Terdakwa Fani Fatima alias Siti Fatima alias Fani saat mendengarkan keterangan saksi di muka sidang. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Ibu Rumah Tangga (IRT) bernama Fani Fatima alias Siti Fatima alias Fani (28) yang tega menghajar anak kandung yang masih TK yang bernama Jusua hingga mengalami Luka-luka, Rabu (27/02/2012) diadili PN Denpasar.

Akibat perbuatannya, perempuan kelahiran Jember, Jawa Timur ini pun terancam hukuman maksimal lima tahun penjara. Sebab, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Made Ayu Citra Maya Sari menjerat terdakwa dengan Undang-undang perlindungan anak.

Yaitu Pasal 76c Jo Pasal 80 ayat (2), (4) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dalam sidang pimpinan Hakim Sri Wahyuni Ariningsi, jaksa Penuntut menghadirkan beberapa orang saksi. Salah satunya saksi anak korban. Di muka sidang, anak korban mengaku sering dipukili oleh terdakwa.

“Kenapa sering dipukuli sama ibu,”tanya hakim yang dijawab anak korban karena nakal. “apanya saja yang dipukul sama ibu,” tanya hakim lagi yang dijawab anak korban dibagikan kepala, tangan, kaki dan punggung.

Meski begitu, saat hakim bertanya kepada saksi anak apakah sayang dengan terdakwa (ibu kandungnya) anak korban menjawab sayang. Sementara terdakwa yang dimintai tanggapan soal keterangan anak korban, membenarkannya.

Bahkan terdakwa mengaku pernah melempar anak korban dengan menggunakan pisau yang mengakibatkan kaki anak korban mengalami luka.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan jaksa, kasus kekerasan yang dialami anak korban ini terjadi pada tanggal 29 Juni 2018 silam sekira pukul 22.00 Wita di tempat tinggal terdakwa di Jalan Pulau Bungin Gang IX Penataran Anyar Blok Falen Nomor 3, Denpasar.

Kejadian berawal saat anak korban berebut Hp segan anak Hasna yang juga merupakan anak kandung terdakwa di dalam kamar yang berujung anak korban menangis. Mendengar tangisan anak korban, terdakwa jadi naik pitam. Terdakwa semakin emosi karena mengetahui anak-anak belum juga tidur.

“Terdakwa memarahi anak korban dengan membentak,”sebut jaksa dalam dakwaanya. Tidak puas hanya dengan membentak, terdakwa menampar piki anak korban beberapa kali. Tidak hanya itu, terdakwa juga memukul kepala, wajah dan sekujur tubuh anak korban dengan menggunakan sapu lidi.

“Akibat pukulan itu, kepala anak korban mengeluarkan darah. Terdakwa baru berganti memukuli anak korban saat anak korban menangis dan mengatakan, sakit mah, ampun mah, sudah mah,”kata jaksa Kejari Denpasar itu.

Setelah puas memukuli anak korban, terdakwa lalu mengambil kapas dan membersihkan darah yang mengucur dari luka di kepala anak korban. “Kemudian terdakwa juga mengolesi minyak kayu putih ditangan anak korban yang merasa kesakitan saat disentuh oleh terdakwa,”pungkas jaksa.(pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment