Kepsek Cabul Terancam Dipecat dari PNS

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera memberi keterangan pers soal Kepsek Cabul Drs. Susar. bnn/yunus atabara

Maumere/BaliNewsNetwork-Kepala Sekolah SD Wutik Drs. Susar yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Sikka dalam kasus pencabulan terhadap siswanya sendiri, sudah dinonaktifkan sebagai Kepala Sekolah SD Wutik. Selain itu sesuai dengan PP 53 yang mengatur tentang sanksi PNS, yang bersangkutan terancam dipecat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Selain sanksi hukum positif sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, maka yang bersangkutan sebagai PNS akan mendapatkan sanksi, seperti dinonaktifkan dari jabatannya, pemotongan gaji setelah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pidana maka dilakukan pemotongan gaji sebesar 25 persen dan setelah yang bersangkutan divonis di atas dua tahun maka yang bersangkutan akan diproses untuk diberhentikan dari PNS.

Hal itu dikatakan Bupati Sikka, Drs, Yoseph Ansar Rera, di sela-sela acara pelantikan 721 pejabat eselon IV lingkup pemerintah Kabupaten Sikka di aula Mardiwiyata Frateran BHK Maumere, Rabu (18/1/2017) siang.

“Saat ditetapkan sebagai tersangka, maka yang bersangkutan sudah diganti dari jabatan sebagai kepala sekolah. Saat ini kita berkoordinasi dengan penyidik kepolisian untuk mendapat surat keterlibatan yang bersangkutan dalam suatu tindak pidana. Nanti kalau sudah divonis, kita akan lihat sesuai ketentuan dan bisa diberhentikan dari PNS,” kata Bupati Sikka Ansar Rera.

Menurut Ansar Rera, perbuatan Drs. Susar sudah mencoreng nama lembaga pendidikan di Kabupaten Sikka. Hal ini menurut Bupati Ansar sangat berpengaruh kepada anak didik terutama kepada korban yang tentunya mengalami perubahan mental dalam tumbuh kembang anak.

Secara terpisah Koordinator Perempuan dan Anak Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (Truk-F) Suster Estochia meminta kepada penyidik kepolisian dan juga inspektorat Kabupaten Sikka untuk mengusut tuntas perbuatan pelaku cabul di SD Wutik.

Selain itu Truk-F juga meminta polisi untuk mengembangkan keterangan saksi korban yang mengakui bahwa  padatahun 2016 masalah itu sudah dilaporkan oleh korban kepada 3 ibu guru namun didiamkan sampai perkara itu terbongkar.

“Truk-F meminta polisi periksa 3 orang ibu guru yang sudah mendapat pengaduan dari anak anak yang jadi korban, tetapi oleh ibu guru tersebut didiamkan hingga 2017. Ini sangat tidak baik sebagai pendidik,” kata Suster Estochia. (yun)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment