Menganiaya Korban Sampai Babak Belur, Polsek Adonara Malah Bebaskan Para Pelaku

Kotban M.  Adi Suhendfa Lamablawa. BNN/IST

Larantuka/BaliNewsnetwork.com-Nasib malang menimpa M. Adi Suhendra Lamabelawa (27), warga RT 22, RW 10, Desa Watono One, Kecamatan Witihama FLores Timur. Tubuh anak muda tersebut babak belur bermandikan darah akibat keroyokan ke-13 warga sekampungnya, Senin (20/11) pukul 10.00 Wita. Sayangnya, para pelaku malah dibiarkan bebas berkeliaran setelah aparat Polsek Adonara sempat menahan mereka beberapa jam .

Kakak korban, Yulius Nama Lewa (37) kepada BaliNewsNetwork.com, Minggu (26/11)di rumah ‘pengugnsian’ mereka di Larantuka mengungkapkan penyesalan mereka terhadap gaya penanganan kasus iini oleh aparat Polsek Adonara yang tidak memberikan rasa aman dan rasa keadilan.

“Adik saya dipukul berdarah-darah oleh sekelompok orang dalam rumah kami. Bapak kami diseret keluar rumah oleh mereka. Kami laporkan peristiwa itu ke Polsek dan para pelaku itu sempat dibawa ke Polsek Adonara. Namun sayangnya mereka kembali dilepaskan dan datang mengancam kami lagi. Kami pertanyakan kenapa mereka dilepaskan begitu saja? Mereka menjawabnya bahwa itu hanyalah trik mereka (polisi). Kami sendiri tidak mengerti apa maksud dan bagaimana trik mereka (kepolisian) itu?.” ungkap Yulius kesal.

Senada Yulius, Yanuarius Lamabelawa pun menyesalkan tindakan aparat Polsek Adonara yang cendrung berpihak pada pelaku pengroyokan salah satu anggota keluarganya itu.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, demikianlah Yanuarius melitanikan penderitaan yang dialami oleh keluarganya .

“Adik kami tiba-tiba didatangi oleh pelaku pengroyokan dan menganiayanya hingga berdarah dan pingsan. Kok, bukannya menyikapi laporan keluarga korban, namun malah melepaskan para pelaku sehingga mereka kembali datang mengancam dengan membawa parang dan tombak segala? Memangnya tugas kepolisian membela para pelaku? Kami minta pihak Polres Flotim untuk menangani kasus ini sampai tuntas,” pinta Yanuarius Lamabelawa.

Sementara itu korban pengroyokan M. Adi. Suhendra menguraikan, dirinya kaget ketika para pelaku datang ke rumahnya pada Senin (20/11) sekitar pukul Wita dan menanyakan ihkwal postingannya di facebook.

Dia bingung dengan pertanyaan tersebut dan meminta mereka untuk menunjukkan status yang dimaksud mereka itu.Sembari mengklarifikasi postingan yang dimaksud mereka, tiba-tiba dirinya mendapat serangan dari salah seorang pelaku dan diikuti oleh pelaku lainnya.

“Ternyata status itu ditulis oleh kembar saya, dan saya hanya menyambar beberapa komentar. Baik status kembaran saya dan komentar saya, kami tidak menyebut nama mereka dan pihak lainnya. Ketika sedang menjelaskan itu, tiba-tiba seorang dari mereka langsung mengarahkan pukulan tepat ke mata saya dan diikuti oleh mereka yang lain. Bertubi-tubi pukulan mereka itu membuat saya pingsan. Ketika sadar, saya melihat mama saya membersihkan darah yang meleleh di lantai,” tutur M.Adi.Suhendra sembari menegaskan dia dan keluarganya sama sekali tidak mengerti akar persoalannya.

Karena terus mendapat ancaman dari para pelaku, mereka lalu mengungsi ke Larantuka dan akan melaporkan peristiwa ke Polres Flotim. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment