Situasi Pantai desa Lewolaga,kecamatan Titehena di Selasa  (2/7)  pukul 08.30 wita.Foto:BNN/doc.bhabin/Emnir.

Titehena/BaliNewsNetwork“No eeee peung dai, ema niang mo terus pia, dai nong,dai peheng ema tuho kia..Fandi eeee,ema bisa mata pia,ema maring mo eka pana no…,” demikianlah ibunda Fandi,Vilomena Fernandes meratapi kehilangan putra bungsunya Fandi Tukan (31) di Pantai Lewolaga,Selasa 2 Juli 2019 . Memandang laut dengan tatapan penuh harap akan kembalinya sosok buah hatinya Fandi, mama tiga anak itu terus menerus memanggil nama Fandi.

Anakku….marilah kemari, datanglah ke sini, mama menanti datangmu, mama terus menunggumu di sini, datanglah kesini, pegang  tete mama dulu.Fandi anakku……, mama bisa mati dengan hilangmu ini,mama sudah ingatkan engkau,untuk jangan pergi melaut…”ratap mama Fandi sembari membuka bajunya,dan memegang buah dadanya,dan mempersilahkan Fandi anaknya untuk bermanja dengan tete manisnya itu.

Di pinggir pantai desa Lewolaga,ditempat Fandi Tukan bersama rekan-rekan nelayannya menyeruput kopi dan bersenda gurau sebelum dan setelah melaut itu,mama Fandi  memperlihatkan kualitas cintanya.Rindu hatinya  untuk memeluk kembali putra bungsunya itu dipasrahkan total pada kuasa Tuhan lewat seremoni adat dan usaha pencarian Tim Basarnas.

Beberapa saksi mata kepada BaliNewsNetwork.com,Selasa 2 Juli 2019,pukul 18.00 wita mengisahkan ratapan istri Suban Tukan itu sungguh menyayat hati. Banyak warga yang berada disitu pun larut dalam kesedihan  keluarga Fandi Tukan itu dan penuh berharap upaya pencarian tersebut segera membuahkan hasil.

Kisah Fandi sebelum kabar hilangnya

Banyak warga yang menyaksikan perubahan pada diri Fandi Tukan di Senin 1 juli 2019 itu.Sebelum turun melaut,Fandi terlihat lebih rapi dari biasanya.Dia lebih banyak menyendiri,termasuk dengan rekan-rekan sekapalnya (bagan/kelong).

“Menurut cerita,di atas bagan,ketika mereka melabuhkan bagan mereka,Fandi sibuk mancing di bagian depan bagan.Beberapa teman-temannya memilih untuk tidur,tinggal Fandi dan seorang temannya.Fandi mancing,sedangkan seorang temannya sibuk bermain hp di bagian belakang bagan.Pada pukul 00.00 wita,Fandi sempat menanyakan jam pada temannya yang masih terjaga itu.”Sudah jam berapa ?”.Tak ada percakapan lain selain menerima jawaban  itu.Selanjutnya pada sekitar  ,pukul 01.00 wita,Selasa 2 Juli 2019 dini hari,telinga rekannya yang sedang terjaga itu mendengar bunyi bak suara benda yang jatuh ke dalam air.Penasaran dengan keadaan itu,rekannya itu lalu melakukan pengecekan.Ternyata Fandi sudah tidak terlihat di tempatnya tadi.Dirinya langsung membangunkan rekan-rekannya yang sedang tertidur dan bersama-sama melakukan pencarian.Namun hingga pagi,Fandi belum juga ditemukan.”kisah Isma Emar mengutip tutur  yang beredar. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment