Kepala UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Flores Timur, Rosalina Kalumata, SE. Foto: BNN/ Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Realisasi penerimaan pajak kendaraan bermotor di Kabupaten Flores Timur senantiasa bergerak naik. Over target penerimaan itu terjadi sejak Tahun 2017 dan 2018. Untuk Tahun 2019, pada hitungan 25 Juli 2019, terdata penerimaan pajak kendaraan bermotor telah mencapai Rp 7.626.951.850.

Kepala UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Flores Timur,Rosalina Kalumata,SE kepada BaliNewsNetwork.com di ruang kerjannya, Jumad 25 Juli 2019 merincikan pada Tahun 2017 dari target penerimaan sebesar Rp 10.605.882.324 pihaknya berhasil membukukan realisasi penerimaan sebesar Rp 11.094.291.650 atau 105 persen

Pada Tahun 2018, UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Flores Timur pun menaikan target penerimaan sebesar Rp 11.719.598.562 dan berhasil  mengumpulkan  Rp 12.863.719.526 atau 109 persen. Sedangkan pada Tahun 2019, barisan Rosalina Kalumata kembali menaikan target penerimaan dengan nominal Rp 13.268.910.298.

“Dari target penerimaan di Tahun 2019 ini, pada posisi 25 Juli 2019, realisasi penerimaan kita sudah mencapai Rp 7.626.951.850 atau 57,48 persen. Benar kita mengalami over target atau melampaui dari target semenjak Tahun 2017, 2018 dan hal yang sama pasti terjadi di Tahun 2019. Kenyataan tersebut membuktikan bahwa kesadaran warga Flotim dalam hal membayar pajak kendaraan bermotor sudah membaik. ” urai Rosalina Kalumata .

Peningkatan capaian target penerimaan tersebut, bukan berarti tidak ada kendala atau hambatan yang dialami pihak UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kabupaten Flotim.Temuan tim Rosaline, di Flotim masih ada banyak kendaraan rusak  yang  oleh pemiliknya (wapa) tidak melaporkan kondisi tersebut ke pihak mereka. Hal serupa pun terjadi pada kendaraan tarikan dealer. Banyak wapa yang tidak melaporkan ke pihaknya. Bahkan ada kendaraan bermotor yang sudah dikirim ke luar daerah Flotim pun tidak melalui mekanisme Samsat sehingga tetap terdata sebagai potensi pajak.

“Selain beberapa point hambatan itu,ada juga hambatan lainnya yang kami alami di lapangan seperti kendaraan yang telah di jual dan tidak melaporkan. Nah, ketika petugas kami mendatangi pemiliknya, pemilik menyampaikan kalau kendaraannya telah di jual kepada si B misalnya. Namun keberadaan si pembeli itu tidak diketahui lagi oleh si penjual (pemilik kendaraan ). Juga ada wapa yang lupa membayar karena fakto kesibukan. Ada yang  menunda membayar karena faktor tertentu, seperti tunggu musim panen Mente dulu. Itu beberapa hal lain yang memicuh terhambatnya capaian target penerimaan, termasuk juga kehadiran kendaraan bodong.”papar Rosaline sembari memberi apresiasi kepada Pemerintah Daerah Flores Timur yang sangat mendukung kerja pihaknnya. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment