Gelapkan Rp 4,5 Miliar, Kakek 60 Tahun Dituntut 3 Tahun Penjara

Denpasar/BaliNewsNetwork-Seorang kakek berusia 60 tahun bernama Johann Suganda (60) yang diseret ke Pengadilan karena diduga melakukan tindak pidana penipuan den penggelapan senilai Rp 4,5 miliar, pada sidang, Senin (30/7) dituntut hukuman 3 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Ketut Hevy Yushantini dalam amar tuntutanya yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan Novita Riama menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tidak pidana penggelapan. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun,”sebut Jaksa Kejari Denpasar itu. Sementara terdakwa yang didampingi pengacara Shyarmila Thayeb dan Charlie Usfunan langsung mengajukan pembelaan secara lisan.

Inti dari pembalaan yang ajukan keusa hukum terdakwa itu adalah memohon agar majelis hakim menjatuhkan vonis/hukuman yang seringan-ringannya. “Kami tunda sidang pekan depan dengan agenda pembacaan putusan,”sebut hakim Novita.

Diberitakan sebelumnya, kasus yang membelit terdakwa ini berawal saat terdakwa menemui korban Ali Haris di Ali Haris Property pada tanggal 1 Maret 2014 silam.

Saat itu kepada korban, terdakwa menawarkan sebidang tanah yang disewanya untuk diover kontrak kepada korban. Terdakwa juga mengatakan tanah yang disewanya itu memiliki prospek yang bagus untuk dibangun vila dan perumahan.

Kemudian terdakwa bersama korban melihat lokasi tanah yang dimaksud yaitu di Umalas, Kerobokan, Badung.“Saksi korban sempat bertanya kepada terdakwa soal perizinan untuk membangun vila dan perumahan diatas tanah yang disewa terdakwa tersebut,”ungkap JPU.

Oleh terdakwa dijawab tidak ada masalah untuk pembangunan vila maupun perumahan. Terdakwa lalu mengatakan luas tanah yang disewanya itu adalah 4.175 M2. Tapi setelah dilakukan pengukuran ternyata luasnya hanya 3.360 M2.

“Saat itu terdakwa juga berjanji akan mengurus perijinan membangun vila dan perumahan,”sebut Jaksa Kejari Denpasar itu. Singkat cerita korban pun bersedia mengambil alih kontrak tanah tersebut dari terdakwa dengan nilai sewa Rp 8.835 miliar.

Korban lalu membayar uang sewa tersebut secara bertahap hingga mencapai Rp 4,5 miliar. Setelah itu korban bertanya kepada terdakwa terkait izin pembuatan vila dan perumahan yang terdakwa janjikan.

Namun terdakwa malah meminta saksi korban untuk membayar lunas nilai sewa tanah yang sudah mereka sepakati. Korban yang merasa curiga dengan gelagat terdakwa lalu meminta saksi Nasar Talib untuk mengecak apakah terdakwa benar mengurus izin yang dijanjikan.

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata terdakwa tidak pernah melakukan pengurusan perizinan yang dijanjikan. Dan parahnya lagi, sesuai dengan Perda Tata Ruang, sebagain tanah yang disewa terakwa itu tidak bisa dibangun perumahan atau vila karena masuk dalam kawasan Budi daya pangan.

Korban yang merasa tertipu lalu menghubungi terdakwa dan meminta kembali uang Rp 4,5 miliar yang sudah korban bayarkan kepada terdakwa.Tapi terdakwa malah menjawab tidak miliki uang. Akibat perbuatannya terdekat dijerat dengan Pasal 372 dan 378 KUHP.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment