Ratusan Warga Riangkroko Padati Kantor PN Larantuka, Aparat Perketat  Aanmaning

Tim Gabungan Keamanan (PN, Polres Flotim dan Kodim 1624 )sedang melakukan pemeriksaaan kepada warga Riangkroko, Kecamatan Tanjung Bunga dalam proses Aanmaning, di Kantor PN Larantuka, Jumat (27/7). Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Pelaksanaan Aanmaning  dari Pengadilan Negeri Larantuka terhadap pihak tergugat,Yohanes Begu Maran,dkk  pasca  upaya Peninjauan Kembali (PK) perkara sengketa ulayat  yang digugat oleh Stanis Kuda  Koten, dkk (Riangkroko ) ditolak, Jumat, 27 Juli 2018, berjalan dalam pengawalan ketat aparat keamanan. Ratusan warga Riangkroko,Tanjung Bunga yang diundang pihak PN Larantuka, diperiksa dengan teliti oleh  gabungan aparat  keamanan PN Larantuka,Polres Flotim dan Kodim 1624.

Sebagaimana yang disaksikan balinewsnetwork.com, di pintu masuk halaman kantor PN Larantuka,aparat keamanan melakukan pemeriksaan dengan metal detector seraya memberikan kartu  tanda  pengenal. Pemeriksaan  kembali terjadi di pintu utama kantor tersebut. Satu persatu warga Riangkroko diabsen dan diperiksa. Kondisi serupa pun terjadi dalam ruangan piket  menuju ruangan sidang. Absensi kembali dilakukan pihak Panitera sebelumWakil Ketua PN Larantuka,Right Man, SH, MH membuka  pertemuan Aanmaning tersebut.

Sembari memeriksa amar putusan persidangan  dari tingkat PN Larantuka, PT Kupang, Kasasi hingga PK, Right Man, SH, MH  secara tegas  memperjelas Aanmaning  tersebut.

“Berdasarkan keputusan PT, Kasasi dan PK maka bapa ibu bukan pemilik tanah dalam perkara ini. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah bapa ibu  harus tinggalkan tanah itu.Hari ini bapa, ibu diundang ke sini untuk diberitahukan, diperintahkan untuk tinggalkan tempat itu dengan sukarela. Harapan kami paling cepat 8 hari dari teguran ini, kalau tidak maka akan dilakukan pengosongan atau eksekusi oleh pengadilan,” tegas Wakil Ketua Pengadilan Negeri Larantuka  dengan terus menerus memberikan pencerahan kepada warga Riangkeroko atas tupoksi pengadilan sebagaimana amanat undang-undang.

Teguran (Aanmaning ) tersebut tidak membuat warga Riangkroko ciut dan mundur. Berapi-api para utusan yang berbicara dalam forum Aanmaning tersebut menyatakan sikap tidak akan meninggalkan tanah peninggalan leluhur mereka. Tidak ada isitlah mundur, mati mau demi mempertahankan tanah warisan lelehur mereka. (Emnir)

 

Editor :Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment