Jelamu : Pemprov Tak Bisa Intervensi Tarif Hotel Nihiwatu

Kepala Disparekraf NTT, Marius Ardu Jelamu. Foto: bnn/amar ola keda.

Kupang/BaliNewsNetwork-Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Marius Ardu Jelamu mengatakan tarif menginap di Hotel Nihiwatu, Kabupaten Sumba Barat tidak bisa diintervensi pemerintah. Penetapan harga hotel tersebut berstandar internasional dan pembayaran menggunakan dolar AS.

“Meskipun tarif Hotel Nihiwatu dinilai mahal dan sulit dijangkau wisatawan lokal, harga itu tidak bisa diintevensi oleh pemerintah,” kata Jelamu saat dihubungi wartawan, Jumat (17/3/2017).

Jelamu mengakui, tarif kamar Hotel Nihiwatu permalam kamar berkisar dari 650 dolar AS (Rp 8,5 juta) untuk One Bedroom, Villanya hingga 12.000 dollar AS setera dengan Rp 157 juta untuk Five Bedroom Estate sulit dijangkau wisatawan domestik pada umumnya.

Nihiwatu

Hotel Nihiwatu. Foto: bnn/amar ola keda.

“Memang dinilai mahal namun mengenai tarif kan masing-masing hotel punya kebijakan dan strategi manajemen untuk promosi dan bagaimana keberdaan hotelnya,” tegas Jelamu.

Menurutnya, walau mahal namun sebagian besar pendapatan yang diraup manajemen hotel tersebut juga didonasikan untuk pemberdayaan masyarakat setempat.

“Ini perlu diingat meskipun mahal tapi uang itu dikembalikan lagi ke masyarakat karena 70 – 80 persen dana CSR (Corporate Social Responsibility) disalurkan untuk berdayakan masyarakat di Sumba,” katanya.

Dia mengatakan, Hotel Nihiwatu telah terpilih sebagai hotel terbaik nomor 1 dalam ajang “World`s Best Travel Awards 2016″ mengalahkan deretan hotel bergengsi lainnya di dunia seperti di Australia, Selandia Baru, AS, Cile.

Menurutnya, terpilihanya Nihiwatu sebagai hotel terbaik bukan semata berhasil memadukan keindahan alam, kemewahan, dan kearifan budaya lokal, namun hotel tersebut dinilai telah berhasil menyerap tenaga kerja lokal dan memberdayakan masyarakat setempat.

“Sekitar 90 persen tenaga kerja di Nihiwatu merupakan masyarakat lokal atau lebih dari 400 orang dengan gaji pokok untuk kelas pelayan hotel berkisar dari Rp 4 – 5 juta,” katanya.

Jelamu mengatakan, bagi wisatawan domestik, tarif inap Nihiwatu mungkin sangat mahal karena umumnya wisatawan hanya melihat nilainya tanpa mengetahui bagimana manajemen hotel mengelola uang tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Ini dilihat sebagai sesuatu yang istimewa dari orientasi investor membangun hotel tersebut, tidak hanya keuntungannya tapi banyak juga untuk pemberdayaan masyarakat melalui Yayasan Sumba,” katanya.

Dia menambahkan, meskipun begitu, tidak semua wisatawan domestik sulit menjangkau tarif tersebut karena banyak orang-orang kaya dari berbagai kota juga menggunakan fasilitas hotel tersebut.

“Walaupun mahal dan kesannya hanya untuk orang-orang mampu tapi hotel itu tetap ramai dipesan oleh wisatawan baik domestik maupun asing,” ujarnya. (amar ola keda)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment