pertanian di Flores Timur,” kata Bupati Anton Hadjon.

Menurut Bupati Anton Hadjon, ada satu yang menarik di kecamatan Tite Hena adalah membangun semangat bersama untuk meningkatkan kesejahteraan melalui gerakan reformasi pertanian.

“Saya menyambut baik gerakan itu dan kalau memang menggunakan kata revolusi pertanian seperti yang sudah saya sampaikan itu adalah sebuah perubah yang cepat,” kata Bupati Anton Hadjon.

Bupati juga menyambut baik jika Pemerintah Desa membangun melalui dana desa supaya dapat menyiapkan program untuk mendukung revolusi pertanian dengan membuka lahan untuk menjawabi kebutuhan yang berkaitan dengan produk pertanian.

Selama ini memang petani di Flores Timur selalu mengeluh bahwa hasil pertaniannya itu mau dijual ke mana, banyak keluhan seperti itu dan pemerintah memang mendengar keluhan itu dan pemerintah terus berkonsolidasi supaya apa yang menjadi keluhan para petani itu bisa diwujudkan. Sehingga pemerintah pada saat ini membuat berbagai kebijakan agar kebutuhan yang berkaitan dengan keluhan masyarakat seperti pakan ternak dan lain-lain itu harus mampu disediakan oleh masyarakat sendiri.

“Saya memang mengambil sikap agak ekstrim agar kita mulai berpikir untuk meninggalkan produk-produk luar dan memanfaatkan produk lokal kita. Tadi di sekitar lokasi kita sudah mendiskusikan bersama sehingga komitmen yang sudah kita sepakati bersama itu harus menjadi bagian kita dalam merealisasikan atau melaksanakannya,’ ujar Bupati Anton Hadjon.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja dengan satu alat saja. Pemerintah membutuhkan banyak alat untuk bekerja membuka lahan pertanian bagi masyarakat. Jika ada tim khusus maka pemanfaatan alat berat bisa dibelokan dari urusan Perda. Menggunakan alat berat dengan berdasarkan Perda maka masyarakat harus membayar biaya sebesar Rp 2,5 juta per hari.

“Saya perlu lakukan penyimpangan namun saya juga harus memperkuat supaya saya tidak boleh melakukan penyimpangan secara terus menerus; karena itu saya perlu bentuk tim supaya kita bisa tahu berapa banyak alat berat yang kita butuhkan untuk pertanian di Flores Timur,” kata Bupati Anton Hadjon.

Semua ini, menurutnya, harus dilakukan pendataan dengan baik supaya dapat dilakukan pembelokan dari Perda yang ada untuk pelaksanaan percepatan pembangunan lahan pertanian di Flores Timur.

“Saya dengar banyak permintaan, ternyata dari Tite Hena menjawabi program khusus yakni revolusi pertanian. Kalau pola seperti di Bokang ini bisa kita laksanakan maka kita juga bisa laksanakan di banyak tempat. Hal ini tentu akan membawa keuntungan bagi petani,” kata Bupati Anton Hadjon.

Bupati menilai kebutuhan akan hasil pertanian di Flores Timur masih sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyak perusahan yang sekarang mulai masuk ke Flores Timur. Karenanya bupati meminta mereka untuk juga berada di Flores Timur.

“Tidak hanya datang ambil dan pergi tapi harus tinggal di Flores Timur dan pemerintah membuat kebijakan supaya mereka berada di Flores Timur,” tegas Bupati Anton Hadjon

Lebih jauh bupati berharap agar produk telur ayam yang ada di Tite Hena bisa berkembang sejalan dengan produk pertanian, maka pihaknya untuk sementara berusaha menghentikan masuknya telur dari luar. Dengan menutup pintu seperti itu, kata Bupati Anton Hadjon, akan memaksa yang ada untuk tetap ada dan juga tumbuh usaha-usaha secara individu yang bisa dibangun untuk memenuhi kebutuhan.

“Plt Kepala Dinas Perindag menyampaikan kepada saya, Pak Bupati, ini kalau kita tutup hari ini pasti kita kesulitan telur, saya bilang tidak apa-apa, kalau besok kita tutup dan orang merasa sulit maka mereka mulai berpikir untuk bagaimana menjawabi kesulitan atau kekosongan tersebut,” ujanya

Bokang dengan lahan pertanian yang subur, tentu para petaninya bisa hudup lebih sejahtera dari apa yang dimiliki.

“Kita jangan paksa diri untuk berbuat sesuatu berangkat dari ketidakadaan kita, tetapi kita perlu tingkatkan dari yang kita miliki, katanya. (adv)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment