Nipu Rp. 57 Juta, Sarah Divonis 2,5 Tahun Penjara

Sarah Barzan Nisha usai menjalani persidangan di PN Denpasar.Foto:BNN/ist

Denpasar/BaliNewsNetwork-Apes nian nasib yang dialami Sarah Barzan Nisha (31) yang menjadi terdakwa kasus penipuan senilai Rp. 57 juta. Dengan nilai kerugian yang tidak begitu besar itu, dia harus mendekam dalam penjara selama dua tahun dan enam bukan.

Sementara dilain pihak, ada kasus penggelapan sertifikat yang menyeret Iwan Dharmadi Wangsa sebagai terdakwa dengan kerugian Rp. 7 miliar hanya dituntut dua bulan dan divonis 1 bulan 15 hari ditingkat banding.

Majelis hakim PN Denpasar pimpinan I Dewa Gede Budi Watsara dalam amar putusnya yang dibacakan dimuka sidang, Selasa (30/4/2019) menyatakan terdakwa Sarah Barzan Nisha terbukti melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan, memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan dan menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara,”tegas hakim Budi Watsara dalam amar putusnya.

Diketahui, putusan ini lebih ringan enam bulan dibanding dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cokorda Intan Merlani Dewie. Jaksa Kejari Denpasar itu menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus ini berawal saat terdakwa yang tinggal di Hotel Amaris Jalan Sunset Road, Kuta, mendatangi kos Hendrikus Hona Mone (saksi) di Banjar Batan Asem, Sempidi, Mengwi.

Saat itu terdakwa mengatakan telah mendapat poin hasil penjualan tiket Garuda Indonesia. Yang mana poin itu bisa ditukar dua mobil dan satu unit sepeda motor. 

Kemudian terdakwa meminta Hendrikus mencarikan pembeli.Hendrikus pun lalu ingat jika temannya bernama Christiana Gamba (korban) pernah bercerita hendak membeli mobil.

Nah, para tanggal 29 Oktober 2018 pukul 09.00 Wita Hendrik mengantarkan terdakwa Sarah ke warung Christiana, di Jalan Kertanegara, Nomor 8, Banjar Poh Gading, Ubung Kaja, Denpasar. 

Sesampainya di rumah korban, terdakwa mengatakan bekerja sama penjualan tiket Garuda Indonesia dan mendapatkan poin.

Poin itu bisa ditukar dengan mobil dan sepeda motor. Untuk mengambilnya, terdakwa harus membayar Rp 25 juta untuk satu mobil.Mobil bisa dipilih antara Rush, Avanza atau Xenia.

Sedangkan untuk mengambil hadiah sepeda motor cukup membayar Rp 5 juta. Sepeda motor yang didapat merek Vario.  Mendengar itu, korban dan suaminya percaya. Pasutir itu akhirnya memberikan uang kepada terdakwa yang dilakukan secara bertahap denhan nilai total Rp. 57 juta.

Setelah menerima uang, 9 November 2018 terdakwa membuat surat palsu untuk pengambilan mobil dan motor yang dimaksud. 

Terdakwa lalu membuat surat dengan nomor 0176/GARUDA/MNGR/2018 itu, mobil dan sepeda motor bisa diambil tanggal 11 November 2018 di Kantor Garuda Indonesia di Bandara Ngurah Rai.

Tapi sayang, saat korban ke kantor untuk menukar poin tersebut, pihak Garuda Indonesia menyatakan tidak pernah mengadakan kerja sama apapun dengan terdakwa. Pihak Garuda Indonesia juga tidak pernah mengadakan penukaran poin hasil penjualan tiket. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment