Jatuh Cinta dengan Larantuka, Manager Duta Café Gairahkan Industri Rumah Tangga

Natalia Andhisty, bos Duta Café Larantuka. Foto: balinewsnetwork/eman niron

Larantuka/BaliNewsNetwork.com -Tak terbayangkan oleh dirinya bila akhirnya perempuan manis nan jelita, kelahiran Jogjakarta, 25 Desember 1980 ini jatuh cinta dengan Larantuka. Rahmat 2014 menghantar si paras cantik Natalia Andhisty itu menginjakkan kakinya di kota Renya Larantuka.

Terperangah akan tampilan ibu kota Kabupaten Flores Timur  yang berjuluk kota Bunda Maria, Natalia demikian si cantik itu biasa disapa itu menemukan kekayaan alamiah yang muncul dari perjumpaannya dengan penduduk kota Larantuka.

Toleransi antarumat beragama yang sangat mesra di balik kisah Pieta Mater Dolorosa yang anggun berdiri, membuatnya hanyut dalam permenungan.

Luar biasa Larantuka, begitulah kenyataan baru yang dialaminya di kota kembar Fatima, Portugal itu. Aura kerukunan yang terpancar dari keramahan penduduk Lamaholot menggerakan nuraninya untuk membuatnya  terus berada bersama mereka.

natalia-andhisty-bos-duta-cafe-larantuka-1Potensi alam yang terlihat oleh pemilik mata nan manja itu lantas  menorehkan kata I love Larantuka dalam hatinya. Mencoba mengakrabkan diri dengan menu lokal khas Lamaholot, Flotim, menambah daya pikatnya akan Larantuka itu. Dari situlah  Duta Café pun dirintisnya untuk merekatkan persaudaraan dengan orang Lamaholot.

“Aku alergi membaca dan mendengar celotehan bila NTT disebut dengan sebutan miskin. Larantuka disebut miskin, padahalnya terbalik. Kenyataannya NTT terkhususnya di Flotim sangat kaya dengan potensi alamnya. Ketika aku mengenal Larantuka, aku langsung tergerak untuk menjadikan Larantuka sebagai Serambi Renya–Serambi oleh-oleh khas Flotim, baik berupa hasil industri kerajinan tangan  maupun makanan khas Flotim,” tutur Natalia sambil memperkenalkan makanan khas Duta Cafe, Tonu Wujo.

Tidak saja membeli  hasil pertanian milik warga lalu mengolahnya menjadi aneka kuliner (makanan dan minuman sehat) Natalia bahkan meninggalkan tempat kerjanya untuk turun ke desa-desa, melatih para ibu rumah tangga untuk mengolah makanan dan kerajinan tangan yang berkualitas sebagaimana kehendak  pasar.

Hal ini sebagaimana yang telah dijalankannya bersama beberapa Kelompok Pengusaha Industri Rumah Tangga .Di Kelurahan Sarotari,  Natalia melatih mama Ayu membuat kripik yang bermutu pasar. Ny. Sukmawati di Kelurahan Larantuka diajarinya mengolah stick sayur dan bolu shorgum. Di Blepanawa, si jelita Natalia melakukan pendampingan kepada om Polus untuk menekuni dunia kerajinan anyaman Bambu.

Sementara untuk kain tenun, Natalia harus menyeberang ke Adonara dan Riangkemie untuk menularkan ilmu bisnisnya pada Ny. Lis Molan. Tak berhenti di situ, khusus untuk roti dan jajanan pasar, Natalia harus membagi waktunya untuk bersama mama Ina di Oka, Waibalun.

natalia-andhisty-bos-duta-cafe-laratuka-2Demikian pula khusus emping jagung, wanita cantik asal jogja itu menggenjot bu Kristin di Sarotari. Serta Kue rambut aneka rasa, seperti rasa coklat, rasa nenas, difokuskan  binaannya di desa Lewolaga.

“Saya senang melatih mereka, dan senang melihat mereka sukses. Semua hasil olahan mereka, saya beli dan pasarkan di sini,” ujarnya, seraya memperlihatkan berbagai produk olahan warga binaannya.

Nah bagi yang hendak meninggalkan kota Larantuka, ,jangan ragu untuk mencari oleh-oleh khas Flotim. Datanglah di Duta Cafe. Tak susah menjangkaunya. Berada dalam kawasan Gedung Multi Event Hall-OMK, Sarotari, Larantuka, pengunjung bisa menikmati aneka sajian makanan khas Flotim serta minuman herbal dan membawa pulang pernak-pernik kekayaan budaya Flotim lainnya. Duta Cafe, serambinya oleh-oleh khas Lamaholot, Flotim. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment