Direktur PT. Panorama Bali, I Made Anon Antara masih bisa tersenyum walau dinyatakan terbukti bersalah dan dihukum satu tahun penjara. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Direktur PT. Panorama Bali, I Made Anon Antara (48), yang menipu pengusaha muda, Njoo Daniel Dino Dinata dan tiga rekannya senilai Rp.3,9 miliar, Kamis (4/7/2019) divonis satu tahun penjara.

Majelis hakim pimpinan IGN Putra Admaja dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Dewa Gede Anom Rai yaitu menyatakan terdakwa terbukti bersama sama melakukan tindak pidana penipuan.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 378 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.Majelis hakim dalam amar putusannya dengan tegas menolak pembelaan atau pledoi yang diajukan oleh terdakwa.

Dimana dalam pembelaan terdakwa yang disampaikan melalui kuasa hukumnya menyebut bahwa kasus antara terdakwa dengan korban bukanlah kasus pidana, melainkan kasus perdata.

Terkiat ini, majelis beranggapan bahwa pembelaan terdakwa tidak berdasar dan tidak didukung dengan saksi atau bukti yang kuat. “Menolak seluruh pembelaan yang disampaikan kuasa hukum terdakwa, ” tegas majelis hakim.

“Menghukum terdakwa I Made Anom Antara oleh karena itu dengan pidana penjara selama satu tahun, serta menghukum terdakwa untuk membayar biasa perkara,” pungkas hakim dalam putusannya.

Atas putusan yang lebih ringan enam bulan dari tuntutan jaksa itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya, Raja Nasution menyatakan pikir-pikr. Begitu pula dengan jaksa.”Kami pikir-pikir yang mulia,”kata jaksa Kejati Bali itu.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat terdakwa bersama Raja Ashiva Feranas mendirikan PT. Panorama Bali yang bergerak di bidang perdagangan, pembangunan dan jasa menjalin kerjasama dengan beberapa PT.

Diantaranya, PT. Adcosurya Sakti, PT. Suryatama Tiga Mitra, dan PT. Panorama Beach Lemited. Kerjasama ini dituangkan dalam akta nomor : 22 tanggal 12 April 2007.

Selanjutnya PT. Panorama Bali membeli sebidang tanah dengan SHM No: 1584/Desa Pecatu seluas 33.250 M2 seharga Rp. 23.377.100.000 yang rencanya akan dibangun perumahan kondominium, hotel atau kondomium yang akan diberi nama Outriger Panorama Bali.

Setekah itu dilakukan pemecahan SHM No:1584 tersebut menjadi dua SHM yang keduanya atas nama terdakwa. “Terdakwa selaku Direktur PT. Panorama Bali berencana membangun 80 unit kondotel yang nantinya dipasarkan di Indonesia dan di luar negeri,” kata JPU dalam dakwaan.

Awalnya rencana berjalan mulus karena ada beberapa yang tertarik membeli kondotel tersebut dan sudah melukakan pembayaran uang muka senilai 5.918.619 dolar Amerika yang dikirim ke rekening milik PT. Panorama Bali.

Namun dalam pelaksaan pembangun kondotel, pihak PT. Panorama Bali mengadakan kerjasama dengan PT. Adcosurya Sakti, PT. Suryatama Tiga Mitra, dan PT. Panorama Beach Lemited tidak mampu melanjutkan pembangunan kondotel karena kekurangan modal.

Terdakwa akhirnya menawarka kerja sama dengan Njoo Daniel Dino Dinata, Oei Hironemus, Franciscus Andy Susanto, dr. Iwan Tjoegito dan Ny. Lai Mei Jung untuk melanjutkan pembangunan.

Atas tawaran itu, Dino dkk., meminta agar dilakukan uji tuntas (doe diligent) terhadap PT. Panorama Bali. Dari hasil uji tuntas tersebut ditemukan  antara lain bahwa PT.Panorama Bali memiliki hutang sebesar 5000 dolar kapada PT. Panorama Beach Limited.  PT. Panorama Bali juga memiliki hutang Rp. 19.283.443.553  kepada PT. Suryatama Tiga Mitra.

Terdakwa kepada Dino Dinata dkk., membuat MoU yang pada intinya Dino Dinata dkk., diminta menyediakan dana sebesar 3.100.000 dolar digunakan membayar hutang kepada PT. Adcosurya Sakti dan PT. Suryatama Tiga Mitra.

Sedangkan hutang yang lainnya menjadi tanggung jawab PT. Panorama Bali. Dengan demikian, Dino Dinata dkk., menganggap bahwa setelah dilakukan pembayaran tersebut maka hutang-hutang yang miliki oleh PT. Panorama Bali sudah terbayarkan.

Sehingga, jika membeli  saham milik PT. Panorama Bali tidak lagi tanggungan hutang. Setelah itu dilakukan pertemuan antara terdakwa bersama Raja Ashiva Feranas dan Dino Dinata dkk., yang bertempat di Notaris I Ketut Arya.

Dalam pertemuan itu terdakwa bersama Raja Ashiva Feranas menyakinkan Dino Dinata dkk., bahwah saham yang akan dipindahtangankan itu tidak sedang terikat dengan masalah apa apa.

Selain itu keduanya juga memberikan jaminan bahwa saham yang akan dijual tidak sedang dijaminkan atas suatu hutang dan bebas dari segala macam ikatan pembebanan berupa hutang.

Dino Dinata dkk., akhirnya tergiur dan membeli sama PT. Panorama Bali sebesar 90 persen. Namun, setelah saham berpindah tangan, terungkap bahwa PT. Panorama Bali masih memiliki hutang kepada PT. Tunas Jaya Sanur dan dua orang  pembeli kondotel dan mereka melakukan gugatan keperdataan.

Akibat perbuatan terdakwa ini, Dino Dinata dkk., mengalami kerugian Rp. 3,9 miliar dengan rincian, hutang kepada PT. Tunas Jaya Sanur Rp. 2,1 miliar dan hutang kepada dua orang calon pembeli kondotel Rp1.8 miliar. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment