Pasar Larantuka Proyek Terburuk di Flotim – Padahal Dibangun Dengan Dana Pusat Rp 9 Miliar

Kondisi bangunan pasar Larantuka yang dibangun dengan dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2016.  Foto diambil Selasa (18/7). BNN/Emnir

Larantuka/BaliNewsNetwork-Mega proyek pembangunan pasar Larantuka dengan memanfaatkan dana Tugas Pembantuan Pusat senilai  Rp 9.441.541.000  di Tahun Anggaran 2016 merupakan proyek terburuk yang ada Flores Timur. Proyek ini dikerjakan oleh PT Jaflorindo Utama.

Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli dalam sidaknya bulan lalu bahkan tak bisa membendung emosinya tatkala menyaksikan fisik proyek yang telah melewati tahapan provisional hand over (PHO)  tanggal 13 Januari 2016 itu.

Belum dipakai, gagang pintu sudah lepas

Belum dipakai, gagang pintu sudah lepas

Menyaksikan langsung aneka ornament yang dibangun dengan kualitas yang sangat memprihatinkan, Wabup Agus Boli tanpa tendeng aling-aling mendesak pihak Inspektorat Daerah Flotim untuk segera melakukan investigasi.

Wabup Agus Boli bahkan mempersilahkan institusi penegak hukum untuk masuk menelusuri kenyataan yang terjadi di balik  misteri patah berpilin kuda-kuda serta penyangga kuda-kuda dan terbongkarnya seng dari atapnya yang semuanya berkonstruksikan baja ringan tersebut.

Hempasan badai  pada 5-9 Pebruari 2017 silam yang membuat rusak beberapa komponen atap bangunan berlos itu  rupanya dijadikan  sebagai ‘berkat’ untuk menutup penyimpangan lainnya.

Pernak-pernik instalasi listrik, pintu toilet, pintu dorong atau rolling door pada sejumlah ruangan, serta retak berpisahnya beberapa komponen dinding pada sejumlah titik bangunan itu  yang menambah deret  keburukan mega proyek hadiah Pemerintah Pusat tersebut, sengaja ditutup  rapat dengan argumentasi force majeur.

Salah satu sisi bangunan retak

Salah satu sisi bangunan retak

Alhasil, masa pemeliharaan pun tidak mendatangkan perubahan apa-apa pada fisik bangunan pasar itu selain pagar tembok di bagian belakang bangunan tersebut. Dan masa pemeliharaan itu pun telah selesai. Proses PHO pun telah dilaksanakan. Namun ketika mengitari seluruh bagian bangunan itu pada Selasa (18/7), masih terlihat untaian instalansi listrik  yang lapuk, rapuh dan patah. Baik pipa penutup kabel, saklar dan meteran kebanyakan telah keropos, patah  dan terlepas dari tempelannya.

Demikian pula gagang pintu pada pada sejumlah  kamar  toilet  tidak menampakkan keutuhannya lagi. Di beberapa sisi bangunan terlihat retakkan tembok menganga yang memisahkan sambungan tembok di sebelahnya.

Bupati Flores Timur Anton Hadjon, ST yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (18/7) mengaku berat untuk menerima hasil pekerjaan tersebut. Karena masih berstatus milik pusat, maka  masih menjadi kewenangan pusat.

“Karena belum diserahkan ke Pemda Flotim  maka masih menjadi aset pusat. Ketika diserahkan ke Pemda Flotim pun kita harus pastikan semuanya dalam keadaan baik,” tegas Bupati Anton Hadjon. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment