Kupang/BaliNewsNetwork-Kuasa hukum, terpidana kasus penipuan tiket promo online, Rosca Leonita Riwu Kaho menyebut hakim PN Kupang, Fransiska Dari Paula Nino telah melakukan pelanggaran kode etik, yang membuat keputusan tidak sesuai aturan.

Fransiska dinilai melanggar keputusan MK Nomor 21 Tahun 2015. Kuasa hukum bahkan siap melaporkan majelis hakim ke Komisi Yudisial. “Kami sesalkan sikap majelis hakim yang membuat keputusan yang merugikan klien kami,” ujar Ketua tim Kuasa Hukum, Simson Lasi SH.,MH kepada wartawan, Rabu (23/8/2017).

Penetapan tersangka harus memenuhi dua unsur yakni, adanya bukti permulaan dan pemeriksaan terhadap calon tersangka. Ironisnya, Rosca Leonita klien belum pernah diperiksa, tetapi sudah ditetapkan sebagai tersangka. “Yang kami sesalkan hakim tidak mempertimbangkan hal tersebut dan kami menganggap sebagai salah satu pelanggaran kode etik,” tegas Simson.

Amos Lafu, salah satu kuasa hukun terpidana menambahkan, hakim sebagai corong undang-undang, seharusnya tidak boleh melakukan pelanggaran terhadap aturan yang ditetapkan. Sebagai kuasa hukum, kata Amos, tidak mempunyai maksud lain, selain hanya ingin menegakan keadilan agar tidak ada prilaku sewenang-wenang dari penegak hukum, karena semua warga negara sama kedudukannya di mata hukum.

“Dalam kasus ini, kami merasa adanya kejanggalan, karena sebelumnya kasus ini sudah ditangani oleh Polda NTT, namun ditangani juga oleh Polsek Oebobo Kupang. Nah, ini seharusnya jadi pertimbangan majelis hakim,” imbuh Amos. Sebelumnya, Rosca Leonita Riwu Kaho ditangkap jajaran reskrim Polsek Oebobo di rumahnya di kelurahan Naikoten, Kota Kupang, Kamis (24/8/2017). Rosca ditangkap atas kasus dugaan penipuan tiket online.

Kapolsek Oebobo, AKP Fajar Virgantara mengatakan, pelapor atas nama Muzes Mecky Widson Panie yang merupakan ketua Paduan Suara Haleluya Choir GMIT Maranatha Oebufu melaporkan penipuan tiket online.

“Tim paduan suara harusnya berangkat tour rohani ke Malang. Mereka sudah bayar Rp 64 juta untuk 50 orang dan rencana berangkat tanggal 22 Juli sampai tanggal 24 Juli 2016. Tapi waktu mau berangkat, tidak dapat tiket,” ujar Fajar, Kamis (24/8/2017) dilansir Pos Kupang. Atas kejadian ini, pihak paduan suara kemudian melapor ke Polsek Oebobo. “Mereka buat laporan tanggal 5 Juli 2017. Dan hari ini kita jemput paksa dia karena sudah dua kali mangkir dari panggilan polisi,” ucap Fajar. (Amar Ola Keda)

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment