Kondisi para pedagang di pasar relokasi, Kelurahan Pohon Bao, Larantuka (Flores Timur), Kamis (3/1). Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Walau terguyur hujan, para pedagang kecil yang memanfaatkan ruang sempit di pinggir jalan areal pasar relokasi kelurahan Pohon Bao, Larantuka (Flores Timur), tetap  menekuni aktivitasnya. Tak menghiraukan tubuh mereka yang kuyup, mereka tetap mengundang para pembeli yang lewat untuk membeli sayur, pisang, terung, dan jenis dagangan lainnya.

Sebagaimana yang disaksikan balinewsnework.com, Kamis,3 Januari 2019 pukul 09.25 Wita, beberapa diantaranya duduk terpaku  menjaga barang jualannya dengan hanya mengenakan mantel hujan tanpa penutup kepala. Ada yang berlindungkan payung. Pun pula ada  diantara pedagang yang mayoritas perempuan rentah itu hanya melindungi kepalanya dengan kantung kresek.

“Mau buat bagaimana lagi anak? Nasib kami sudah seperti ini. Kalau kami tidak jualan, dari mana kami dapatkan uang? Bagaimana kami membiayai anak sekolah dan mencukupi kebutuhan kami hari ini? Walau basah, kami tetap bertahan, mengharapkan agar barang jualan kami ini laku terbeli,” ujar mama Uba  (67) seraya mengisahkan duka mereka tersiram hujan.

Empat hari sudah, barisan perempuan rentah itu berjualan dalam guyuran hujan. Ketika hujan lebat yang diikuti dengan hantaman angin, mereka terpaksa berhimpitan di pinggir lapak-lapak pasar relokasi itu. Bak kambing mengepit payung, mata perempuan-perempuan rentah yang berasal dari Turbean, Beloaja, Waiwadan, Witihama, Hokeng itu, tetap mengawasi barang dagangan mereka. Bila ada pedagang yang menghampiri bentangan jualan mereka, terpaksa mereka pun  menyeroboti guyuran hujan dan angin, untuk melayani para pembeli. Sering pula kekecewaan itu menambah duka, tatkala  pengorbanan mereka berbasah kuyup tersebut tidak terbalaskan  oleh kebaikan pembeli. Namun semuanya itu dijalankan mereka dengan tabah sembari berharap untuk segera menikmati kenyaman  dibawah lindungan atap los pasar baru, hasil proyek pembangunan pasar yang  kini tak rampung-rampung itu. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment