Ayah dan Ibunda Fandi Tukan, nelayan asal desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Flores Timur-NTT yang tenggelam di perairan desa Nobo-Nurabelen pada 1 Juli 2019 malam. Foto: BNN/Emnir.

Titehena/BaliNewsnetwork-Hanya ada satu ujud doa dari kedua orang tua dan kedua kakak Fandi Tukan (31) nelayan asal desa Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur- NTT mengiringi upaya pencarian kekasih hati mereka yang tenggelam disaat sedang mancing di perairan antara desa Nobo-Nurabelen pada Senin 1 Juli 2019 malam. “Kami minta Tuhan untuk menunjukan di mana Fandi berada,” demikianlah Siprianus Suban Tukan (ayah) dan Vilomena Fernandes (ibu ) berkisah tentang situasi yang sedang mereka hadapi itu.

Ditemui BaliNewsNetwork.com dikediaman mereka, Dusun Sandore, RT 06/RW 04, Rabu, 3 Juli 2019, baik Sipri Suban Tukan maupun Vilomena Fernandes hanya  sanggup memasrahkan peristiwa yang tak terkirakan sebelumnya itu pada kuasa Tuhan. Sembari meratapi kemalangan yang dialami putra bungsu mereka itu, kedua ayah bunda Fandi tersebut mengungkapkan bahwa mereka di setiap detik hanya berguman dalam hati mereka masing-masing meminta Tuhan untuk memperlihatkan kasih-NYA pada mereka, menunjukkan keberadaan Fandi  kepada Tim SAR Gabungan yang sedang melakukan pencarian Fandi si bungsu mereka itu.

“Sejak mendapat kabar tentang jatuh dan tenggelamnya anak bungsu kami itu, kami hanya memasrahkan kepada Tuhan. Tiap detik kami berdoa, minta Tuhan tunjuk jalan kepada mereka yang sedang mencari anak kami itu agar menemukan, dan membawa pulang dia ke rumah kami ini,” ungkap bapa dan mama Fandi memecahkan keheningan  ruang tamu mereka dengan tangisan dan ratapan yang sungguh menyayat hati.

Fandi,sebagaimana tertuturkan mama Vilomena Fernandes, memang menunjukan sikap yang berubah di Senin, 1 Juli 2019 itu. Fandi yang seminggu sebelumnya  ‘menghilang’ dari rumah, dan baru pulang kembali ke rumah mereka pada Senin 1 Juli 2019 pukul 11.00 wita mendadak menjadi pribadi pendiam. Berubah sangat ! Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Fandi walau terus diberondong dengan pertanyaan dari mamanya. Fandi melakukan aktivitasnya seperti makan dan membereskan senar pancingnya tetap dalam diam. Semua pertanyaan lembut dari kedua orang tuanya pun tak terjawab olehnya. Fandi lalu keluar entah kemana dan kembali lagi  di siang itu untuk minum kopi dan pergi lagi tanpa ada pesan kepada ayah bundanya.

“Kaget dan sangat terpukul ketika mendapat kabar dari adik saya di Selasa, 2 Juli 2019 pagi  itu pak, bahwa Fandi jatuh dari bagan dan tenggelam tadi malam,belum ditemukan. Fandiiiiiiiiiiii…No eeeeee, Fandiiiiiiiiiiii, ema bapaaaaaaa… kame semua jaga mo peung pia lango…. Fandiiiiiii, No eeeeeeee,” ratap mama Fandi yang diikuti dengan isak tangis bapa Fandi .

Sudah beberapa tahapan seremoni adat pun dilakukan oleh keluarga dan Lembaga Adat desa Lewolaga. Baik di pantai  desa Lewolaga maupun di rumah korban,Lembaga Adat di desa pimpinan Kades Niko Frans Beoang itu menyatukan kekuatan adat  dan Tuhan untuk menemukan Fandi. Lilin di pojok  rohani rumah Fandi pun terus bernyala mengiringi doa terucap dan  yang  terdaraskan dalam hati. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment