Terpancing Emosi, Hakim Usir Wanita Inggris Penampar Petugas Imigrasi

Terdakwa Auj-E Taqaddas yang tak henti hentinya ngoceh di luar ruang sidang. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Majelis hakim PN Denpasar yang menyidangkan warga negara (WN) Inggris, Auj-E Taqaddas yang menampar petugas Imigrasi benar-benar dibuat emosi.

Bagaimana tidak, bule perempuan berbadan gempal ini tak henti-hentinya bersikap aneh dan berlebihan.

Bahkan, Auj-E Taqaddas mengatakan para petugas Imigrasi pantas mendapat tamparan darinya.

Dalam sidang, Jaksa Penuntut Unum (JPU) menghadirkan beberapa orang saksi. Saksi yang dihadirkan adalah pegawai Imigrasi di Bandara Ngurah Rai, yang salah satunya saksi korban, Ardyansyah.

Seperti biasa, usai saksi memberikan keterangan, majelis hakim pimpinan Esthar Oktavi bertanya kepada terdakwa apakah yang diterangkan saksi ada yang salah.

Sambil berdiri dan dengan nada sinis, terdakwa melalui penterjemahnya awalnya menjawab dia (korban) pantas mendapat tamparan itu.

Terdakwa yang terus ngoceh, akhirnya ditegur oleh hakim karena dianggap tidak sopan dalam persidangan. Tapi terdakwa malah ngotot, dan mengatakan petugas Imigrasi yang besaksi untuk dihukum.

“Anda boleh tidak terima, tapi anda harus paham bahwa anda didudukan di persidangan ada kasus adanya laporan tindakan kekerasan dan melawan petugas. Ngerti tidak anda, jika merasa keberatan, nanti ada kesempatan anda untuk bicara. Jika merasa benar silahkan buat laporan baru di kepolisian,” tegas hakim.

Namun terdakwa yang terlihat tidak puas terus ngoceh. Hal ini membuat hakim langsung ketok palu dan menghentikan sidang.

“Majelis hakim bisa saja membuat laporan bahwa anda telah menghina jalannya persidangan. Ingat ini hukum di Indonesia, anda harus mengerti itu. Silahkan anda keluar, sidang ditutup,” hentak hakim.

Bukanya takut, terdakwa malah terus ngoceh dan membuat majelis hakim semakin terpancing emosi. Dengan nada tinggi, hakim anggota Ageliky Handajani Day mengusir tersakwa dari ruang sidang.

“Saya minta terdakwa keluar dari ruang sidang sekarang juga,” usir Hakim Ageliky. Lagi-lagi terdekat malah cuek, sehingga majelis hakim langsung mengakhiri sidang.

Diberitakan sebelumnya, terdakwa diadili karena menampar petugas Imigrasi. Kejadian ini terjadi pada tanggal 28 Juli 2018 di raung pemeriksaan Imigrasi, Bandara Ngurah Rai.

Kasus ini berawal saat terdakwa Auj-E Taqaddas akan terbang ke Singapura, namun saat dilakukan pemeriksaan dukumen oleh petugas Imigrasi, diketaui bahwa terdakwa telah over stay (melebihi izin tinggal) selama 3 bulan.

Atas temuan itu, petugas bernama Bima membawa terdakwa ke ruang pemeriksaan. Sampai di ruang pemeriksaan, rekan Bima, yaitu Andhika Rahmad Santoso mengambil paspor milik terdakwa.

Kemudian saksi Andhika menyerahkan paspor terdakwa kepada Ardyansyah. Saat itu saksi Ardyansyah memberikan penjelasan bahawa terdakwa tidak bisa berangkat karena harus menjalani pemeriksaan.

Mendengar itu terdakwa marah-marah dan memaki serta mengeluarkan kata-kata kotor. Terdakwa berusaha merampas paspor yang dipegang oleh Ardyansyah, tapi tidak berhasil.

Karena tidak berhasil marampas paspornya, terdakwa langsung menampar pipi kiri Ardyansyah.

Tak hanya itu, terdakwa juga berusaha mengambil router wifi dan mengarahkan kearah Ardyansyah, namun bisa dihalangi.

Saksi Ardyansyah sendiri, saat ditampar sedang menjalankan tugas dan menjabat sebagai Assitant Supervisor pada uni A Imigrasi Ngurah Rai. Akibat perbuatanya, terdakwa dijerat dengan Pasal 212 ayat (1) KUP. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment