Sambut Pagi dengan Menyaksikan Uniknya Tradisi Penyambutan Tamu di Maumere

Tradisi unik menyambut tamu di Maumere. Foto: bnn/amar ola keda.

Sikka/BaliNewsNetwork-Nusa Tengggara Timur (NTT) kaya akan budaya yang secara turun-temurun diwariskan oleh para leluhur. Kekayaan budaya tersebut tampak pada berbagai ritual adat masyarakat NTT, salah satunya yakni tradisi masyarakat di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT dalam menyambut tamu pada acara-acara pemerintahan maupun seremonial lainnya.

Tamu yang datang ke Sikka, akan diterima dengan tarian penyambutan, dalam bahasa daerah sikka, yakni Soka Papak yang artinya tari pengawalan atau penyambutan. Tarian ini sejak zaman kerajaan dulu, digunakan untuk menyambut raja atau ratu yang datang mengunjungi daerah-daerah di wilayah Sikka.

Seperti disaksikan wartawan beberapa waktu lalu di Hotel Sao, Kelurahan Waiara. Tarian ini digelar untuk menyambut kedatangan Bupati Sikka dalam acara pelantikan pengurus Asita.

Foto: bnn/amar ola keda.

Acara penyambutan kedatangan Bupati Sikka dalam acara pelantikan pengurus Asita. Foto: bnn/amar ola keda.

Bupati bersama beberapa pejabat lainnya disambut dengan  tarian Soka Papak. Upacara penyambutan tamu dilanjutkan ritual adat Huler Wair.

Ritual Huler Wair menggunakan media daun dan air kelapa. Daun yang digunakan adalah daun Huler dimana merupakan nama satu jenis pohon yang ada di Sikka yang pada musim panas atau hujan, daun pohon tersebut selalu tumbuh subur. Sementara air kelapa merupakan lambang kemurnian dan kesejukan karena air kelapa merupakan air yang steril tidak terkontaminasi oleh apapun.

Ketua Sanggar Tari Doka Tawa, Kletus Beru, menjelaskan, tujuan dari ritual tersebut adalah untuk menjaga tamu agar dibebaskan dari segala macam marah bahaya.

“Kita percaya bahwa setiap kita yang hadir di sini bersama dengan leluhur kita, oleh karena itu sebelum memulai acara papun kita harus terlebih dahulu menyapa leluhur kita dengan menggunakan ritual Huler Wair agar acara yang kita laksanakan mendapat dukungan dari mereka,” jelas Kletus.

Sanggar Tari yang didirikan oleh Karolus Djawa, Alm sejak tahun 1990 itu giat melestarikan budaya masyarakat Sikka khusus dalam bidang seni tari dan ritual adat.

“Kami selalu mengedepankan keaslian budaya yang kita miliki, mulai dari tari-tarian sampai alat musik yang kami pakai menggunakan material yang masih alami, seperti  bambu, kulit hewan, dll,” ungkap Kletus.

Menurut Kletus, karena keaslian, keunikan dan keindahan tarian serta ritual adat yang dilestarikan, Sanggar Tari Doka Tawa yang diasuhnya sering diundang keluar daerah seperti ke Bali, Jakarta, Batam, bahkan ke Hotel-hotel.

“Ini merupakan salah satu cara kami untuk melestarikan budaya kita agar tetap eksis di wilayah Sikka ini,” tutup Kletus. (amar ola keda)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment