Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra didampingi istrinya,  Ratna Sari Dewi saat memberi keterangan di hadapan wartawan. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim PN Denpasar terhadap mantan Ketua Kadin Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra dianggapnya terlalu berlebihan dan terlalu berat.

Pasalnya, Alit Wiraputra yang ditemui usai sidang mengaku, dalam kasus ini dia adalah korban dan tidak bermasalah.”Apalagi kasus ini menurut saksi ahli adalah kasus perdata, ” tegas Alit Wiraputra yang ditemui usai sidang, Kamis (15/8/2019).

Dikatakan pula, dalam amar putusan, hakim sama sekali tidak mempertimbangkan soal izin yang keluar atas nama PT. Nusa Mega Penida yang nomor registernya sama dengan rekomendasi milk PT. Bangun Segitiga Mas (BSM).

Sementara terkait yang Rp. 16 miliar yang dikeluarkan oleh korban, menurut Alit Wiraputra, majelis memang menyebut dalam amar putusan bahwa dia (Alit Wiraputra) menerima Rp. 2,1 miliar. “Terus uang yang sisahnya kemana?,” beber Alit Wiraputra.

Karena itu, Alit Wiraputra berharap, laporanya terhadap Made Jayantara, Candra Wijaya dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama di Polda Bali bisa sampai ke Pengadilan. “Saya belum tahu sampai dimana laporan saya, karena belum sempat menanyakan ke pengacara saya, ” pungkasnya.

Diketahui, terungkap dalam fakta persidangan bahwa Made Jayantara, Candra Wijaya dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama disebut menerima aliran dana dari nilai Rp 16 miliar yang dikeluarkan oleh saksi korban, Sutrisno Lukito Disastro untuk keperluan pengurusan izin pelebaran kawasan pelabuhan Benoa.

Diketahui pula, dalam sidang, Alit Wiraputra oleh majelis hakim PN Denpasar pimpinan Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi dinyatakan terbukti melakukan tindakan pidana penipuan dan mengganjar mantan Ketua Kadin Bali itu dengan pidana penjara selama dua tahun. (pro)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment