Cabuli Anak Dibawah Umur,  I Ketut KS Divonis 7 Tahun Penjara

Ilustrasi (bnn/pro)

Denpasar/BaliNewsNetwork-I Ketut KS (44), terdakwa kasus dugaan pencabulan anak dibawah umur akhirnya dijatuhi hukuman pidana penjara selama 7 tahun oleh Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada Kamis (15/11).

Dalam putusannya, Majelis hakim diketuai Esthar Oktavi menilai terdakwa terbukti bersalah melakukan tindakan pidana persetubuhan dan pencabulan terhadap anak secara berlanjut.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 76D jo Pasal 81 ayat 2 UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI NO.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo Pasal 64 ayat 1 KUHP dan Pasal 76E Pasal 82 ayat 1 UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI NO.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain dihukum penjara terdakwa oleh majelis hakim juga dijatuhi hukuman denda sebesar 100 juta rupiah subsider 2 bulan penjara.

Dalam pertimbangan hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, bersikap sopan selama persidangan serta telah ada perdamaian antara terdakwa dan anak korban.

“Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa tersebut menimbulkan penderitaan bagi anak korban dan bertentangan dengan norma agama dan norma masyarakat,” tegas ketua Hakim saat membacakan amar putusannya.

Atas putusan itu, terdakwa yang didampingi pengacara Benny Hariyono menyatakan menerima. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ika Lusiana Fatmawati yang sebelumnya menuntut hukuman 10 tahun penjara menyatakan pikir-pikir.

Dalam dakwaan JPU, menyebutkan bahwa terdakwa sudah melakukan perbuatan bejatnya terhadap korban berinisial NLCD sejak tahun 2015 hingga 2017.

Mulanya, korban yang merupakan keponakan terdakwa dan tinggal sepekarangan rumah dengan terdakwa sedang mandi di kamar mandi.

Terdakwa kemudian memaksa masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil gambar korban yang dalam keadaan telanjang dengan mengunakan kamera Handphone.

Terdakwa kembali melakukan perbuatan bejatnya. Pada malam hari sekitar pukul 00.00 wita, saat rumah dalam keadaan sepi dan seisi rumah sudah tidur.

Terdakwa masuk ke kamar korban kemudian menelanjangi dan menyetubuhi korban yang sudah tidur pulas. Korban sempat sadar dan melakukan perlawanan.

“Korban berusahan melawan, namun terdakwa mengancam dengan berkata siep gen, de ngelawan, nah men sing nyak, nyak sing ngurusin men gelem (diam saja,jangan melawan kalau kamu tidak mau, saya tidak akan mengurus kalau kamu sakit,” beber JPU.

Perbuatan terdakwa ini terus berlanjut hingga April 2017.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment