Bupati Sikka Ingatkan Pentingnya Toleransi dalam Kebhinekaan

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera. bnn/yunusatabara

Maumere/BaliNewsNetwork-Dalam menghadapi kondisi negara dewasa ini perlu ditanam dan ditingkatkan toleransi dalam sebuah kebhinekaan. Toleransi bukan saja di bidang agama tapi juga di bidang sosial.

“Kalau semua orang menyadari maka kenyamanan NKRI akan tercipta dan tetap utuh. Oleh karena itu buku Post Sekularisme Toleransi dan Demokrasi yang yang ditulis oleh Pater Dr. Otto Gusti Madung perlu mendapat apresiasi dari semua pihak,”  Drs. Yoseph Ansar Rera, Bupati Sikka saat membuka  kegiatan bedah buku Post Sekularisme Toleransi dan Demokrasi karya Pater Dr. Otto Gusti Madung di Aula Nawacita Universitas Nusa Nipa, Maumere, Jumat (24/2/2017)pagi.

Selain mengapresiasi buku tersebut harus menjadi pegangan serta pedoman bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya masyarakat Sikka dalam menjaga sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Di mana dalam kehidupan di masyarakat berbaur dari semua suku, etnis, ras dan agama.

Bupati Sikka menyampaikan  peristiwa 411 dan 212 yang terjadi beberapa waktu yang lalu menjadi diskusi hangat sampai dengan saat ini terkait tolerannsi yang mengancam persatuan serta demokrasi kita sedang mengalami ujian. Presiden Joko Widodo, kata Bupati Ansar, dalam pidatonya mengatakan demokrasi saat ini sedang kebablasan dan itu ditanggapi oleh pakar  hukum tata Negara Demokrasi bukan keblabasan tapi memang Indonesia sedang belajar berdemokrasi

“Kalau demikian menjadi pertanyaan apakah kita sedang belajar demokrasi? Demokrasi Pancasila yang kita miliki sejak negara ini berdiri, dimana dalam demokrasi Pancasila itu mengutamakan musyawarah mufakat, bukankah nilai musyawarah untuk mufakat, yang disepakati oleh para pendahulu kita justru digali dari bumi Indonesia sendiri dari budaya yang hidup dalam masyarakat Indonesia,” kata Ansar Rera

Menurut Ansar Rera di Kabupaten Sikka, dikenal dengan nama kula babong (musyawarah mufakat).Kula Babong menjadi salah satu spirit yang merupakan sarana demokrasi yang hidup di  Sikka yang menanamkan nilai toleransi dan nilai tanggung jawab setiap orang kepada keutuhan bangsa dan negara.

“Dalam Kula Babong semua warga masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapat, mendengar dan menghargai pendapat orang lain tapi keputusannya menuntut tanggung jawab dalam pelaksanaannya,”  jelas Ansar Rera.

Sementara itu  Ketua Badan Semi Otonom PMKRI Kabupaten Sikka Cabang Maumere St. Thomas Morus yang diwakili oleh Oby da Gomez dalam sambutannya menyampaikan bahwa  PMKRI  Cabang Maumere St. Thomas  melihat karya Pater Dr. Otto Gusti Madung ini sangat relevan dan layak dibedah dan didiskusikan secara bersama.

Dia berharap,  masalah yang mengancam Negara Bhineka Tunggal Ika yang sementara terjadi dapat dimengerti dengan baik dalam mencari solusi yang tepat.

Kagiatan  bedah buku  karya Pater Dr. Otto Gusti Madung ini terselenggara atas kerja sama antara Badan Semi Otonom PMKRI Kabupaten Sikka Cabang Maumere St. Thomas Morus, Program Studi Komunikasi Universitas Nusa Nipa, Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka, STFK Ledalero  dan Yayasan Sanres.

Hadir dalam kesempatan itu sesepuh masyarakat Kabupaten Sikka Oskar Mandalangi Parera, mantan Anggota DPRD Sikka E.P. da Gomez, Wakil Rektor 1 Dr. Gery Gobang, MA., Pater Dr. Otto Gusty Madung serta Ratusan Mahasiswa Unipa, IKIP Muhamdyah dan STFK Ledalero. (yun)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment