Nasib 7 ABK KM Multi Prima Belum Jelas , Keluarga Desak BASARNAS Pusat Turun Tangan

Philipus Kopong Beni Bahy. Semoga segera ditemukan. BNN/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Nasib ke-7 ABK Kapal Motor Multi Prima 01 yang tenggelam pada Kamis (22/11/2018) lalu hingga hari keenam ini belum jelas. Kepala Bagian Operasional Kantor SAR Mataram, Pak Selamet, yang dihubungi melalui jalur whatsapp, Rabu (28/11) sore mengatakan hasil pencarian masih nihil. Selamet meminta para keluarga korban untuk tetap bersabar.

“Untuk sementara hasil pencarian nihil pak, mohon bersabar,” jawab Selamet membalas whatsapp BNN.

Ketika didesak kenapa tidak melibatkan BASARNAS Pusat  dalam pencarian para korban, Selamet mengatakan, Standar Operasional Prosedur (SOP) BASARNAS sudah jelas mengatur soal ini, yakni melakukan operasi pencarian per wilayah. Dalam hal ini, upaya pencarian oleh Kantor SAR Mataram juga melibatkan para nelayan dan kapal yang sedang melintas di daerah tersebut. Apalagi operasi pencarian ini sudah “dimapelkan” melalui radio SROP (Stasiun Radio Pantai-red) yang dimiliki oleh syahbandar.

“SOP  kami sudah jelas, kami  sudah memiliki hirarki pak, tidak perlu menunggu hingga harus BASARNAS pusat yang harus turun tangan, jadi maksud saya di atas, kita memiliki potensi yang digerakkan otomatis pak, seperti nelayan, kapal yang melintas sudah memiliki jiwa SAR, jadi operasi ini sudah kami mapelkan melalui radio SROP yang dimiliki oleh syahbandar pak,” terang Selamet.

Meski begitu, pihak keluarga tentu tak bisa menunggu terlalu lama kejelasan nasib para korban, seperti disampaikan Gerardus Geo Pari, ayah kandung Philipus Kopong Beni Bahy yang dinyatakan hilang bersama keenam rekannya sejak KM Multi Prima tenggelam pada Kamis, 22 Nopember 2018 lalu di Pulau Kapoposan Bali, Lombok Utara

Dihubungi melalui telepon selularnya, Geo Pari yang pensiunan mantri di Puskesmas Waiwerang ini mendesak BASARANAS Pusat untuk segera turun tangan membantu pencarian ketujuh korban.

Philipus Kopong Beni Bahy bersama keluarganya

“Kami menghargai kinerja Kantor SAR Mataram dan semua tim yang telah membantu mencari anak kami tapi hingga hari keenam ini belum ada hasil, nasib anak kami tidak jelas. Karenanya kami mendesak BASARNAS Pusat agar segera turun tangan membantu mencari para korban. Kalau hanya mengandalkan tim pada Kantor SAR lokal, kami khawatir nasib anak kami makin tidak jelas. Lalu ke mana lagi kami mengadu?,” kata Geo Pari dari kampungnya, Desa Wato One, Kecamatan Witihama, Flores Timur, ketika dihubungi dari Bali.

“Kalau BASARNAS Pusat bisa turun tangan, melibatkan kapal pencari yang lebih besar, dan melibatkan personil lebih banyak serta digabung dengan tim SAR Mataram, kami yakin upaya bersama ini lebih maksimal,” lanjut Mantri Geo.

Philipus Kopong Beni Bahy (47 tahun) adalah anak pertama dari enam bersaudara, buah kasih pasangan Bapak Gerardus Geo Pari dan Ibu Maria Woli Nama (alm). Setelah maling melintang di beberapa kapal, sekitar 3 tahun lalu Philipus bergabung dengan KM Multi Prima 01 dengan jabatan sebagai chief engineer atau bas.

Philipus Kopong Beni Bahy menikah dengan wanita Jember,  Sri andayani (45 tahun) dan dikarunia dua orang anak perempuan. Anak pertama Maria Matilda Deran Songan (18 tahu)n baru saja tamat SMA. Anak kedua,  Eustasia Angel Salsaputri Bahy (9 tahun) yang sekarang duduk di kelas 3 SD.

Seperti diberitakan media massa, KM Multi Prima 01 yang membawa 14 ABK sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Waingapu, Sumba Timur, NTT tenggelam pada Kamis, 22 November 2018 sekitar pukul 18.00 Wita di Pulau Kapoposan Bali, Lombok Utara karena dihantam gelombamg setinggi 2 meter,  KM Multi Prima 01 yng memuatbahan bangunan itu sempat memberi sinyal bahaya dan segera ditangkap oleh KM Cahaya Abadi 201 yang sedang melintas di perairan Selat Bali.  KM Cahaya Abadi 2011 segera memberi pertolongan dan behasil menyelamatkan 7 ABK.

Ini ke-7ABK yang diselamatkan oleh KM Cahaya Abadi 201:

  1. Bob Chris Butarbutar (26) berasal dari Parapat Medan (second Officer),
  2. Rahmat Tuloh (27) berasal dari Lamongan (second enginer)
  3. Debiyallah Sastria (27) berasal dari Larantuka Flores. (Tidak dirinci)
  4. Zainal Arifin berasal (21) dari Larantuka Flores. (Tidak dirinci)
  5. Benyamin Henuk (34) berasal dari Larantuka Flores. (Tidak dirinci)
  6. Aldy Hidayat (18) berasl dari Makasar (cadet engine)
  7. Haji Jamaludin (20) berasal dari Larantuka Flores (koki)

Sedangkan ke-7ABK yang masih dinyatakan hilang, yakni:

  1. Syamsul Salda, (38) berasal dari Flores Timur (Chief)
  2. Tarsisius Atulolon atau Joi, (35) berasal dari Desa Puka One, Flores Timur (Nahkoda)
  3. Pande (67) berasal dari Jakarta (KKM)
  4. Riski, (26) berasal dari Kupang (Oiler)
  5. Sutrisno (57) berasal dari Sragen (Oiler)
  6. Soni Kancil (41) berasal dari Flores (Bosun)
  7. Philipus Bahy (43) berasal dari Desa Wato One, Flores Timur (Bas).

Informasi teranyar, salah seorang korban hilang yakni Riski sudah ditemukan dalam keadaan hidup. Namun seperti apa kondisinya, persisnya di mana dan pada waktu berapa Riski ditemukan, informasi ini belum bisa dikonfirmasi kepada pihak Kantor SAR Mataram. Kabag Ops Kantor SAR Mataram, Selamet, yang dikonfirmasi melalui jalur whatsapp, belum menjawab. (rsn)

 

Editor:  Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment