Terhindar dari Hukuman Seumur Hidup, Willy Malah Ajukan Banding

Abdul Rahman Willy alias Willy bin NG Leng Kong (BNN/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-Majelis hakim PN Denpasar pimpinan I Made Pasek, Senin (26/2) menjatuhkan vonis 20 tahun penjara terhadap Abdul Rahman Willy alias Willy bin NG Leng Kong.

Hakim dalam amar putusnya yang dibacakan dihadapan terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan terdakwa Willy atau yang akrab disapa Willy Akasaka terbukti bersalah melakukan tindak pidana pemufakatan jahat jual beli Narkotika.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI. No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Amar putusan hakim ini sama persis dengan tuntutan JPU Dewa Lanang Raharja dkk.

Dalam amar putusannya majelis menyatakan penyangkalan terdakwa terhadap BAP (berita acara pemeriksaan ) polisi tidak didasari dengan bukti yang kuat.

Bahkanhakim menyebut bahwa apa yang termuat dalam BAP adalah benar adanya dengan hadirnya penyidik sebagai saksi.

Yang mana saat memberi kesaksian, Saksi penyidik mengatakan termuat dalam BAP murni pernyataan terdakwa dan tidak ada unsur paksaan maupun tekanan.

Olehkarena itu hakim menganggap penyangkalan terdakwa Willy terhadap BAP tidaklah berdasar.

Selain itu dalam dalam amar putusnya, majelis juga beranggapan bahwa, antara terdakwa Willy dengan Budi Liman Santoso (terdakwa dalam berkas terpisah dan juga divonis 20 tahun penjara ) telah melakukan komunikasi terkait jual beli Narkotika sebelum Dedi Setiawan (terdakwa dalam berkas terpisah dan divonis 20 tahun) ditangkap polisi.

Hakim juga membenarkan apa yang sempat dikatakan terdakwa Willy bawa dia sempat menolak saat Budi Liman Santoso menghubunginya dan menawarkan kepadanya 19.000 butir pil ekstasi yang menjadi barang bukti tersebut.

“Tapi setelah dihubungi kembali terdakwa tidak menolak bagkan meminta sample kepada Budi Liman Santoso. Dengan demikian secara tidak langsung terdakwa Willy mengiyakan apa yang ditawarkan oleh Budi Liman Santoso,”tegas Hakim Made Pasek.

Dedy Setiawan, Iskandar Halim dan Budi Liman Santoso (BNN/dok)

Terkait pembelaan terdakwa Willy yang disampaikan melalui tim kuasa hukumnya yang menyebut kasus yang membelitnya adalah rekayasa, majelis menyatakan harus dikesampingkan karena tidak ada alasan yang mendasar serta bukti yang kuat bila kasus ini direkayasa.

“Dengan demikian sudah sepatutnya pembelaan yang disampaikan terdakwa melalui kuasa hukumnya disekesampingkan,”ujar Hakim.

Sebelum menjatuhkan putusan, majelis hakim terlebih dahulu membacakan hal yang memberatkan dan meringankan.

Yang memberatkan perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah yang sedang giat-giatnya memberantas peredaran gelap Narkotika.

Terdakwa sudah pernah dihukum dengan kasus yang sama, terdakwa berbelit-belit dalam memberikam keterangan.

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa sopan dalam persidangan, terdakwa sakit-sakitanak dan butuh perwatan yang lebih baik.

“Menjuhtukan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 20 tahun,”sebut majelis hakim.

Tak hanya itu, terdakwa Willy oleh majelis hakim juga divonis untuk membayar denda Rp 2 milliar. “Apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 4 bulan,”tegas Hakim Made Pasek dalam putusnya.

Usai mendengarkan putusan, Willy yang diberi kesempatan berkonsultasi dengan kuasa hukumnya langsung menyatakan banding.

“Demi Allah , saya tidak melakukan perbuatan ini. Saya menyatakan banding,”kata Willy dimuka sidang. Sedangkan JPU Dewa Lanang Raharja menyatakan pikir-pikir.

Sementara itu nasib baik berpihak pada Dedy Setiawan. Pasalnya terdakwa Dedy yang merupakan terdakwa yang paling pertama ditangkap dan disebut sebut sebagai pemilik 19.000 butir pil ekstasi ini divonis sama persis dengan Willy.

Pun dengan terdakwa Iskandar Halim dan Budi Liman Santoso yang juga divonis 20 tahun penjara. ketiga terdakwa oleh majelis hakim yang berbeda dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana percobaan pemufakatan jahat jual beli 19.000 butir pil ekstasi.

Beda halnya dengan Willy yang menyatakan banding atas putusan tersebut. Ketiga terdakwa melalui kuasa hukumnya masing-masing menyatakan pikir-pikir, begitu pula dengan JPU ketiga terdakwa tersebut.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment