Kasat Reskrim Polres TTS Dipolisikan Keluarga Terlapor – Diduga Rekayasa Laporan Polisi

Iptu Dewa Gede Aitya, Kasat Reskrim Polres TTS. bnn/ist

Kupang/BaliNewsNetwork- Setelah dilaporkan oleh Brigadir Polisi Rudi Soik pada Rabu pagi 1 Februari 2017 lalu, Kasat Reskrim Polres Timor Tengah Sselatan (TTS), Iptu I Dewa Gde Aditya kembali dilaporkan keluarga terlapor, Okran Tasoin di Polda NTT, Jumat (10/2/2017), sekitar pukul 07.00 Wita.

Pantauan wartawan, keluarga terlapor, Okran Tasoin mendatangi Mapolda NTT didampingi kuasa hukum, Erik Mamo, SH. Mereka diterima dua anggota polisi di bagian SPKT.

Okran Tasoin mengatakan, dia menduga Aditya selaku Kasat Reskrim dan sejumlah anggota polisi telah merekayasa pembuatan laporan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilaporkan Serli Haguar Maubanu (30), warga desa Noenoni, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS untuk proses penyidikan. Kasus KDRT itu sendiri sudah dilaporkan setelah tiga bulan kejadian.

“Serli melaporkan suaminya Markus Tasoin pada 3 Oktober 2016 dengan nomor laporan: LP/213/X/2016/RES TTS dan sekarang dinyatakan P21. Anehnya, mereka mengubah tanggal laporan seolah-olah kejadiannya baru saja terjadi.

Selain itu, hasil visum juga diduga direkayasa karena masa kejadiannya sudah tiga bulan, tetapi tanda kekerasan kok masih ada,” ujar Okran kepada wartawan, Jumat 10 Februari 2017.

Menurut Okran, kuat dugaan Aditya cs telah memalsukan laporan polisi Sherli itu karena ada dua laporan dengan tanggal berbeda yang ditemukan. Namun kemudian laporan itu diubah menjadi : LP/213/VIII/2016/RES TTS tertanggal 29 Agustus 2016 sebagai dasar proses hukum kasus tersebut ke pengadilan.

Laporan aslinya, kata dia, adalah laporan tanggal 3 Oktober 2016 karena sesuai dengan buku register laporan di SPKT. Sementara laporan yang tanggal 29 Agustus 2016 itu dia menduga kuat palsu.

“Mana mungkin laporan tanggal 3 Oktober, tapi sprindik dan visumnya tanggal 29 Agustus?” jelas Rudi.

Kasiaga SPKT Polda NTT AKP Matheus Anus, SH mengatakan, kasus ini sudah dilaporkan juga oleh Brigpol Rudi Soik ke Polres TTS, sehingga pihaknya menganjurkan untuk dicek proses penanganan laporan tersebut.

“Kami anjurkan ke sana karena objek laporannya sama, kecuali di Polres TTS tidak memproses laporan itu,” ujar Matheus.

Sementara itu Erik Mamo mengatakan, kliennya mengetahui dugaan rekayasa itu sejak menerima salinan dakwaan dari kejaksaan. Dalam BAP juga ditambahkan bahwa pelaku memotong kaki korban, pada hal pelaku hanya menampar korban.

“Ada Sprin dengan nomor yang sama tetapi tanggal pembuatan berbeda, pelaku juga dalam dakwaan disebut memotong kaki korban,” jelas Erik.

Kasat Reskrim I Dewa Gde Aditya yang dikonfirmasi wartawan, Jumat 10 Ferbuari 2017 mengaku siap menghadapi proses hukum terhadap laporan baik Brigpol Rudi Soik maupun keluarga Tasoin. Bahkan dia mempersilakan laporan polis itu jika mempunyai bukti kuat.

“Kalau memiliki bukti silahkan saja melapor. Saya siap menghadapinya,” ujar Aditya. (Amar Ola Keda)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment