Pengamanan Nyepi di Bali, Pecalang Garda Terdepan

Perwakilan dari Majelis Madya Kota Denpasar, Agung Sudiana (kiri) bersama Wakapolresta Denpasar AKBP I Nyoman Artana (kanan). Foto: bnn/sid.

Badung/BaliNewsNetwork-Mewaspadai berbagai kerawanan yang terjadi saat menjelang Nyepi hingga puncaknya Nyepi, pecalang di Kota Denpasar menjadi ujung tombak terdepan dalam menjaga keamanan di masing-masing desa pakraman.

Perwakilan dari Majelis Madya Kota Denpasar, Agung Sudiana mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi terkait peran pecalang saat moment Nyepi. Menurutnya, saat moment Nyepi, pecalang berada di garda terdepan ikut mengawal perayaan mulai dari rangkaian Melasti, Ngembak Geni hingga perayaan ogoh-ogoh.

“Peran pecalang di kegiatan Nyepi dia utama terdepan karena di sini ranahnya agama Hindu dengan adatnya. Karena dia bagian dari adatnya pecalang perannya lebih diutamakan,” kata Sudiana usai simakrama bersama ratusan pecalang dan bendesa adat di wilayah hukum kota Denpasar, Selasa (21/3/2017).

Diamini Wakapolresta Denpasar AKBP I Nyoman Artana, bahwa dalam pelaksanaan pengamanan, para pecalang akan dikedepankan sehingga ada persamaan persepsi dalam pelaksanaan pengamanan Nyepi.

“Nyepi ini berlangsung setiap tahun dan walaupun kita sudah siapkan segala sesuatunya namun terkadang ada hal yang terjadi dan harus kita sikapi dan tangani bersama. Rangkaian pelaksanaan Nyepi yang diawali dengan Melasti, saya harapkan dalam pelaksanaannya nanti dapat ditata dan diatur proses pelaksanaannya sehingga jangan sampai terjadi kesalahpahaman, dan saya harapkan nanti peran aktif para pecalang dalam pengamanan rangkaian Melasti kita kedepankan dan dengan koordinasi dan kerjasama dengan kepolisian sehingga semua dapat berjalan dengan aman dan lancar,” paparnya.

Usai Melasti, kata Artana, dilanjutkan dengan pengerupukan yang diisi dengan budaya pengarakan ogoh-ogoh yang jumlahnya sangat banyak dan di Denpasar jumlahnya mencapai 1.121 ogoh-ogoh dan sesuai dengan kebijakan dari Pemkot Denpasar tidak menyelenggarakan lomba ogoh-ogoh, namun dipusatkan di desanya masing-masing.

“Saya tekankan disini agar para pengusung ogoh-ogoh tidak lagi diawali dengan minun alkohol serta musik pengiring jangan pakai musik disco dan sejenisnya karena hal ini akan dapat memicu keributan,” himbaunya.

Sudiana juga menambahkan, bahwa pihak Majelis Madya sudah mensosialisasikan kepada masing-masing desa adat terkait dengan pembuatan ogoh-ogoh yang boleh dan tidak boleh, larangan pemakaian mercon, larangan minum alkohol, larangan penggunaan musik selain gong/baleganjur serta pengaturan pengarakan ogoh-ogoh di weweidangan-nya masing-masing.

“Kami sudah mengeluarkan edaran untuk melarang menjual, meminum minuman keras. Karena itu kita kerjasama dengan kepolisian untuk mengantisipasi itu. Saat perayaan pemelisan ke laut sampai nanti pada malam pengerupukan atau ngarak ogoh-ogoh kami maksimal,” katanya.

Terkait penggunaan Handphone (HP) saat moment Nyepi, pihaknya mengaku sudah melakukan kesepakatan dengan PDHI dan MUDP bahwa saat Nyepi masyarakat boleh menghidupkan HP namun di-silent atau disembunyikan suaranya.

Selain itu, pihaknya juga sudah menyebarkan surat edaran dan seruan bersama dari PHDI dan MUDP bahwa Nyepi mulai pukul 06.00 Wita sampai pukul 06.00 Wita keesokan harinya. (sid)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment