Agus Tewas Tabrak Pick Up Parkir

Ilustrasi. Foto: balinewsnetwork/ist.

Tabanan/BaliNewsNetwork— Muhamad Agus (43) warga asal Banjar Tunggal Sari, Kampung Jawa, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, tewas mengenaskan setelah menyalip Avanza dari sebelah kiri kemudian menabrak pantat  mobil Pick Up parkir, Minggu (15/1/2017).

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 09.00 Wita di jalur tengkorak jurusan Denpasar – Gilimanuk tepatnya di Banjar Dadakan, Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, Tabanan juga mengakibatkan korban luka parah.

Kapolsek Kediri Kompol I Nyoman Sumarajaya membenarkan peristiwa tersebut. Dikatakanya, korban Muhamad Agus yang membonceng ibu kandungnya Siti Budiarti (65)  mengendarai yamaha mio soul  DK 7628 HH datang dari arah barat Tabanan menuju Denpasar. Sesampainya di lokasi kejadian dengan kecepatan tinggi, Muhamad Agus hendak menyalip kendaraan jenis Avansa yang tidak diketahui identitasnya. Saat itu Avansa yang disalip ada didepanya dan menyalip dari jalur kiri. Sehingga ia tidak mengetahui ada mobil Pick Up tanpa muatan milik I Putu Sutama, asal Banjar Puseh, Desa/Kecamatan Kediri Tabanan yang terparkir di sebelah kiri jalan. Tabrakan pun tidak bisa dielakan. Korban mengalami pendarahan dari hidung dan mulut serta ada luka robek di bagian leher. Sedangkan yang dibonceng Siti Budiarti mengalami patah tangan kiri dan bencolan di bagian kepala. “Keduanya kemudian dilarikan ke BRSU Tabanan,” jelasnya.

Setelah mendapatkan perawatan medis, korban Agus tidak bisa ditolong, ia meninggal dunia akibat luka yang cukup parah. Semetara itu, ibunya sudah sadarkan diri setelah mendapatkan perawatan di UGD BRSU Tabanan.

Istri korban, Desa Putu Artini (40) tidak menyangka suaminya meninggal secepat itu. Ia mengetahui kejadian tragis itu setelah ditelpon oleh keluarganya yang menyebutkan kalau suaminya berada di rumah sakit. Ia kaget dan langsung pergi ke rumah sakit Tabanan ingin mengetahui keadaan suaminya. Meski tidak rela dengan kepergian suaminya, ibu dua anak dari Mengwi Badung ini berusaha tegar menerima kenyataan hidup itu dengan tegar. “Rasanya saya tidak percaya dengan semua ini,” katanya lirih. Ia bersama kedua anak kembarnya yang masih duduk di bangku SD, terus bercuruan air mata. (ram)

Editor: Ni Ketut Budiantari

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment